Каталог каналов Каналы в закладках Мои каналы Поиск постов Рекламные посты
Инструменты
Каталог TGAds beta Мониторинг Детальная статистика Анализ аудитории Бот аналитики
Полезная информация
Инструкция Telemetr Документация к API Чат Telemetr
Полезные сервисы

Не попадитесь на накрученные каналы! Узнайте, не накручивает ли канал просмотры или подписчиков Проверить канал на накрутку
Прикрепить Телеграм-аккаунт Прикрепить Телеграм-аккаунт

Телеграм канал «CTIS II Channel Telegram Ilmu Syar'i ||»

CTIS II Channel Telegram Ilmu Syar'i ||
2.6K
0
19
10
70
🔖 Belajar Meniti Jalan Salafussholih dengan bimbingan ulama kibar.
Подписчики
Всего
1 001
Сегодня
0
Просмотров на пост
Всего
22
ER
Общий
2.11%
Суточный
1.7%
Динамика публикаций
Telemetr - сервис глубокой аналитики
телеграм-каналов
Получите подробную информацию о каждом канале
Отберите самые эффективные каналы для
рекламных размещений, по приросту подписчиков,
ER, количеству просмотров на пост и другим метрикам
Анализируйте рекламные посты
и креативы
Узнайте какие посты лучше сработали,
а какие хуже, даже если их давно удалили
Оценивайте эффективность тематики и контента
Узнайте, какую тематику лучше не рекламировать
на канале, а какая зайдет на ура
Попробовать бесплатно
Показано 7 из 2 599 постов
Смотреть все посты
Пост от 02.04.2026 07:58
1
0
0
👉 Jagalah agama ini dengan ilmu
👉 bukan dengan fanatisme
👉 dan bukan dengan manipulasi dalil

🤲 اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه، وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه

✍️ Abu Fuad Saiful
Makassar, 12 Syawwal 1447 H/1 April 2026 M

__
📲📡 Join • Save • Share ll
🔰 https://t.me/Salafy_Sulawesi

▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Пост от 02.04.2026 07:56
1
0
0
👉 Jagalah agama ini dengan ilmu
👉 bukan dengan fanatisme
👉 dan bukan dengan manipulasi dalil

🤲 اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه، وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه
__
📲📡 Join • Save • Share ll
🔰 https://t.me/Salafy_Sulawesi

▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Пост от 02.04.2026 07:56
1
0
0
🔥 Ketika Jarh Mufassar Diabaikan, dan Ta‘dil Mubham Dikedepankan

Fenomena Pembelaan Kesalahan dengan Mengabaikan Kaidah Ilmiah

(Bagian Kelima: Membongkar Tahrif dalam Memahami Ucapan Ulama)

⚠️ Pada tahap ini, syubhat tidak lagi sekadar berupa slogan…

Namun telah naik ke level yang lebih berbahaya:

👉 Menggunakan ucapan ulama sebagai tameng,
👉 namun dengan cara memotong, mengaburkan, dan mengeluarkan dari konteksnya.

💣 Inilah yang disebut oleh para ulama sebagai:

"تحريف الكلم عن متواضعه"

"Mengubah makna ucapan dari tempatnya"

🧠 Syubhat yang Diangkat

Mereka menukil dari sebagian kitab:

"أن الجرح إنما يؤخذ من إمام عارف بأسباب الجرح والتعديل"

"Sesungguhnya jarh itu hanya diambil dari imam (ulama) yang mengetahui sebab-sebab jarh wa ta’dil."

Kemudian mereka menyimpulkan:

❌ "Berarti jarh tidak boleh diterima kecuali dari ulama besar."

🎯 Di sinilah letak penyimpangan ilmiahnya

Karena kalimat tersebut:

❗ tidak berdiri sendiri
❗ tidak berbicara tentang jarh mufassar secara mutlak
❗ dan bukan pendapat jumhur ulama

🔍 Pembongkaran Ilmiah

1️⃣ Pemotongan Konteks (Tahrif)

Kalimat tersebut sebenarnya datang dalam konteks:

👉 "Jarh mubham bisa diterima dari imam yang ahli"

Bukan:

❌ kaidah umum bahwa semua jarh harus dari ulama besar

📌 Artinya:

👉 Mereka mengambil potongan kalimat
👉 lalu menjadikannya sebagai kaidah mutlak

💣 Ini adalah bentuk penyimpangan dalam memahami ucapan ulama

2️⃣ Mengabaikan Pendapat Jumhur

Dalam teks yang sama disebutkan:

"مذهب الجمهور: لا يقبل الجرح إلا مفسرا"

👉 Ini adalah pendapat mayoritas ulama

Maknanya:

👉 Jarh tidak diterima kecuali jika dijelaskan sebabnya

🎯 Dan inilah yang sedang kita tegakkan:

✓ jarh mufassar
✓ dengan dalil
✓ dengan penjelasan

❗ Namun ini justru ditinggalkan oleh mereka

3️⃣ Mencampur antara Jarh Mufassar dan Jarh Mubham

👉 Konteks yang mereka tahrif itu sebenarnya menjelaskan: Jarh mubham (yang tidak dijelaskan sebabnya) hanyalah di terima dari imam yang mengerti tentang sebab-sebab jarh wa ta'dil,


Namun mereka gunakan untuk:

❌ menolak jarh mufassar (yang jelas dan rinci)

💣 Ini adalah bentuk talbis (pengelabuan)

4️⃣ Membuat Kesimpulan yang Tidak Dikatakan Ulama

👉 Tidak ada satu pun ulama yang mengatakan:

❌ "Tidak boleh menerima jarh kecuali dari ulama besar"

Namun mereka menyimpulkan demikian

📌 Padahal kaidah Ahlus Sunnah:

👉 Yang dilihat adalah hujjah, bukan sekadar siapa yang berbicara

Sebagaimana ucapan yang masyhur:

"اعرف الحق تعرف أهله"

Artinya:

"Kenalilah kebenaran, niscaya engkau akan mengenal siapa para pengikutnya"

5️⃣ Standar Ganda

Jika kita perhatikan:

➡️ Ketika ada ta’dil:

👉 Mereka terima walau mubham
👉 Bahkan tanpa rincian

➡️ Namun ketika ada jarh:

👉 Mereka menolak
👉 Dengan alasan: "bukan dari ulama"

💣 Ini bukan kaidah ilmiah

👉 tapi hawa nafsu yang dibungkus ilmu

⚠️ Hakikat yang Harus Dipahami

Ayyuhal ikhwah…

👉 Para ulama tidak menjadikan gelar, popularitas, atau status sebagai ukuran diterimanya ucapan

Namun mereka menjadikan:

📖 dalil, penjelasan, dan kebenaran sebagai ukuran

🔰 Penegasan Manhaj yang Lurus

Jika datang:

➡️ Jarh mufassar
✓ dengan bukti
✓ dengan penjelasan

Maka:

👉 ia ditimbang dengan hujjah
👉 bukan ditolak karena siapa yang menyampaikan

Dan jika datang:

➡️ Ta’dil mubham

👉 maka tidak bisa menggugurkan jarh mufassar

💥 Bahaya Tahrif Ini

Jika metode ini dibiarkan:

▪️ Ucapan ulama akan terus dipelintir
▪️ Kebenaran akan dikaburkan
▪️ Kebatilan akan dilindungi dengan dalih ilmiah

Bahkan lebih berbahaya:

👉 Generasi akan belajar agama dengan cara yang salah

🔊 Peringatan Tegas

Jangan tertipu dengan:

▪️ nukilan kitab
▪️ istilah ilmiah
▪️ atau penyebutan nama ulama

Karena:

❗ tidak setiap yang menukil memahami
❗ tidak setiap yang berbicara ilmiah itu ilmiah

🌿 Penutup

Ketahuilah…

👉 Masalah ini bukan sekadar perbedaan pendapat
👉 tetapi sudah masuk pada penyimpangan dalam memahami agama

Dan ingatlah:

"ليس كل من استدل أصاب"

“Tidak setiap orang yang berdalil itu benar dalam kesimpulannya.”

Ayyuhal ikhwah…
Пост от 02.04.2026 06:21
1
0
0
🔥 Ketika Jarh Mufassar Diabaikan, dan Ta‘dil Mubham Dikedepankan

Fenomena Pembelaan Kesalahan dengan Mengabaikan Kaidah Ilmiah
(Bagian Keempat: Meluruskan Syubhat "Kapan Ta’dil Didahulukan?")

⚠️Baru-baru ini muncul syubhat baru yang dibungkus dengan nukilan ulama dan istilah ilmiah:

👉 "Kapan ta’dil tetap didahulukan daripada jarh mufassar?"

Sekilas, ini tampak sebagai pembahasan ilmiah.
Namun hakikatnya, di sinilah terjadi pengaburan antara kaidah dan pengecualian.

🧠 Hakikat yang Harus Diluruskan

Perlu ditegaskan sejak awal:

👉 Benar, para ulama menyebutkan adanya kondisi di mana ta’dil didahulukan.

Namun…

❗ Pengecualian tersebut tidak berlaku secara mutlak
❗ bahkan tidak bisa dipahami kecuali dengan mengetahui syarat dan rinciannya
❗ dan tidak bisa dijadikan alat untuk membatalkan kaidah asal

⚖️ Kaidah Asal yang Tidak Boleh Digugurkan

Ahlus Sunnah telah menetapkan:

📖 الجرح المفسر مقدم على التعديل المجمل

Artinya:

👉 Kritik yang rinci dan jelas
lebih didahulukan daripada pujian yang umum

Ini adalah:
✓ kaidah mayoritas ulama
✓dan menjadi standar dalam menjaga agama

🔍 Di Mana Letak Pengaburannya?

Sebagian orang menyampaikan:

👉 "Ta’dil tetap didahulukan dalam kondisi tertentu"

Lalu mereka langsung menyimpulkan:

❌ "Berarti ta’dil bisa mengalahkan jarh mufassar"

👉 Inilah letak kesalahan fatalnya

Karena mereka:

❌ tidak menjelaskan syaratnya
❌ tidak membedakan jenis ta’dil
❌ dan menggeneralisasi pengecualian
❌ serta memindahkan hukum dari kondisi khusus menjadi kaidah umum

🎯 Penjelasan Ilmiah yang Benar

Para ulama menjelaskan:

👉 Ta’dil bisa didahulukan bukan karena ia ta’dil semata,
tetapi karena:

✓ telah mengetahui sebab jarh secara rinci
✓ kemudian membantahnya dengan hujjah
✓ atau menetapkan bahwa pelaku telah bertaubat dengan bukti

📌 Maka dalam kondisi ini, setelah adanya penjelasan dan bantahan:

👉 ta’dil tersebut bukan lagi mubham
👉 tetapi sudah menjadi ta’dil mufassar

💥 Kesimpulan yang Sering Dipelintir

❌ Mereka berkata:
"Ta’dil global tetap didahulukan"

Padahal:

👉 Ta’dil global tidak bisa menggugurkan jarh mufassar

Yang bisa menandinginya hanyalah:

✓ ta’dil yang memiliki penjelasan
✓ dan memiliki hujjah
✓ bahkan dalam kondisi ini pun, penilaian tetap kembali kepada kekuatan hujjah, bukan sekedar klaim ta'dil

⚠️ Bahaya Pemahaman Ini

Jika syubhat ini diterima:

▪️ Setiap pujian akan dijadikan tameng
▪️ Setiap kritik akan ditolak
▪️ Dan setiap kesalahan akan dilindungi

👉 Dengan alasan: "Sudah ada yang menta’dil"

🔰 Penegasan

Ayyuhal ikhwah…

👉 Bukan setiap ta’dil didahulukan
👉 tetapi hanya ta’dil yang menjawab jarh dengan hujjah
👉 Dan bukan setiap jarh ditolak
👉 selama ia jelas, rinci, dan berdasar ilmu

⚖️ Manhaj yang Lurus

Jika terjadi:

➡️ Jarh mufassar
➡️ dan ta’dil mubham

👉 Maka jarh didahulukan

Namun jika:

➡️ Ta’dil datang dengan penjelasan
➡️ dan membantah jarh secara ilmiah

👉 Maka keduanya harus ditimbang dengan adil berdasarkan hujjah, bukan sekedar mengikuti kecendrungan atau fanatisme!

‼️ Peringatan

Jangan tertipu dengan:

🔸 nukilan yang benar
🔸 namun kesimpulan yang salah

Karena:

👉 tidak semua yang berbicara dengan istilah ulama
memahami manhaj ulama

🔊 Penutup

Ketahuilah…

👉 Masalah ini bukan pada kaidah
👉 tetapi pada penyalahgunaan kaidah dan menjadikan pengecualian sebagai senjata untuk membatalkan prinsip
👉 barangsiapa memahami kaidah tanpa memahami penerapannya, maka ia akan tersesat dalam menggunakannya


Maka:

📖 berpeganglah dengan ilmu
📖 bukan dengan fanatisme
📖 dan bukan dengan pembelaan terhadap individu

🤲 اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه، وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه

✍️ Abu Fuad Saiful
Makassar, 13 Syawwal 1447 H/ 2 April 2026 M

__

📲📡 Join • Save • Share ll
🔰 https://t.me/Salafy_Sulawesi

▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Пост от 01.04.2026 14:00
1
0
0
🔥 Ketika Jarh Mufassar Diabaikan, dan Ta‘dil Mubham Dikedepankan

Fenomena Pembelaan Kesalahan dengan Mengabaikan Kaidah Ilmiah

(Bagian Ketiga)

⚠️ Setelah kita memahami fenomena dan sebagian syubhat yang beredar, maka perlu kita bongkar satu hakikat penting:

👉 Mengapa jarh mufassar diabaikan, dan ta‘dil mubham justru diangkat?

Apakah ini sekadar ketidaktahuan?
Ataukah ada sesuatu yang lebih dalam?

🧠 Akar Permasalahan

Hakikatnya, fenomena ini tidak lepas dari beberapa sebab:

1️⃣ Mengagungkan individu di atas kebenaran

Sebagian orang telah menjadikan tokoh sebagai ukuran,
bukan menjadikan kebenaran sebagai ukuran.

➡️ Ketika tokoh tersebut dipuji, diterima tanpa ragu
➡️ Namun ketika dijelaskan kesalahannya, ditolak mentah-mentah

Padahal prinsip Ahlus Sunnah:

📖 Kebenaran tidak dikenal melalui tokoh,
tetapi tokoh dikenal melalui kebenaran.

2️⃣ Tidak memahami kaidah ilmiah dalam menilai

Banyak yang tidak membedakan antara:

▪️ Pujian yang global
▪️ Dengan kritik yang terperinci

Sehingga ketika ada yang mengatakan:

➡️ "Fulan orang baik"
➡️ "Fulan ustadz yang bagus"

Mereka mengira itu cukup untuk menolak seluruh penjelasan kesalahan.

Padahal:

⛔ Pujian umum tidak menggugurkan kritik yang jelas dan rinci.

3️⃣ Mengikuti hawa nafsu dalam menerima dan menolak

➡️ Yang sesuai dengan keinginan diterima
➡️ Yang menyelisihi ditolak

Meskipun yang datang adalah dalil dan penjelasan ilmiah.

💥 Bentuk-Bentuk Penyimpangan yang Terjadi

Di lapangan, kita melihat pola yang berulang:

❌ Mengalihkan pembahasan dari substansi ke personal

Ketika dijelaskan kesalahan:

➡️ Mereka tidak menjawab isi kritik
➡️ Tapi menyerang orang yang mengkritik

👉 "Siapa dia?"
👉 "Apa kapasitasnya?"

Padahal yang seharusnya ditimbang adalah:

📖 Apakah yang disampaikan itu benar atau tidak

❌ Mengangkat kebaikan untuk menutupi kesalahan

➡️ "Dia muridnya masyaikh"
➡️ "Dia punya banyak jasa"
➡️ "Dia sudah berdakwah lama"

Seolah-olah itu menjadi alasan untuk menutup kesalahan.

Padahal:

⛔ Kebaikan tidak menghapus kewajiban menjelaskan kesalahan.

❌ Mencampur antara nasihat dan ghibah

➡️ Setiap peringatan dianggap ghibah
➡️ Setiap bantahan dianggap permusuhan

Padahal para ulama telah menjelaskan:

📌 Menjelaskan kesalahan demi menjaga agama bukanlah ghibah yang tercela.

⚠️ Dampak yang Sangat Berbahaya

Jika fenomena ini dibiarkan:

▪️ Standar ilmiah akan rusak
▪️ Kebenaran menjadi kabur
▪️ Kebatilan mendapatkan legitimasi

Bahkan lebih dari itu:

👉 Manusia akan bingung, siapa yang harus diikuti, dan siapa yang harus diwaspadai

🔰 Kaidah yang Harus Ditegakkan

Ahlus Sunnah berdiri di atas prinsip:

📖 *الجرح المفسر مقدم على التعديل المجمل*

Artinya:

👉 Kritik yang jelas dan terperinci
lebih didahulukan daripada pujian yang umum

Selama:

✓ disampaikan dengan ilmu
✓ dengan bukti
✓ dan dengan kejujuran

🔊 Penegasan

Ayyuhal ikhwah…

Agama ini tidak dijaga dengan perasaan,
tidak pula dengan fanatisme kepada individu.

Tetapi dijaga dengan:

📖 ilmu
📖 kejujuran
📖 dan keberanian untuk mengatakan kebenaran

⚠️ Peringatan

Jangan sampai kita termasuk orang yang:

▪️ Menolak kebenaran karena tidak sesuai dengan tokohnya
▪️ Membela kesalahan karena cinta kepada individu
▪️ Dan menutup mata dari penjelasan yang terang

‼️ Penutup

Ketahuilah…

👉 Bukan setiap yang dipuji itu benar
👉 Dan bukan setiap yang dikritik itu salah

Namun yang menjadi ukuran adalah:

📖 Dalil dan kebenaran

🤲 اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه، وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه

✍️ Abu Fuad Saiful
Makassar, 12 Syawwal 1447 H/1 April 2026 M
__
📲📡 Join • Save • Share ll
🔰 https://t.me/Salafy_Sulawesi

▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Пост от 01.04.2026 08:24
1
0
0
🔥 Ketika Jarh Mufassar Diabaikan, dan Ta‘dil Mubham Dikedepankan

Fenomena Pembelaan Kesalahan dengan Mengabaikan Kaidah Ilmiah

(Bagian Kedua)

⚠️ Belum lama ini, muncul sebuah kalimat yang tampak merendah,
namun hakikatnya berbahaya:

"Kita bukan ulama, tidak boleh menilai siapa pun."

Sekilas terdengar tawadhu’.
Namun jika ditelusuri, ini bisa menjadi pintu besar bagi tersebarnya kebatilan.

🔰 Hakikat yang Harus Dijelaskan

Jika ucapan ini diterapkan secara mutlak, maka:

▪️Tidak ada yang boleh memperingatkan dari kesalahan
▪️Tidak ada yang boleh meluruskan penyimpangan
▪️Bahkan ummat akan dibiarkan bingung tanpa arahan

Lalu...
Siapa yang akan menjaga agama di tengah derasnya syubhat?

💥 Realita yang Terjadi:

Hari ini kita menyaksikan:

➡️ Ada yang jelas menyampaikan pemikiran menyimpang,
lalu ketika diluruskan, dia berkata:
"Jangan menilai, kita bukan ulama."

➡️ Ada yang berbicara agama tanpa dasar ilmu,
lalu ketika dikritik, dia menjawab:
"Siapa kamu? Ulama saja bukan."

➡️ Ada yang mencampur dan berusaha menyatukan antara sunniy dengan hizbiy,
lalu ketika diperingatkan, dia berkata:
"Jangan saling menjatuhkan,
Jangan saling menuding."

Padahal hakikatnya:

👉 kesalahan ingin dibiarkan tanpa koreksi

🔊Penegasan

Kita katakan dengan tegas,
Benar, kita tidak boleh:

▪️Berbicara tanpa ilmu,
▪️Menghukumi dengan hawa nafsu,
▪️Menjatuhkan seseorang tanpa bukti.

❌ Namun salah besar jika ucapan ini dijadikan alasan untuk menutup pintu penjelasan kebenaran.

🧠 Poin Penting

Bukan syarat menyampaikan kebenaran harus menjadi ulama,
tetapi syaratnya adalah mengetahui bahwa itu kebenaran.

Dan bukan syarat memperingatkan dari kesalahan harus menjadi imam besar,
tetapi syaratnya adalah memiliki ilmu tentang kesalahan tersebut.

⛔ Waspadalah…

Jika syubhat ini diterima:
(Jangan menilai, kita bukan ulama.)

Maka akibatnya:

▪️Penyimpangan tidak bisa disentuh
▪️Ummat kehilangan filter dalam beragama

🚦Perlu Disadari

Kaidah di atas sama sekali bukan untuk menjaga adab,
justru akan membuka pintu kerusakan dan agar penyimpangan tidak terbongkar.

🎯 Hakikatnya

👉 Mereka melarang tahdzir bukan karena suka kepada adab,
tetapi karena takut kesalahan mereka terbongkar.

👉 Mereka ingin manusia diam bukan karena tawadhu’,
tetapi agar kebatilan mereka tidak disentuh.

⚖️ Manhaj yang Benar:

▪️Tidak berbicara tanpa ilmu
▪️Tidak diam dari kebenaran
▪️Tidak menzalimi manusia
▪️Tidak membiarkan kesalahan

⚠️ Renungan

Ayyuhal ikhwah…

Jika setiap orang berkata:

"Saya bukan ulama, saya diam saja…"

Maka Bersiaplah:

▪️Kebatilan akan berbicara tanpa tandingan
▪️Penyimpangan akan menyebar tanpa bantahan
▪️Kebenaran akan tenggelam dalam diam

‼️ Kesimpulan

Diam dari kebatilan bukanlah tawadhu’,
tetapi bisa menjadi bentuk pengkhianatan terhadap kebenaran.

🤲 Allahulmustaan

✍️ Abu Fuad Saiful
Makassar, 12 Syawwal 1447 H/1 April 2026 M
__
📲📡 Join • Save • Share ll
🔰 https://t.me/Salafy_Sulawesi

▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Пост от 01.04.2026 01:21
1
0
0
🔥 Ketika Jarh Mufassar Diabaikan, dan Ta‘dil Mubham Dikedepankan

Fenomena Pembelaan Kesalahan dengan Mengabaikan Kaidah Ilmiah

(Bagian Pertama)

⚠️ Di zaman ini, di munculkan kembali syubhat yang mengkhawatirkan:

➡️ Orang yang berbicara dengan dalil dituduh keras
➡️ Orang yang menjelaskan kesalahan dituduh memecah belah
➡️ Bahkan orang yang memperingatkan dari penyimpangan dituduh sebagai tukang ghibah

Sementara di sisi lain:

➡️ Kesalahan disebarkan
➡️ Syubhat dipoles dengan kata-kata indah
➡️ Penyimpangan dibungkus dengan nama dakwah

Ini bukan lagi sekadar kekeliruan,
tetapi sudah menjadi upaya membalikkan kebenaran menjadi kebatilan, dan kebatilan seakan-akan kebenaran.

🧠 Hakikat yang Harus Dipahami

📚 Ilmu jarh wa ta’dil bukan budaya keras,
bukan pula tradisi mencela.

Ia adalah warisan kenabian untuk menjaga agama.

Maka siapa yang mencelanya, hakikatnya ia sedang:

▪️Membuka pintu kebatilan

▪️Menutup pintu penjelasan

▪️Dan memberikan ruang bagi penyimpangan berkembang tanpa kontrol

💥 Realita Saat Ini

Hari ini kita melihat:

➡️ Ada yang berbicara tanpa ilmu, lalu ketika diluruskan ia berkata: "jangan saling menjatuhkan"

➡️ Ada yang menyebarkan pemikiran menyimpang, lalu ketika dibantah ia berkata: "ini hanya perbedaan pendapat"

➡️ Ada yang terang-terangan salah dalam manhaj, lalu ketika diperingatkan ia berkata: "jaga ukhuwah, jangan mencari-cari aib"

Padahal yang sedang terjadi adalah:

👉 Menjadikan slogan-slogan indah sebagai tameng untuk melindungi kebatilan

⚖️ Penting untuk Diketahui

Salaf dan Salafy tidak menimbang dengan:

▪️Logika
▪️Perasaan
▪️Jumlah pengikut
▪️Kepopuleran

Tetapi dengan:

📖 Dalil dan kebenaran

⛔ Bahaya Slogan-Slogan Palsu Zaman Ini

❌ "Jangan bicara kesalahan orang"

➡️ Jika ini diterapkan:

▪️Ahli bid’ah dan hizbiyyin bebas berbicara
▪️Penyimpangan tidak terbendung
▪️Ummat bingung tanpa bimbingan

❌ "Semua ini hanya memecah belah"

➡️ Justru yang memecah belah adalah:

▪️Kesesatan yang dibiarkan
▪️Kebatilan yang tidak diluruskan

❌"Ambil baiknya saja, tinggalkan yang buruk"

➡️ Ini adalah slogan yang sangat berbahaya
Karena:

⛔ Tidak setiap orang mampu memisahkan racun dari makanan
ketika keduanya telah tercampur.

👉 Dan Ini yang Mereka Inginkan

📍Mereka ingin kita diam,
agar kesalahan mereka tidak tersentuh.

📍Mereka ingin kita lembut,
tapi bukan kepada kebenaran, melainkan kepada kebatilan.

📍Mereka berbicara tentang ukhuwah,
tapi bukan untuk menyatukan di atas sunnah,
melainkan untuk melindungi penyimpangan.

🔰 Penegasan

▶️ Kami tidak akan diam dari kebatilan
▶️ Tidak zalim dalam membantah
▶️ Tidak membela kesalahan
▶️ Tidak menjatuhkan tanpa burhan

Sadarilah‼️

Ayyuhal ikhwah…

🔂 Agama ini tidaklah rusak karena musuh dari luar,
tetapi rusak ketika standar kebenaran dibalik dari dalam.

⚫ Ketika yang salah dilindungi,
dan yang benar diserang,
maka saat itulah fitnah menjadi gelap.

🔊 Nasehat Kami:

Katakan yang benar walau pahit,
dan bersikap adillah walau kepada yang tidak engkau sukai.

♾️ Camkanlah

Ketika orang-orang yang berada di atas kebenaran memilih diam,
maka orang-orang yang berada di atas kebatilan akan berbicara, lalu mencampuradukkan yang benar dengan yang salah hingga manusia sulit membedakannya.

🤲 Allahulmustaan

✍️ Abu Fuad Saiful
Makassar, 12 Syawwal 1447 H/1 April 2026 M
__
📲📡 Join • Save • Share ll
🔰 https://t.me/Salafy_Sulawesi

▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Смотреть все посты