🎙️ Al-Imãm Abu Hãtim Ibn Hibban rahimahullah berkata:
الواجب على العاقل أن يأخذ مما عنده لما بعده من التقوى والعمل الصالح بإصلاح السريرة ونفي الفساد عَن خلل الطاعات عند إجابة القلب وإبائه فإذا كان صحة السبيل في إقباله موجودا أنفذه بأعضائه وإن كان عدم وجوده موجودا كبحه عنها لأن بصفاء القلب تصفو الأعضاء.
❝Wajib bagi orang yang berakal untuk mempersiapkan bekal bagi kehidupan setelah kematiannya, berupa ketakwaan dan amal shãlih. Hal itu dilakukan dengan memperbaiki hati, membersihkan kerusakannya, serta memperhatikan keadaan hati ketika menerima atau menolak ketaatan.
Apabila hati sedang condong kepada kebaikan dan jalan menuju ketaatan terbuka, hendaknya ia segera menggerakkan anggota badannya untuk beramal. Namun jika keadaan itu tidak ada, hendaknya ia menahan dirinya dari perkara yang merusak. Karena dengan bersihnya hati, anggota badan pun akan menjadi baik.❞
🎙️ Al-Imãm Abu Hãtim Ibn Hibbãn rahimahullah berkata:
العاقل يدبر أحواله بصخة الورع ويمضى لسانه بلزوم التقوى لأن ذلك أول شعب العقل وليس إليه سبيل إلا بصلاح القلب
❝Orang yang berakal mengatur kehidupannya dengan perisai wara‘ dan menjaga lisannya dengan ketakwaan. Karena hal itu merupakan cabang pertama dari akal yang sempurna. Dan tidak ada jalan menuju hal tersebut kecuali dengan baiknya hati.❞
الفرق بين الزُّهد والورع، أنَّ الزُّهد: ترك ما لا ينفع في الآخرة، والورع: ترك ما يخشى ضرره في الآخرة.
❝Perbedaan antara zuhud dan wara‘ adalah:
Zuhud: meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi akhirat.
Wara‘: meninggalkan sesuatu yang dikhawatirkan akan membahayakan akhirat.❞
🎙️ Al-Imãm Ibrahim al-Nakhai rahimahullah berkata:
إن الرجل ليتكلم بالكلام ينوي فيه الخير فيلقي اللَّه في قلوب العباد حتى يقولوا مَا أراد بكلامه هذا إلا الخير وإن الرجل ليتكلم بالكلام الشر لا ينوى فيه الخير فيلقى اللَّه في قلوب الناس حتى يقولوا مَا أراد بكلامه هذا إلا الشر.
❝Sungguh, ada seseorang yang mengucapkan suatu perkataan dengan niat baik. Lalu Allah menanamkan dalam hati manusia sehingga mereka berkata: ‘Ia tidak menginginkan dengan ucapannya ini kecuali kebaikan.’
Dan sungguh, ada seseorang yang mengucapkan suatu perkataan yang buruk, tidak menghendaki kebaikan dengannya. Lalu Allah menanamkan dalam hati manusia sehingga mereka berkata: ‘Ia tidak menginginkan dengan ucapannya ini kecuali keburukan.’❞