Sering terdengar ungkapan, "Umur hanya angka." Kalimat ini mungkin benar jika yang dimaksud adalah bahwa usia tidak menghalangi seseorang untuk terus belajar, berkarya, atau berbuat baik.
Namun, jika kalimat itu membuat seseorang lalai maka itu adalah anggapan yang berbahaya. Di sisi Allah, yang terpenting bukan sekadar panjangnya umur, tetapi bagaimana umur itu diisi dengan kebaikan.
Ketika segerombolan nenek-nenek berpose di depan kamera layaknya para foto model zaman kekinian. Glowing, muka persis tangki GL-Pro yang didempol demi menutupi bocor di sana sini. Maka bermunculanlah komentar "ternyata umur hanyalah angka". Wallahul musta'an.
Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan." (HR. at-Tirmidzi).
Allah juga berfirman,
"Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran." (QS. Al-'Ashr: 1–3).
Hakikatnya, umur bukan sekadar angka, tetapi hitungan yang terus berkurang menuju akhir kehidupan. Setiap hari yang berlalu bukanlah penambahan usia, melainkan pengurangan jatah hidup yang telah Allah tetapkan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda, "Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan, yaitu kematian." (HR. at-Tirmidzi dan an-Nasa'i).
Mengingat kematian bukan untuk membuat putus asa, tetapi agar hati segera sadar untuk memperbaiki diri.
Nabi ﷺ bersabda, "Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu." (HR. al-Hakim, dinilai sahih oleh sebagian ulama).
Semoga Allah menjadikan umur kita sebagai umur yang penuh keberkahan, dipenuhi ketaatan, dan diakhiri dengan husnul khatimah, amiin.
🎙️ Asy-Syaikh Muhammad ibn Shālih al-Utsaimin rahimahullah berkata:
المحافظة على صلاة الفجر وصلاة العصر من أسباب النظر إلى وجه الله عز وجل، ويا لها من قيمة عظيمة! حافظ على صلاة الفجر، وصلاة العصر تنظر إلى وجه الله يوم القيامة في جنات النعيم
❝Menjaga shalat Subuh dan shalat Ashar termasuk sebab seseorang dapat melihat wajah Allah 'Azza wa Jalla. Betapa agung nilainya! Jagalah shalat Subuh dan shalat Ashar, niscaya engkau akan melihat wajah Allah pada hari Kiamat di surga-surga kenikmatan.❞
🎙️ Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
بشر المشائين في الظلم إلى المساجد، بالنور التام يوم القيامة.
❝Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan menuju masjid dalam kegelapan, bahwa mereka akan memperoleh cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.❞
🪶 Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbãd hafizhahullah berkata:
قوله: (في الظلم) يعني: في حال الظلام وفي شدة الظلام، وهذا إنما يكون في الفجر وفي العشاء؛ ولهذا جاء أن هاتين الصلاتين هما أثقل الصلاة على المنافقين، وفيهما ما فيهما من النصب؛ ولهذا فإن الذهاب إلى المساجد في شدة الظلام فيه هذا الثواب العظيم من الله عز وجل.
Yang dimaksud dengan sabda beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, “dalam kegelapan”, yaitu ketika suasana gelap atau sangat gelap. Hal ini biasanya terjadi pada shalat Subuh dan Isya. Oleh karena itu, disebutkan bahwa kedua shalat ini adalah shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik. Karena adanya kesulitan tersebut, berjalan menuju masjid di tengah gelapnya malam memiliki pahala yang sangat besar dari Allah 'Azza wa Jalla.
MEMINTA KEKOKOHAN DALAM BERPEGANG DENGAN KALIMAT TAUHID
🎙️ Al-Imãm Ibnu Taymiyyah rahimahullah berkata:
نسأل الله العظيم أن يثبتنا بـالقول الثابت في الحياة الدنيا وفي الآخرة وأن يرزقنا الإعتصام بالكتاب والسُنـّة.
❝Kita memohon kepada Allah Yang Maha agung agar meneguhkan kita dengan ucapan yang teguh di kehidupan dunia dan di akhirat, serta mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah.❞
📚 Majmū‘ al-Fatāwā (4/75)
Yang dimaksud dengan "ucapan yang teguh" (القول الثابت) adalah kalimat tauhid "Lā ilāha illallāh" beserta keimanan yang kokoh di atasnya.