Каталог каналов Мои подборки Мои каналы Поиск постов Рекламные посты
Инструменты
Каталог TGAds Мониторинг Детальная статистика Анализ аудитории Бот аналитики
Полезная информация
Инструкция Telemetr Документация к API Чат Telemetr
Полезные сервисы

Не попадитесь на накрученные каналы! Узнайте, не накручивает ли канал просмотры или подписчиков Проверить канал на накрутку
Прикрепить Телеграм-аккаунт Прикрепить Телеграм-аккаунт

Телеграм канал «Serambi 'Ulama»

Serambi 'Ulama
8.4K
0
1.2K
828
12.6K
✍️Menghubungkan Ummat kepada pewaris para nabi
Radio Serambi Ulama Ambon di aplikasi radio Manhajul Anbiya
/@serambiulama?livestream=6ecb7eeb63c329975

Pembina: Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman
Al-Ustadz Ibrahim Waliulu
Подписчики
Всего
2 798
Сегодня
0
Просмотров на пост
Всего
225
ER
Общий
7.59%
Суточный
4.9%
Динамика публикаций
Telemetr - сервис глубокой аналитики
телеграм-каналов
Получите подробную информацию о каждом канале
Отберите самые эффективные каналы для
рекламных размещений, по приросту подписчиков,
ER, количеству просмотров на пост и другим метрикам
Анализируйте рекламные посты
и креативы
Узнайте какие посты лучше сработали,
а какие хуже, даже если их давно удалили
Оценивайте эффективность тематики и контента
Узнайте, какую тематику лучше не рекламировать
на канале, а какая зайдет на ура
Попробовать бесплатно
Показано 7 из 8 367 постов
Смотреть все посты
Пост от 25.06.2026 06:59
1
0
0
KEADAAN MANUSIA PADA HARI 'ASYURA

Samahatul Walid Al-'Allamah Shalih Al-Fauzan -hafizhahullah- berkata :

Pada hari 'Asyura, manusia terbagi menjadi tiga golongan:

1⃣ - Kaum muslimin yang berpuasa pada hari itu; sebagai bentuk syukur kepada Allah atas pertolongan terhadap kebenaran, dan sebagai bentuk mengikuti dua nabi yang mulia, Musa dan Muhammad 'alaihimas salam, serta untuk mengharapkan pahala.

2⃣ - Kaum Rafidhah, mereka bersedih pada hari itu dan menampakkan kesedihan serta kegelisahan dengan keyakinan mereka terbunuhnya Al-Husain radhiyallahu 'anhu di hari itu. Mereka menangis, memukul diri mereka dengan rantai, meratapi dan merintih, berteriak-teriak, serta menyiksa diri mereka sendiri karena kesedihan atas Al-Husain radhiyallahu 'anhu sebagaimana yang mereka klaim.

3⃣ - Dan di antara kaum muslimin ada yang bergembira pada hari ini, menyebutnya sebagai hari raya, melapangkan nafkah untuk keluarganya, dan menampakkan berbagai bentuk perayaan seperti berhias dan selainnya; dan ini adalah bid'ah.

🔰 Dan kedua kelompok ini, yakni :
⛔️ Orang-orang yang bersedih padanya.
⛔️ Dan orang-orang yang bergembira padanya.
Keduanya sama-sama keliru dan ahli bid'ah.

✅ Adapun orang yang berpuasa pada hari itu dan bersyukur kepada Allah atas nikmat ini, maka dialah golongan pertengahan yang berada di atas sunnah, walhamdulillah.

🔊 Sumber: (Rekaman audio)
🔗 Tautan kanal Telegram:
https://t.me/fawayidalfawzan⁠�

[ أحوال الناس يوم عاشوراء ]
قال سماحة الوالد العلامة صالح الفوزان - حفظه الله-:
في يوم عاشوراء افترق الناس إلى ثلاث فرق :
1⃣ - المسلمون يصومونه؛ شكراً لله على نصرة الحق، واقتداء بالنبيين الكريمين
موسى ومحمد عليهما السلام، و اغتناماً للأجر
2⃣ - والرافضة يحزنون فيه ويُظهرون الحزن والجزع بزعمهم على مقتل الحسين رضي الله عنه - فيبكون، و يضربون أنفسهم بالسلاسل، وينعون وينوحون، ويصرخون ويعذبون أنفسهم حزناً على الحسين - رضي الله عنه - كما يدّعون.
3⃣ - ومن المسلمين من يفرح في هذا اليوم يسميه يوم عيد ويوسع على عياله، ويظهر بمظاهر العيد بالزينة وغير ذلك؛ وهذا بدعة.
🔰 وكلا الطرفين:
⛔️ الذين يحزنون فيه
⛔️ والذين يفرحون فيه
كلاهم مخطئون ومبتدعون.
✅ أما من يصومه ويشكر الله على هذه النعمة فهو الوسط الذي على السنة والحمد لله.
🔊المصدر: (مقطع صوتي)
🔗رابط القناة على التيليجرام :
https://t.me/fawayidalfawzan
Пост от 25.06.2026 01:51
2
0
0
Qodarullah wa maasya fa'ala kajian rutin KITAB MASAILUL JAHILIYAH pekan ini diliburkan, demikian informasi ini kami sampaikan dan ucapan jazakumullahukoir wa barakumullahufiik
Пост от 24.06.2026 02:03
1
0
0
MENGAPA RASULULLAH ﷺ TIDAK PERNAH PUASA TASU'A ?

🚩 Tatkala Rasulullah ﷺ datang ke kota Madinah beliau bertanya tentang alasan kaum Yahudi berpuasa di hari asyura', ternyata hari tersebut merupakan hari dimana Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil dari Firaun, maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku lebih berhak mengikuti Musa". Beliau pun berpuasa di hari itu dan memerintahkan para shahabat untuk berpuasa.

*Lalu mengapa beliau ﷺ tidak berpuasa tasu'a saat itu?*

Baca selengkapnya:
https://t.me/AhlussunnahTernate/2990
Пост от 23.06.2026 13:02
1
0
0
Sedang Berlangsung

Kajian Rutin Ahlussunah Kota Ambon


🏷 DARS USUL TSALATSAH
🎙️ Pemateri:
Al-Ustadz Abu Zaid Adi حفظہ الله تعالــﮯ

🕌 Masjid Nurut Tauhid Kebun Cengkeh Ambon
Maps: https://maps.app.goo.gl/3eUYwD3bkD4QWpRd6

🗓  Waktu : Ba'da Maghrib
Selasa, 09 Muharam 1448 H/23 Juni 2026 M

Simak melalui Chanel telegram
https://t.me/serambiulama
Пост от 23.06.2026 00:37
2
0
0
بسم اللّه الرّحمن الرّحيم

Dengan mengharap ridha Allah Subhanahu wa ta'ala

📢 Simak dan Hadirilah Kajian Rutin Islam Ilmiah Ahlusunnah Kota Ambon

Insya Allah Malam ini

📘 Dars
Kitab Syarah Usul Tsalatsah

🎙️ Pemateri:
Al Ustadz Abu Zaid Adi حفظه الله


🗓 Hari: malam Rabu, 8 Muharram 1448 H
23 Juni 2026 M

⏰ Waktu:
Ba'da Maghrib ( 18.50 WIT)- Selesai

🏡 Tempat:
Masjid Nurut Tauhid Kebun Cengkeh Ambon
Maps: https://maps.app.goo.gl/3eUYwD3bkD4QWpRd6

Nb: himbauan kepada Ikhwan diantara adab terhadap ilmu adalah agar hadir lebih awal

🛜 Live streaming:
LIVE Telegram :
https://t.me/serambiulama?livestream=6ecb7eeb63c329975

🌺 Semoga bermanfaat. Aamiin.

Baarakallahufiikum
Пост от 22.06.2026 15:41
1
0
0
Sebagian orang ada yang begitu dermawan dalam menyumbang berbagai kebaikan. Namun kadang ia lupa dengan prioritas yang harus ditunaikan. Ada yang banyak bersedekah pada fakir miskin, tapi ia lupa zakat. Misalkan ia seorang pedagang dengan toko yang omzetnya besar dan terkena nishob dan haul, tapi ia lalai dari membayar zakat perdagangan tiap tahunnya. Atau ada orang yang begitu dermawan untuk hal-hal lain, tapi kurang perhatian memberi nafkah yang layak bagi istri dan anak-anaknya. Kondisi demikian adalah termasuk kesalahan yang semestinya diperbaiki.

Seorang kaya yang dermawan juga tidak boleh memiliki perasaan ujub dan bangga diri. Ia harus terus menjaga sikap hatinya bahwa harta yang ia miliki adalah harta pemberian Allah. Jika Allah tidak anugerahkan kepadanya, ia tidak akan memilikinya. Ia juga merasa pada hartanya terdapat hak orang lain. Saat ia mengeluarkannya di jalan Allah, itu bagian dari kebutuhan dirinya. Bukan karena Allah butuh kepadanya. Ia juga tidak merasa berbangga diri karena merasa punya andil besar pada dakwah Islam. Karena kalau bukan dia yang terlibat dalam hal itu, Allah akan dengan begitu mudahnya gantikan orang lain yang berkontribusi bagi dakwah. Setiap muslim hendaknya menyadari bahwa pada hakikatnya ia begitu butuh untuk terlibat dalam dakwah Islam ini, bukan dakwah Islam yang membutuhkan dia. Karena dakwah Islam, dakwah Ahlussunnah, adalah milik Allah.

Teladan besar bagi orang-orang kaya yang dermawan adalah para Sahabat Nabi ridhwanullaahi alaihim ajma’in. Begitu banyak dana dan bantuan yang dikucurkan Sahabat Utsman bin Affan untuk kepentingan perjuangan Islam. Seperti membebaskan sebagian tanah untuk perluasan Masjid Nabawi. Membeli sumur Ruumah agar bisa dimanfaatkan kaum muslimin. Bertubi-tubi kucuran dana kebaikan mengalir dari Utsman.

Bahkan, saat akan diberangkatkannya pasukan perang Tabuk, Utsman mendonasikan bantuan yang jumlahnya sangat besar. Sampai-sampai Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda:

مَا ضَرَّ عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ اليَوْمِ

Tidak akan memudaratkan Utsman, apapun yang dia lakukan setelah hari ini (beliau mengucapkan 2 kali) (H.R atTirmidzi, dihasankan Syaikh al-Albaniy)

Apakah setelah mendapat jaminan dari Nabi shollallahu alaihi wasallam itu Utsman berhenti berdonasi? Padahal sangat layak bagi beliau untuk berhenti mengucurkan kedermawanannya, karena Nabi sudah memastikan: Apapun yang dilakukan Utsman setelah hari itu tidak akan memudaratkannya?

Sedangkan kita, yang belum dapat jaminan apakah dosa kita diampuni, apakah kita sudah pasti masuk surga? Belum ada jaminan! Yang ada adalah perjuangan yang berlanjut dan terus berharap ampunan dan rahmat Allah Azza Wa Jalla. Apakah pantas kemudian seseorang menyatakan dalam dirinya: Saya sudah banyak nyumbang, sepertinya sudah cukup bagi saya!

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُلْ لَا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُمْ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: Jangan kalian merasa berjasa kepadaku karena keislaman kalian. Justru Allahlah yang begitu banyak kebaikannya kepada kalian dengan memberikan petunjuk kepada kalian hingga kalian beriman, jika memang kalian jujur (Q.S al-Hujurat ayat 17)

Syukran wahai para dermawan, jazaakumullaahu khayran. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan keistiqomahan kepada kalian di atas tauhid dan sunnah.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan rahmat, taufiq, pertolongan, dan ampunan-Nya kepada kita dan segenap kaum muslimin.

Penulis: Abu Utsman Kharisman

https://t.me/alitishombissunnah/1926
Пост от 22.06.2026 15:41
1
0
0
Bagaimana kalau di dalam suatu masjid diramaikan dengan berbagai kebid’ahan? Sungguh hal itu membuat sedih para Ulama Salaf kita.

Abu Idris al-Khulaaniy rahimahullah -seorang Ulama dari generasi Tabi’in yang lahir pada tahun terjadinya perang Hunain, seorang faqih dari negeri Syam- menyatakan:

لَأَنْ أَرَى فِي ‌الْمَسْجِدِ ‌نَارًا لَا أَسْتَطِيعُ إِطْفَاءَهَا ‌أَحَبُّ ‌إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَرَى فِيهِ بِدْعَةً لَا أَسْتَطِيعُ تَغْيِيرَهَا

Kalau seandainya aku melihat api di masjid yang tidak mampu aku padamkan, hal itu masih lebih aku sukai dibandingkan aku melihat di dalam masjid itu ada suatu kebid’ahan yang tidak mampu aku ubah (hilangkan)(riwayat al-Marwaziy dalam as-Sunnah, Ibnu Wadhdhoh dalam al-Bida’, al-Harawiy dalam Dzammul Kalaam, dan lainnya. Riwayat ucapan Abu Idris itu shahih dengan banyaknya jalur periwayatan).

Subhanallah, saat ini kalau manusia melihat api di masjid, mereka akan berusaha memadamkannya. Karena begitu besar mafsadah yang akan ditimbulkan. Namun berapa banyak orang yang berusaha untuk memadamkan kebid’ahan di masjid-masjid? Ataukah justru mereka ikut menyalakannya? Nas-alullaahal ‘Aafiyata wassalaamah.

Berinfaq untuk para penuntut ilmu Islam, juga begitu dianjurkan. Bahkan manfaatnya akan segera dirasakan oleh sang penginfaq. Bisa jadi karena infaqnya yang terus diberikan untuk kelancaran pengajaran ilmu agama Islam, hartanya diberkahi dan terus berkembang dalam kebaikan karena sebab itu.

Di masa Nabi shollallahu alaihi wasallam terdapat 2 orang laki-laki bersaudara. Seorang dari mereka sering mendatangi majelis Nabi shollallahu alaihi wasallam untuk menimba ilmu dari beliau. Sedangkan seorang lagi sibuk bekerja dan ia juga menafkahi saudaranya yang sibuk menimba ilmu itu. Orang yang sibuk bekerja ini mengadukan hal itu kepada Nabi, karena saudaranya lebih sibuk menuntut ilmu, tidak banyak membantunya bekerja. Namun justru Nabi shollallahu alaihi wasallam menjawab:

 لَعَلَّكَ ‌تُرْزَقُ ‌بِهِ

Bisa jadi engkau diberi rezeki (oleh Allah) dengan sebab dia (H.R atTirmidzi, al-Hakim, dinilai shahih sesuai syarat Muslim oleh adz-Dzahabiy)

Hadits ini menunjukkan bahwa rezeki yang Allah berikan kepada seseorang bisa jadi disebabkan karena orang lain. Juga menunjukkan keutamaan menuntut ilmu. Seseorang yang banyak membantu kebutuhan para penuntut ilmu, akan diberkahi rezekinya oleh Allah Azza Wa Jalla. Al-Imam Ibnu Abdil Barr meriwayatkan hadits itu dalam Kitab Jami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi dalam Bab Jaami’ fi Fadhlil Ilmi (Bab Kumpulan Keutamaan Ilmu).

Harta dan anak adalah ujian. Jangan sampai harta dan anak membuat kita lalai dari dzikir mengingat Allah, baik itu shalat, menuntut ilmu syar’i, ataupun ibadah-ibadah lainnya, terlebih yang wajib.

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya harta dan anak kalian adalah ujian. Sedangkan di sisi Allah tersedia pahala yang agung (Q.S atTaghobun ayat 15)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian, mereka itu adalah orang-orang yang merugi (Q.S al-Munafiqun ayat 9)

Syaikh Sholih al-Fauzan hafidzhahullah menyatakan: Seorang yang beriman mengumpulkan antara mencari harta, mengharapkan anak, dan mencari (kebahagiaan di) akhirat. Jangan jadikan seluruhnya untuk mencari dunia dan mengharapkan anak. Jangan pula meninggalkan dunia. Karena ia membutuhkan (urusan) dunia. Ia masih membutuhkan harta dan anak. Allah tidak mencela mencari harta dan mengharapkan anak. Yang dicela adalah apabila hal itu melalaikan dia. Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi memerintahkan mencari rezeki dan mengharapkan anak. Itu adalah bagian dari nikmat Allah. Yang tercela adalah jika hal itu membuatnya tersibukkan sehingga tidak bisa lagi menjalankan ketaatan kepada Allah Azza Wa Jalla (transkrip pelajaran ke-52 tafsir surah al-Munafiqun)
Смотреть все посты