⚠️ KAIDAH MANHAJIYYAH YANG SANGAT PENTING DALAM ILMU JARH WA TA'DIL
☝🏼 Al-Jarh (kritikan) yang dijelaskan secara terperinci didahulukan atas ta’dil (rekomendasi) yang samar. Namun orang-orang yang lemah keilmuannya justru bergantung pada pujian-pujian (tazkiyah), padahal ada jarh yang jelas terhadap seseorang. Wallahul musta'an.
🎙️ Fadhilatusy Syaikh al-'Allamah al-Imam al-Muhaddits Rabi‘ bin Hadi ‘Umair Al-Madkhaly -semoga Allah Ta'ala merahmati dan mengampuni beliau- berkata:
“Yakni, lemahnya ilmu itu akan menyebabkan seseorang terjatuh kepada hal-hal remeh seperti ini: ia berkata ‘Fulan berkata… fulan berkata…’.
Kita memiliki manhaj yang dapat membedakan antara ahlul-haq dan ahlul-bathil. Seandainya Ahmad bin Hanbal datang pada masa ini kemudian men-tazkiyah fulan dan fulan, lalu kita dapati bahwa orang tersebut sebenarnya tidak pantas menerima tazkiyah itu dari ucapan-ucapannya, perbuatannya, tulisan-tulisannya, dan kaset-kaset ceramahnya—apakah boleh bagi kita berpegang pada tazkiyah yang diberikan oleh Imam tersebut, seperti Ibnu Baz atau Al-Albani atau Ahmad bin Hanbal atau selain mereka?
Jarh itu didahulukan atas ta’dil. Jarh yang dijelaskan (mufassar) didahulukan atas ta’dil yang samar (mubham). Kaedah-kaedah ini wajib diterapkan dalam medan jarh wa ta‘dil.
Contohnya: suatu hari Syaikh Al-Albani pernah men-tazkiyah seorang fulan, kemudian tampak baginya bahwa orang itu tidak pantas ditazkiyah, maka beliau sebut dia sebagai khawarij.
Demikian pula Ibnu Baz, pernah men-tazkiyah beberapa orang (Fulan dan fulan), lalu jelas bagi beliau bahwa tazkiyah itu keliru, dan beliau mengatakan tentang mereka: ‘para da‘i kebatilan’.
Ahlul bathil muncul, lalu mereka menyebarkan tazkiyah dan mengubur jarh. Andaikan Ibnu Baz dan Al-Albani tetap mempertahankan tazkiyah itu sampai wafat, dan mereka tidak memiliki selain tazkiyah tersebut—apakah manusia wajib mengikuti tazkiyah itu? Apakah mereka harus memejamkan mata dan menutup akal mereka dari kesalahan fulan dan fulan yang pernah ditazkiyah oleh Al-Albani atau Ibnu Baz? Padahal kesalahannya jelas dan jarhnya jelas.
Apakah seorang Muslim boleh bergantung pada tazkiyah fulan dan fulan, sementara jarh terhadap orang yang diberi tazkiyah itu sudah jelas?
Orang-orang ini bergantung pada tokoh-tokoh ahli bid‘ah. Di antara mereka adalah Sayyid Quthb, mereka loyal dan memusuhi karena dirinya dan demi orang-orang seperti dia. Mereka menghasut massa, orang-orang awam, dan para pengikut yang serampangan untuk menyerang siapa pun yang mengkritik mereka dan menjelaskan kesesatan mereka. Ini adalah jarh yang sangat berbahaya.
Mereka menulis manhaj-manhaj dan buku-buku untuk memuliakan tokoh-tokoh tersebut. Ini adalah jarh yang sangat berbahaya.
Seandainya ada Ahlus Sunnah yang sadar, demi Allah, meskipun Ibnu Baz dan Al-Albani men-tazkiyah mereka, itu tidak akan bermanfaat bagi mereka selama mereka telah men-jarh diri mereka sendiri dengan sikap-sikap mereka, ide-ide mereka, dan manhaj-manahj yang menyimpang yang mereka tempuh dalam memerangi Ahlus Sunnah.
Mereka menghadang para ulama Ahlus Sunnah, menjelekkan mereka, membuat manhaj-manhaj, dan membuat para pemuda berani mencela serta memfitnah siapa saja yang mengkritik tokoh-tokoh kesesatan.
Sayyid Quthb adalah satu ‘umat’ dalam kesesatan. Ada orang yang menjadi ‘umat’ dalam petunjuk, dan ada pula yang menjadi ‘umat’ dalam kesesatan. Maka Sayyid Quthb adalah umat dalam kesesatan, ia menghimpun berbagai macam penyimpangan dari banyak arah: dari kaum Mu‘tazilah, Khawarij, Rafidhah, tasawwuf ekstrem pengusung wihdatul wujud, sosialisme, dan kesesatan-kesesatan lain yang ia penuhi dalam buku-bukunya dan dengannya ia menyesatkan para pemuda umat.
Maka siapa pun yang membela tokoh ini, loyal dan memusuhi karena dirinya, dan membuat manhaj untuk melindungi tipe-tipe seperti dia yang mengumpulkan berbagai bentuk kesesatan, bagaimana mungkin tazkiyah fulan dan fulan bisa bermanfaat bagi mereka? Di mana standar Islam? Di mana timbangan Islam?