🔥 Ketika Jarh Mufassar Diabaikan, dan Ta‘dil Mubham Dikedepankan
Fenomena Pembelaan Kesalahan dengan Mengabaikan Kaidah Ilmiah
(Bagian Kedua)
⚠️ Belum lama ini, muncul sebuah kalimat yang tampak merendah,
namun hakikatnya berbahaya:
"Kita bukan ulama, tidak boleh menilai siapa pun."
Sekilas terdengar tawadhu’.
Namun jika ditelusuri, ini bisa menjadi pintu besar bagi tersebarnya kebatilan.
🔰 Hakikat yang Harus Dijelaskan
Jika ucapan ini diterapkan secara mutlak, maka:
▪️Tidak ada yang boleh memperingatkan dari kesalahan
▪️Tidak ada yang boleh meluruskan penyimpangan
▪️Bahkan ummat akan dibiarkan bingung tanpa arahan
Lalu...
Siapa yang akan menjaga agama di tengah derasnya syubhat?
💥 Realita yang Terjadi:
Hari ini kita menyaksikan:
➡️ Ada yang jelas menyampaikan pemikiran menyimpang,
lalu ketika diluruskan, dia berkata:
"Jangan menilai, kita bukan ulama."
➡️ Ada yang berbicara agama tanpa dasar ilmu,
lalu ketika dikritik, dia menjawab:
"Siapa kamu? Ulama saja bukan."
➡️ Ada yang mencampur dan berusaha menyatukan antara sunniy dengan hizbiy,
lalu ketika diperingatkan, dia berkata:
"Jangan saling menjatuhkan,
Jangan saling menuding."
Padahal hakikatnya:
👉 kesalahan ingin dibiarkan tanpa koreksi
🔊Penegasan
Kita katakan dengan tegas,
Benar, kita tidak boleh:
▪️Berbicara tanpa ilmu,
▪️Menghukumi dengan hawa nafsu,
▪️Menjatuhkan seseorang tanpa bukti.
❌ Namun salah besar jika ucapan ini dijadikan alasan untuk menutup pintu penjelasan kebenaran.
🧠 Poin Penting
Bukan syarat menyampaikan kebenaran harus menjadi ulama,
tetapi syaratnya adalah mengetahui bahwa itu kebenaran.
Dan bukan syarat memperingatkan dari kesalahan harus menjadi imam besar,
tetapi syaratnya adalah memiliki ilmu tentang kesalahan tersebut.
⛔ Waspadalah…
Jika syubhat ini diterima:
(Jangan menilai, kita bukan ulama.)
Maka akibatnya:
▪️Penyimpangan tidak bisa disentuh
▪️Ummat kehilangan filter dalam beragama
🚦Perlu Disadari
Kaidah di atas sama sekali bukan untuk menjaga adab,
justru akan membuka pintu kerusakan dan agar penyimpangan tidak terbongkar.
🎯 Hakikatnya
👉 Mereka melarang tahdzir bukan karena suka kepada adab,
tetapi karena takut kesalahan mereka terbongkar.
👉 Mereka ingin manusia diam bukan karena tawadhu’,
tetapi agar kebatilan mereka tidak disentuh.
⚖️ Manhaj yang Benar:
▪️Tidak berbicara tanpa ilmu
▪️Tidak diam dari kebenaran
▪️Tidak menzalimi manusia
▪️Tidak membiarkan kesalahan
⚠️ Renungan
Ayyuhal ikhwah…
Jika setiap orang berkata:
"Saya bukan ulama, saya diam saja…"
Maka Bersiaplah:
▪️Kebatilan akan berbicara tanpa tandingan
▪️Penyimpangan akan menyebar tanpa bantahan
▪️Kebenaran akan tenggelam dalam diam
‼️ Kesimpulan
Diam dari kebatilan bukanlah tawadhu’,
tetapi bisa menjadi bentuk pengkhianatan terhadap kebenaran.
🤲 Allahulmustaan
✍️ Abu Fuad Saiful
Makassar, 12 Syawwal 1447 H/1 April 2026 M
__
📲📡 Join • Save • Share ll
🔰 https://t.me/Salafy_Sulawesi
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️