#sayzpt
Di bawah lampu jalan yang kedipnya kayak lagi mikir,
aku berdiri sok keren, padahal sendal beda kiri kanan.
Angin malam berbisik,
tapi yang kedengeran malah tukang bakso lewat.
Katanya aku anak nakal,
emosi naik turun kayak sinyal LTE pas hujan.
Tangan penuh bekas luka kecil,
hasil duel epik…
lawan pagar kawat waktu lompat kabur.
Aku pernah mau jadi penyair,
tapi keburu diajak tawuran sama kenyataan.
Batu beterbangan seperti meteor,
tapi lebih sering kena temen sendiri.
Malam ini aku menatap langit,
merenung dalam…
“besok sarapan apa ya?”
Hidup keras, katanya.
Tapi lebih keras lagi
bangunin temen yang pingsan habis lari dari satpam.
Begitulah kami,
anak-anak setengah berandalan, setengah bingung.
Galau iya,
tapi tetep ketawa
walau dilempar sendal emak dari jarak jauh.
Kadang aku pikir hidup ini puisi,
tapi puisinya ditulis pakai spidol permanen
di tembok warung yang salah.