كانت العرب في الجاهلية يتوَقَّون الوقوع في الكذب حتى على عدوهم، ويرون أن هذا من أقبح القبائح، فكانوا أصحاب شرف حتى في خلافهم، فهذا أبو سفيان بن حرب لما كان كافرًا يقول: "فَوَاللَّهِ لَوْلَا الْحَيَاءُ مِنْ أَنْ يَأْثِرُوا عَلَيَّ كَذِبًا لَكَذَبْتُ عَنْهُ"، أما اليوم فإنك تجد الرجل يدَّعي السلفية بل ويلصق نفسه بالعلم والفضل وهو قد امتلأ كذبًا من أخمص قدميه حتى مفرق رأسه، والله المستعان
💥 Orang-orang Arab pada masa jahiliyah dahulu sangat berhati-hati agar tidak terjatuh dalam dusta, bahkan terhadap musuh mereka sekalipun. Mereka memandang bahwa hal itu termasuk keburukan yang paling buruk. Maka mereka tetap memiliki kehormatan, bahkan dalam perselisihan mereka.
Ini adalah Abu Sufyan bin Harb, ketika ia masih kafir, ia berkata:
“Demi Allah, seandainya bukan karena rasa malu bahwa mereka akan menisbatkan kepadaku kedustaan, niscaya aku akan berdusta tentangnya.”
Adapun pada zaman sekarang, engkau dapati seseorang mengaku sebagai pengikut salaf (salafi), bahkan menisbatkan dirinya kepada ilmu dan keutamaan, padahal ia telah dipenuhi dengan kedustaan dari ujung kaki hingga puncak kepalanya. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.
Ditulis oleh Syaikh Abu Muhammad Shalah Kantush Al-‘Adani حفظه الله