BAGAIMANA MENYAMBUT BULAN RAMADAN?
Kita menyambut bulan Ramadan dengan:
(1) Memperbanyak doa kepada Allah ﷻ, bersungguh-sungguh dan merendahkan diri agar Dia memberi kita taufik untuk memanfaatkan bulan ini dengan sebaik-baiknya.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan Rabbmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina.”
(QS. Ghafir: 60)
(2) Niat yang tulus dan ikhlas.
(3) Bertaubat dari seluruh dosa, karena maksiat adalah belenggu dan beban yang menghalangi taufik.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara kamu pada hari bertemunya dua pasukan itu, hanyalah disebabkan karena mereka digelincirkan oleh setan akibat sebagian dosa yang mereka perbuat.”
(QS. Ali ‘Imran: 155)
(4) Memperbanyak amal saleh di bulan Sya‘ban, seperti puasa, membaca Al-Qur’an, sedekah, dan menyambung silaturahmi. Karena satu kebaikan memudahkan kebaikan berikutnya.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Barang siapa mengerjakan kebaikan, Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikan itu. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”
(QS. Asy-Syura: 23)
(5) Bergembira dengan karunia besar dari Allah ﷻ.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”
(QS. Yunus: 58)
(6) Mempelajari hukum-hukum puasa dan qiyam (shalat malam).
(7) Mengatur waktu, mengurangi kesibukan dunia, meninggalkan aktivitas yang kurang bermanfaat, mengurangi pergaulan yang tidak berguna, serta berhati-hati dari hal-hal yang menyia-nyiakan waktu dan tipu daya media yang menyesatkan.
(8) Menyelesaikan hal-hal yang dapat menyibukkan di bulan Ramadan. Di antaranya persiapan Idulfitri, seperti pakaian dan kebutuhan lainnya. Sebagian orang baru menyadari hal ini saat Ramadan sudah pertengahan, seakan-akan hari raya datang tiba-tiba. Orang yang bijak menyelesaikan urusan ini sebelum Ramadan.
(9) Menghadirkan sabda Nabi ﷺ:
“Barang siapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Barang siapa menegakkan (shalat malam) Ramadan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barang siapa menegakkan malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a.)
Makna iman: meyakini dengan pasti bahwa Allah memerintahkan, mewajibkan, dan mensyariatkannya.
Makna ihtisab: melakukannya dengan ikhlas karena Allah, mengharap pahala dan keridaan-Nya.
(10) Memberi nasihat kepada keluarga dan kaum Muslimin, mengajarkan mereka, mendoakan mereka, dan berbuat baik kepada mereka semampunya.
Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jibril berkata kepadaku: Celakalah seseorang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya tetapi tidak memasukkannya ke surga. Aku berkata: آمين.
Kemudian ia berkata: Celakalah seseorang yang mendapati Ramadan tetapi tidak diampuni dosanya. Aku berkata: آمين.
Kemudian ia berkata: Celakalah seseorang yang namaku disebut di sisinya tetapi ia tidak bershalawat kepadamu. Aku berkata: آمين.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan At-Tirmidzi; dishahihkan oleh Al-Albani)
https://t.me/F_Alajnat_Alddayima/11146
Https://t.me/ponselmuslim
https://whatsapp.com/channel/0029VaCNkCqLikg4WOZkJf2B