Каталог каналов Мои подборки Мои каналы Поиск постов Тарифы
Инструменты
Каталог TGAds Мониторинг Детальная статистика Анализ аудитории Бот аналитики
Полезная информация
Инструкция Telemetr Документация к API Чат Telemetr
Полезные сервисы

Не попадитесь на накрученные каналы! Узнайте, не накручивает ли канал просмотры или подписчиков Проверить канал на накрутку
Прикрепить Телеграм-аккаунт Прикрепить Телеграм-аккаунт

Телеграм канал «PONPES ASSUNNAH BATU»

PONPES ASSUNNAH BATU
8.4K
0
4.4K
1.8K
17.1K
Channel Resmi Mahad As Sunnah Batu Jawa Timur, di bawah bimbingan Asatidzah Mahad As Sunnah, Al Ustadz Usamah Faishal Mahri hafidzahullah, Al Ustadz Abdusshamad Bawazier hafidzahullah, dan Al Ustadz Ahmad Khadim hafidzahullah
Подписчики
Всего
9 832
Сегодня
0
Просмотров на пост
Всего
662
ER
Общий
6.73%
Суточный
4.3%
Динамика публикаций
Telemetr - сервис глубокой аналитики
телеграм-каналов
Получите подробную информацию о каждом канале
Отберите самые эффективные каналы для
рекламных размещений, по приросту подписчиков,
ER, количеству просмотров на пост и другим метрикам
Анализируйте рекламные посты
и креативы
Узнайте какие посты лучше сработали,
а какие хуже, даже если их давно удалили
Оценивайте эффективность тематики и контента
Узнайте, какую тематику лучше не рекламировать
на канале, а какая зайдет на ура
Попробовать бесплатно
Показано 7 из 8 434 постов
Смотреть все посты
Пост от 16.09.2026 06:48
211
0
7
📌⚠️💬Membedah Syubhat Maulid: Antara Hadis Shahih dan Mimpi yang Dianggap Dalil

✏️Lanjutan..


5️⃣  Bantahan Terhadap Syubhat Hadis Senin: Apa yang Sebenarnya Dicontohkan Nabi ﷺ?

Hadis Abu Qatadah justru memberikan jawaban yang sangat menarik.

Ketika Nabi ﷺ ditanya tentang hari Senin, beliau tidak berkata, “Ini adalah hari kelahiranku, maka rayakanlah.

✔️ ”Beliau menjawab: «فِيهِ وُلِدْتُ» lalu mengaitkannya dengan ibadah yang jelas, yaitu puasa. Artinya, kalau seseorang ingin mengambil pelajaran dari hari kelahiran Nabi ﷺ, bentuk yang mempunyai dalil shahih adalah puasa hari Senin, bukan membuat hari kelahiran sebagai hari raya baru.

❄️Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani رحمه الله menjadikan prinsip ini dalam bantahannya terhadap Maulid: Nabi ﷺ telah menunjukkan bentuk syukur atas hari kelahirannya dengan ibadah yang disyariatkan, yaitu puasa Senin, sehingga tidak diperlukan bentuk perayaan baru.

Prinsip ini juga sejalan dengan penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin رحمه الله dalam pembahasan Maulid: kalau perayaan kelahiran Nabi ﷺ merupakan kebaikan yang disyariatkan, tentu Nabi ﷺ akan menjelaskannya kepada umat, karena beliau adalah orang yang paling sempurna dalam menyampaikan agama.

✍️ Dengan demikian, hadis yang digunakan untuk mendukung Maulid justru menunjukkan bentuk ibadah yang berbeda dari perayaan Maulid.

⚠️Riwayat Muslim tersebut tetap shahih, tetapi kesimpulan bahwa ia menjadi dalil Maulid adalah kesimpulan yang tidak ditunjukkan oleh teks hadis.

6️⃣Bantahan Para Ulama: Ibn Taymiyyah, Ibn Baz dan Shalih al-Fauzan

❄️Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah رحمه الله berkata dalam Iqtidha' Shirath al-Mustaqim (2/123):

«فَإِنَّ هَذَا لَمْ يَفْعَلْهُ السَّلَفُ، مَعَ قِيَامِ الْمُقْتَضِي لَهُ وَعَدَمِ الْمَانِعِ مِنْهُ لَوْ كَانَ خَيْرًا، وَلَوْ كَانَ هَذَا خَيْرًا مَحْضًا أَوْ رَاجِحًا لَكَانَ السَّلَفُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَحَقَّ بِهِ مِنَّا»

✔️“Perkara ini tidak dilakukan oleh salaf, padahal faktor yang mendorongnya ada dan tidak ada penghalang untuk melakukannya.

✏️Seandainya hal itu benar-benar merupakan kebaikan atau lebih utama, tentu para salaf lebih berhak melakukannya daripada kita.

”Beliau juga berkata:

«وَإِنَّمَا كَمَالُ مَحَبَّتِهِ وَتَعْظِيمِهِ فِي مُتَابَعَتِهِ وَطَاعَتِهِ وَاتِّبَاعِ أَمْرِهِ»

🌤“Kesempurnaan mencintai dan mengagungkan beliau adalah dengan mengikuti beliau, menaati beliau dan mengikuti perintahnya.” 

⚡️Syaikh Ibn Baz رحمه الله lebih tegas lagi dalam membantah kisah Abu Lahab:

«لَا أَعْلَمُ لِهَذِهِ الرِّوَايَةِ أَصْلًا

⚠️“Saya tidak mengetahui adanya dasar bagi riwayat tersebut.” 

💬 Sementara Syaikh Shalih al-Fauzan رحمه الله dalam pembahasan Maulid juga menolak menjadikan kisah Abu Lahab sebagai hujjah karena riwayat tersebut bukan landasan syariat yang dapat menetapkan ibadah baru.

✔️Dengan demikian, ulama yang menolak Maulid tidak menolak kecintaan kepada Nabi ﷺ; mereka justru membedakan antara cinta yang benar dan bentuk ibadah yang membutuhkan dalil.

7️⃣Jawaban terhadap Logika “Kalau Abu Lahab Saja, Apalagi Kita”

Kalimat “kalau Abu Lahab yang kafir saja mendapat keringanan karena bergembira atas kelahiran Nabi, apalagi kita yang Muslim” terdengar kuat secara emosional, tetapi lemah secara ilmiah.

✍️Pertama, kisah keringanan tersebut bukan hadis shahih marfu' kepada Nabi ﷺ.

✍️Kedua, sumbernya berkaitan dengan mimpi yang dinukil dalam kitab-kitab syarah dan sirah, bukan sabda Nabi ﷺ.

✍️Ketiga, apabila seseorang menerima kisah tersebut, ia harus menerima pula bahwa Abu Lahab tetap kafir dan tetap termasuk penghuni neraka, sehingga kisah tersebut sama sekali tidak menunjukkan bahwa kegembiraan atas kelahiran Nabi menjadikan sebuah perbuatan sebagai ibadah yang disyariatkan.

✍️Keempat, tidak ada satu pun sahabat yang mengatakan, “Kami akan mengadakan Maulid karena Abu Lahab mendapatkan keringanan.

☝️”Bahkan para sahabat yang hidup bersama Nabi ﷺ tidak pernah menjadikan hari kelahiran beliau sebagai hari raya.

Maka argumentasi tersebut membalik posisi dalil: sebuah kisah yang statusnya diperselisihkan justru digunakan untuk menabrak hadis-hadis shahih tentang mengikuti sunnah dan larangan mengada-adakan ibadah.

📊Ibn Taymiyyah menegaskan bahwa sekalipun sebagian orang mungkin mendapatkan pahala dari niat cintanya, hal itu tidak otomatis menjadikan bentuk perbuatannya sebagai sunnah.

Beliau berkata:

«وَاللَّهُ قَدْ يُثِيبُهُمْ عَلَى هَذِهِ الْمَحَبَّةِ وَالِاجْتِهَادِ، لَا عَلَى الْبِدَعِ»

“Allah mungkin memberi mereka pahala atas kecintaan dan kesungguhannya tersebut, bukan atas bid'ahnya.”

8️⃣Kesimpulan: Syubhat Tidak Boleh Mengalahkan Dalil yang Shahih

Dari seluruh pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa ada dua dalil yang sering dijadikan sandaran utama untuk Maulid.

✍️Pertama, hadis Nabi ﷺ tentang hari Senin adalah hadis shahih, tetapi isinya menunjukkan bahwa beliau mensyukuri hari kelahirannya dengan puasa, bukan dengan perayaan tahunan.

✍️Kedua, kisah Abu Lahab yang diringankan azabnya setiap Senin karena memerdekakan Tsuwaibah memang disebut oleh sejumlah ulama dalam kitab syarah dan sirah, tetapi bukan hadis shahih marfu'; bahkan Ibn Hajar menjelaskan bahwa kisah tersebut berasal dari riwayat tentang mimpi, sementara Syaikh Ibn Baz menyatakan tidak mengetahui dasar yang dapat dijadikan hujjah untuknya. 

Karena itu, tidak tepat membangun syariat Maulid di atas kisah tersebut. Kaidahnya kembali kepada sabda Nabi ﷺ

«مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»,

📚 “Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim no. 1718, status: shahih).

Kecintaan kepada Nabi ﷺ tentu harus dijaga dan ditingkatkan, tetapi cara yang paling aman adalah cara yang beliau ajarkan sendiri: memperbanyak shalawat, mengikuti sunnah, mempelajari sirah, memperbanyak amal saleh dan, sebagaimana hadis shahih tadi, berpuasa pada hari Senin. Inilah cinta yang memiliki dalil dan sekaligus memiliki teladan dari Rasulullah ﷺ.

▫️▫️▫️

✏️Nantikan Lanjutannya:

🔖Kaidah-Kaidah Istinbat Dalam Menentukan Hukum Sebuah Permasalahan

▫️▫️▫️
#maulid_nabi #syubhat
⚪️Gabung Channel
📱 telemetr.me/ponpes_assunnah_batu
📱 https://bit.ly/whatsapp_ponpes_assunnah_batu
📸 https://bit.ly/ig_ponpes_assunnah_batu
Пост от 16.09.2026 06:47
1
0
0
📌⚠️💬Membedah Syubhat Maulid: Antara Hadis Shahih dan Mimpi yang Dianggap Dalil

✏️ Lanjutan..


5️⃣  Bantahan Terhadap Syubhat Hadis Senin: Apa yang Sebenarnya Dicontohkan Nabi ﷺ?

Hadis Abu Qatadah justru memberikan jawaban yang sangat menarik.

Ketika Nabi ﷺ ditanya tentang hari Senin, beliau tidak berkata, “Ini adalah hari kelahiranku, maka rayakanlah.

✔️ ”Beliau menjawab: «فِيهِ وُلِدْتُ» lalu mengaitkannya dengan ibadah yang jelas, yaitu puasa. Artinya, kalau seseorang ingin mengambil pelajaran dari hari kelahiran Nabi ﷺ, bentuk yang mempunyai dalil shahih adalah puasa hari Senin, bukan membuat hari kelahiran sebagai hari raya baru.

❄️ Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani رحمه الله menjadikan prinsip ini dalam bantahannya terhadap Maulid: Nabi ﷺ telah menunjukkan bentuk syukur atas hari kelahirannya dengan ibadah yang disyariatkan, yaitu puasa Senin, sehingga tidak diperlukan bentuk perayaan baru.

Prinsip ini juga sejalan dengan penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin رحمه الله dalam pembahasan Maulid: kalau perayaan kelahiran Nabi ﷺ merupakan kebaikan yang disyariatkan, tentu Nabi ﷺ akan menjelaskannya kepada umat, karena beliau adalah orang yang paling sempurna dalam menyampaikan agama.

✍️ Dengan demikian, hadis yang digunakan untuk mendukung Maulid justru menunjukkan bentuk ibadah yang berbeda dari perayaan Maulid.

⚠️ Riwayat Muslim tersebut tetap shahih, tetapi kesimpulan bahwa ia menjadi dalil Maulid adalah kesimpulan yang tidak ditunjukkan oleh teks hadis.

6️⃣ Bantahan Para Ulama: Ibn Taymiyyah, Ibn Baz dan Shalih al-Fauzan

❄️ Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah رحمه الله berkata dalam Iqtidha' Shirath al-Mustaqim (2/123):

«فَإِنَّ هَذَا لَمْ يَفْعَلْهُ السَّلَفُ، مَعَ قِيَامِ الْمُقْتَضِي لَهُ وَعَدَمِ الْمَانِعِ مِنْهُ لَوْ كَانَ خَيْرًا، وَلَوْ كَانَ هَذَا خَيْرًا مَحْضًا أَوْ رَاجِحًا لَكَانَ السَّلَفُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَحَقَّ بِهِ مِنَّا»

✔️ “Perkara ini tidak dilakukan oleh salaf, padahal faktor yang mendorongnya ada dan tidak ada penghalang untuk melakukannya.

✏️ Seandainya hal itu benar-benar merupakan kebaikan atau lebih utama, tentu para salaf lebih berhak melakukannya daripada kita.

”Beliau juga berkata:

«وَإِنَّمَا كَمَالُ مَحَبَّتِهِ وَتَعْظِيمِهِ فِي مُتَابَعَتِهِ وَطَاعَتِهِ وَاتِّبَاعِ أَمْرِهِ»

🌤 “Kesempurnaan mencintai dan mengagungkan beliau adalah dengan mengikuti beliau, menaati beliau dan mengikuti perintahnya.” 

⚡️ Syaikh Ibn Baz رحمه الله lebih tegas lagi dalam membantah kisah Abu Lahab:

«لَا أَعْلَمُ لِهَذِهِ الرِّوَايَةِ أَصْلًا

⚠️ “Saya tidak mengetahui adanya dasar bagi riwayat tersebut.” 

💬 Sementara Syaikh Shalih al-Fauzan رحمه الله dalam pembahasan Maulid juga menolak menjadikan kisah Abu Lahab sebagai hujjah karena riwayat tersebut bukan landasan syariat yang dapat menetapkan ibadah baru.

✔️ Dengan demikian, ulama yang menolak Maulid tidak menolak kecintaan kepada Nabi ﷺ; mereka justru membedakan antara cinta yang benar dan bentuk ibadah yang membutuhkan dalil.

7️⃣ Jawaban terhadap Logika “Kalau Abu Lahab Saja, Apalagi Kita”

Kalimat “kalau Abu Lahab yang kafir saja mendapat keringanan karena bergembira atas kelahiran Nabi, apalagi kita yang Muslim” terdengar kuat secara emosional, tetapi lemah secara ilmiah.

✍️ Pertama, kisah keringanan tersebut bukan hadis shahih marfu' kepada Nabi ﷺ.

✍️ Kedua, sumbernya berkaitan dengan mimpi yang dinukil dalam kitab-kitab syarah dan sirah, bukan sabda Nabi ﷺ.

✍️ Ketiga, apabila seseorang menerima kisah tersebut, ia harus menerima pula bahwa Abu Lahab tetap kafir dan tetap termasuk penghuni neraka, sehingga kisah tersebut sama sekali tidak menunjukkan bahwa kegembiraan atas kelahiran Nabi menjadikan sebuah perbuatan sebagai ibadah yang disyariatkan.

✍️Keempat, tidak ada satu pun sahabat yang mengatakan, “Kami akan mengadakan Maulid karena Abu Lahab mendapatkan keringanan.

☝️ ”Bahkan para sahabat yang hidup bersama Nabi ﷺ tidak pernah menjadikan hari kelahiran beliau sebagai hari raya.

Maka argumentasi tersebut membalik posisi dalil: sebuah kisah yang statusnya diperselisihkan justru digunakan untuk menabrak hadis-hadis shahih tentang mengikuti sunnah dan larangan mengada-adakan ibadah.

📊 Ibn Taymiyyah menegaskan bahwa sekalipun sebagian orang mungkin mendapatkan pahala dari niat cintanya, hal itu tidak otomatis menjadikan bentuk perbuatannya sebagai sunnah.

Beliau berkata:

«وَاللَّهُ قَدْ يُثِيبُهُمْ عَلَى هَذِهِ الْمَحَبَّةِ وَالِاجْتِهَادِ، لَا عَلَى الْبِدَعِ»

“Allah mungkin memberi mereka pahala atas kecintaan dan kesungguhannya tersebut, bukan atas bid'ahnya.”

8️⃣ Kesimpulan: Syubhat Tidak Boleh Mengalahkan Dalil yang Shahih

Dari seluruh pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa ada dua dalil yang sering dijadikan sandaran utama untuk Maulid.

✍️ Pertama, hadis Nabi ﷺ tentang hari Senin adalah hadis shahih, tetapi isinya menunjukkan bahwa beliau mensyukuri hari kelahirannya dengan puasa, bukan dengan perayaan tahunan.

✍️ Kedua, kisah Abu Lahab yang diringankan azabnya setiap Senin karena memerdekakan Tsuwaibah memang disebut oleh sejumlah ulama dalam kitab syarah dan sirah, tetapi bukan hadis shahih marfu'; bahkan Ibn Hajar menjelaskan bahwa kisah tersebut berasal dari riwayat tentang mimpi, sementara Syaikh Ibn Baz menyatakan tidak mengetahui dasar yang dapat dijadikan hujjah untuknya. 

Karena itu, tidak tepat membangun syariat Maulid di atas kisah tersebut. Kaidahnya kembali kepada sabda Nabi ﷺ

«مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»,

📚 “Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim no. 1718, status: shahih).

Kecintaan kepada Nabi ﷺ tentu harus dijaga dan ditingkatkan, tetapi cara yang paling aman adalah cara yang beliau ajarkan sendiri: memperbanyak shalawat, mengikuti sunnah, mempelajari sirah, memperbanyak amal saleh dan, sebagaimana hadis shahih tadi, berpuasa pada hari Senin. Inilah cinta yang memiliki dalil dan sekaligus memiliki teladan dari Rasulullah ﷺ.

▫️▫️▫️

✏️ Nantikan Lanjutannya:

🔖 Kaidah-Kaidah Istinbat Dalam Menentukan Hukum Sebuah Permasalahan

▫️▫️▫️
#maulid_nabi #syubhat
⚪️ Gabung Channel
📱 telemetr.me/ponpes_assunnah_batu
📱 https://bit.ly/whatsapp_ponpes_assunnah_batu
📸 https://bit.ly/ig_ponpes_assunnah_batu
Пост от 16.09.2026 03:02
1
0
0
Видео/гифка
Пост от 15.09.2026 08:34
1
0
0
🔖⚠️☘️⛅️ MAKSIAT SETELAH KENIKMATAN

▫️▫️▫️

✍️ Maksiat setelah kenikmatan lebih jelek dari kemaksiatan sebelum kenikmatan, karena Allah berfirman:

{ وَعَصَيۡتُم مِّنۢ بَعۡدِ مَآ أَرَىٰكُم مَّا تُحِبُّونَۚ }

📖 "Dan kalian bermaksiat sesudah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang kamu sukai."
QS. Al Imron: 152

⚠️ Yaitu tentang kemaksiatan mereka menyalahi perintah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam setelah Allah berikan kenikmatan kepada mereka berupa kekalahan dan kehinaan musuh.
✏️ Ibn Utsaimin, Tafsir Al Imron 2/313

🎙 Syekh Sa'diy rahimahullah berkata:

"Kewajiban bagi orang yang Allah beri kenikmatan berupa apa yang dia senangi lebih besar dari yang lain, yaitu kewajiban mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya."

☝️ Terkadang seseorang telah Allah beri kepadanya kenikmatan terbesar berupa istiqomah dan teman baik, pergaulan yang terjaga dengan baik malah dia rusak dengan pergaulan dan pertemanan dengan orang-orang yang mencoreng keistiqomahan dia.

فاللهم سلم سلم

✍️ Al Ustadz Usamah Mahri hafizhahullah

▫️▫️▫️
#nikmat #maksiat
⚪️ Gabung Channel
📱 telemetr.me/ponpes_assunnah_batu/7808
📱 https://bit.ly/whatsapp_ponpes_assunnah_batu
📸 https://bit.ly/ig_ponpes_assunnah_batu
Пост от 15.09.2026 04:07
116
0
1
Пост от 15.09.2026 02:53
1
0
0
Видео/гифка
Пост от 14.09.2026 16:19
1
0
0
Видео/гифка
Смотреть все посты