💐📝HARTA YANG HAKIKI
Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan:
عَنْ مُطَرِّفٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم، وَهُوَ يَقْرَأُ: {أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ } [التكاثر: 1] قَالَ: "يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي مَالِي، قَالَ: وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ، فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ، فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ، فَأَمْضَيْتَ؟ "(رواه مسلم)
Dari Mutharrif dari ayahnya (Abdullah bin asy-Syikhkhir), ia berkata: "Aku mendatangi Nabi ﷺ ketika beliau sedang membaca: 'Al-haakumut-takaatsur' (Bermegah-megahan telah melalaikan kalian). Beliau bersabda: 'Anak Adam berkata: Hartaku! Hartaku!.' Beliau melanjutkan: 'Wahai anak Adam, tidakkah engkau sadari bahwa harta yang benar-benar milikmu hanyalah apa yang telah engkau makan lalu habis, apa yang engkau pakai lalu usang, atau apa yang engkau sedekahkan lalu engkau kekalkan (pahalanya)?'" (HR. Muslim).
✅Penjelasan Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
Nabi ﷺ membaca firman Allah Ta'ala: "Al-haakumut-takaatsur, hatta zurtumul maqaabir" (Bermegah-megahan telah melalaikanmu, sampai kamu masuk ke dalam kubur).
Maksudnya adalah menyibukkanmu hingga lupa akan kubur, kematian, dan apa yang terjadi setelahnya. Manusia tidak berhenti (menumpuk harta) dari dunia ini sampai ia mati.
Beliau ﷺ bersabda: "Hartaku, hartaku!" sebagai bentuk kebanggaan (dari orang yang mengucapkan demikian, pen). Padahal, harta milikmu hanyalah apa yang dimakan hingga habis, dipakai hingga usang, atau disedekahkan hingga kekal. Demikianlah sabda Nabi ﷺ dan kenyataannya memang seperti itu.
Manusia hanya memiliki tiga hal ini: makan/minum, pakaian, atau sedekah. Harta yang tersisa baginya hanyalah apa yang ia sedekahkan. Adapun apa yang dimakan dan dipakai: Jika digunakan untuk membantu ketaatan kepada Allah, maka itu baik baginya.
Apabila digunakan untuk kemaksiatan, kesombongan, atau keangkuhan, maka itu akan menjadi bencana baginya (wal iyadzu billah).
(Syarh Riyadhis Sholihin libni Utsaimin 3/376-377)
✅Penjelasan Syaikh Muhammad bin Ali bin Adam al-Ityubi
Terdapat beberapa faedah (pelajaran yang bisa dipetik) dalam hadits ini:
1. Tafsir Surah At-Takatsur: Hadits ini adalah rujukan utama dalam menafsirkan surah yang mulia ini. Meskipun para ahli tafsir berbeda pendapat dalam beberapa hal, pendapat yang paling valid adalah yang berlandaskan pada hadits ini.
2. Peran Sunnah terhadap Al-Qur'an: Hadits ini menjelaskan bahwa Sunnah berfungsi menjelaskan maksud dari ayat-ayat Al-Qur'an yang bersifat global (mujmal). Jika ada berbagai pendapat ulama mengenai makna suatu ayat, kita harus melihat apa yang tertuang dalam Sunnah (perkataan maupun perbuatan Nabi). Kita mendahulukan Sunnah di atas segala kemungkinan makna bahasa lainnya, karena Allah telah menjadikan penjelasan kitab-Nya ada pada Rasulullah ﷺ melalui firman-Nya (yang artinya): "Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur'an agar kamu menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka" (QS. An-Nahl: 44).
3. Harta Hakiki: Harta manusia yang sesungguhnya adalah harta yang ia ambil manfaatnya selama hidup. Baik manfaat yang dirasakan secara langsung (seperti makan, minum, pakaian) maupun manfaat di masa depan (akhirat) seperti sedekah, silaturahmi, dan segala bentuk kebaikan.
Selain dari tiga hal di atas, harta tersebut adalah milik ahli warisnya. Ia tidak mendapatkan apa pun darinya, melainkan justru akan menanggung konsekuensinya: dihisab jika hartanya halal (dari mana didapat dan untuk apa digunakan?) dan disiksa jika hartanya haram. Kewajiban bagi orang yang berakal adalah memperhatikan detail-detail ini, karena penyesalan setelah segalanya terlambat adalah kerugian yang nyata.
Wallahu Ta'ala A'lam.
(al-Bahrul Muhiith ats-Tsajjaaj 45/55)
🇸🇦Naskah dalam Bahasa Arab