Asas dari al-walā’ adalah kecintaan, maka yang paling berhak dan paling utama untuk dicintai adalah Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.
Karena cinta kepada Allah Ta‘ālā bukan sekadar pengakuan di lisan, namun menuntut konsekuensi-konsekuensi nyata dan memiliki tanda-tanda yang jelas.
Tidak setiap orang yang mengaku mencintai Allah benar dalam pengakuannya, sampai kecintaan itu terbukti dalam sikap dan amal perbuatan yang menjadi saksi atas kejujurannya.
Maka di antara tanda cinta kepada Allah adalah:
[ ] seorang hamba mendahulukan apa yang dicintai Allah di atas apa yang dicintai oleh dirinya dan diinginkan oleh hawa nafsunya.
Apabila terjadi pertentangan antara cinta kepada Allah dan cinta kepada diri sendiri, maka seorang hamba yang jujur imannya akan mendahulukan apa yang dicintai Allah atas apa yang diinginkan jiwanya.
Sebagaimana Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 23–24, Allah menegaskan bahwa kecintaan kepada keluarga, harta, dan berbagai kepentingan dunia tidak boleh mengalahkan kecintaan dan loyalitas kepada Allah dan Rasul-Nya; siapa yang mendahulukan selain Allah dan Rasul-Nya, maka ia berada dalam ancaman dan kerugian besar.
Dan di antara tanda-tanda cinta kepada Allah adalah:
[ ] seorang hamba mencintai apa yang dicintai Allah, baik berupa amal-amal maupun orang-orang, serta membenci apa yang dibenci Allah, baik berupa perbuatan maupun pelakunya.
Allah Ta‘ālā mencintai orang-orang beriman yang saleh; maka apabila seseorang mencintai mereka, sesungguhnya ia mencintai Allah ‘Azza wa Jalla.
Dan Allah Ta‘ālā telah memerintahkan agar loyal kepada para wali-Nya dan memusuhi musuh-musuh-Nya dalam banyak ayat.
Di antaranya, Allah Ta‘ālā berfirman sebagai peringatan bagi kaum mukminin:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang kafir sebagai wali selain orang-orang beriman. Apakah kalian hendak menjadikan bagi Allah alasan yang nyata untuk menyiksa kalian?”
📚 (QS. an-Nisā’: 144)
☝️Ayat ini merupakan seruan dari Allah Ta‘ālā kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, agar tidak menjadikan orang-orang kafir sebagai wali dengan bentuk apa pun dari bentuk loyalitas;
bukan dengan cinta, bukan dengan pertolongan, dan bukan pula dengan kecenderungan hati kepada mereka.
Karena mereka adalah musuh Allah dan Rasul-Nya.
Dan apabila mereka adalah musuh Allah dan Rasul-Nya, maka wajib atas kita untuk memusuhi mereka dan berlepas diri dari mereka.
Dan Allah Ta‘ālā menjelaskan bahwa loyalitas kepada orang-orang kafir merupakan sifat orang-orang munafik.
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:
﴿بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا﴾
“Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang munafik bahwa bagi mereka azab yang pedih; yaitu orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai wali selain orang-orang beriman. Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi orang-orang kafir itu? Sesungguhnya kemuliaan itu seluruhnya milik Allah.”
📚(QS. an-Nisā’: 138–139)
Dan Allah Ta‘ālā memperingatkan hamba-hamba-Nya agar tidak menjadikan orang-orang kafir sebagai wali dan penolong, Allah Ta‘ālā berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali. Sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kalian menjadikan mereka sebagai wali, maka sungguh ia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
📚(QS. al-Mā’idah: 51)