Каталог каналов Каналы в закладках Мои каналы Поиск постов Рекламные посты
Инструменты
Каталог TGAds beta Мониторинг Детальная статистика Анализ аудитории Бот аналитики
Полезная информация
Инструкция Telemetr Документация к API Чат Telemetr
Полезные сервисы

Не попадитесь на накрученные каналы! Узнайте, не накручивает ли канал просмотры или подписчиков Проверить канал на накрутку
Прикрепить Телеграм-аккаунт Прикрепить Телеграм-аккаунт

Телеграм канал «CTIS II Channel Telegram Ilmu Syar'i ||»

CTIS II Channel Telegram Ilmu Syar'i ||
2.6K
0
19
10
70
🔖 Belajar Meniti Jalan Salafussholih dengan bimbingan ulama kibar.
Подписчики
Всего
1 001
Сегодня
0
Просмотров на пост
Всего
23
ER
Общий
2.11%
Суточный
1.7%
Динамика публикаций
Telemetr - сервис глубокой аналитики
телеграм-каналов
Получите подробную информацию о каждом канале
Отберите самые эффективные каналы для
рекламных размещений, по приросту подписчиков,
ER, количеству просмотров на пост и другим метрикам
Анализируйте рекламные посты
и креативы
Узнайте какие посты лучше сработали,
а какие хуже, даже если их давно удалили
Оценивайте эффективность тематики и контента
Узнайте, какую тематику лучше не рекламировать
на канале, а какая зайдет на ура
Попробовать бесплатно
Показано 7 из 2 595 постов
Смотреть все посты
Пост от 01.04.2026 14:00
1
0
0
🔥 Ketika Jarh Mufassar Diabaikan, dan Ta‘dil Mubham Dikedepankan

Fenomena Pembelaan Kesalahan dengan Mengabaikan Kaidah Ilmiah

(Bagian Ketiga)

⚠️ Setelah kita memahami fenomena dan sebagian syubhat yang beredar, maka perlu kita bongkar satu hakikat penting:

👉 Mengapa jarh mufassar diabaikan, dan ta‘dil mubham justru diangkat?

Apakah ini sekadar ketidaktahuan?
Ataukah ada sesuatu yang lebih dalam?

🧠 Akar Permasalahan

Hakikatnya, fenomena ini tidak lepas dari beberapa sebab:

1️⃣ Mengagungkan individu di atas kebenaran

Sebagian orang telah menjadikan tokoh sebagai ukuran,
bukan menjadikan kebenaran sebagai ukuran.

➡️ Ketika tokoh tersebut dipuji, diterima tanpa ragu
➡️ Namun ketika dijelaskan kesalahannya, ditolak mentah-mentah

Padahal prinsip Ahlus Sunnah:

📖 Kebenaran tidak dikenal melalui tokoh,
tetapi tokoh dikenal melalui kebenaran.

2️⃣ Tidak memahami kaidah ilmiah dalam menilai

Banyak yang tidak membedakan antara:

▪️ Pujian yang global
▪️ Dengan kritik yang terperinci

Sehingga ketika ada yang mengatakan:

➡️ "Fulan orang baik"
➡️ "Fulan ustadz yang bagus"

Mereka mengira itu cukup untuk menolak seluruh penjelasan kesalahan.

Padahal:

⛔ Pujian umum tidak menggugurkan kritik yang jelas dan rinci.

3️⃣ Mengikuti hawa nafsu dalam menerima dan menolak

➡️ Yang sesuai dengan keinginan diterima
➡️ Yang menyelisihi ditolak

Meskipun yang datang adalah dalil dan penjelasan ilmiah.

💥 Bentuk-Bentuk Penyimpangan yang Terjadi

Di lapangan, kita melihat pola yang berulang:

❌ Mengalihkan pembahasan dari substansi ke personal

Ketika dijelaskan kesalahan:

➡️ Mereka tidak menjawab isi kritik
➡️ Tapi menyerang orang yang mengkritik

👉 "Siapa dia?"
👉 "Apa kapasitasnya?"

Padahal yang seharusnya ditimbang adalah:

📖 Apakah yang disampaikan itu benar atau tidak

❌ Mengangkat kebaikan untuk menutupi kesalahan

➡️ "Dia muridnya masyaikh"
➡️ "Dia punya banyak jasa"
➡️ "Dia sudah berdakwah lama"

Seolah-olah itu menjadi alasan untuk menutup kesalahan.

Padahal:

⛔ Kebaikan tidak menghapus kewajiban menjelaskan kesalahan.

❌ Mencampur antara nasihat dan ghibah

➡️ Setiap peringatan dianggap ghibah
➡️ Setiap bantahan dianggap permusuhan

Padahal para ulama telah menjelaskan:

📌 Menjelaskan kesalahan demi menjaga agama bukanlah ghibah yang tercela.

⚠️ Dampak yang Sangat Berbahaya

Jika fenomena ini dibiarkan:

▪️ Standar ilmiah akan rusak
▪️ Kebenaran menjadi kabur
▪️ Kebatilan mendapatkan legitimasi

Bahkan lebih dari itu:

👉 Manusia akan bingung, siapa yang harus diikuti, dan siapa yang harus diwaspadai

🔰 Kaidah yang Harus Ditegakkan

Ahlus Sunnah berdiri di atas prinsip:

📖 *الجرح المفسر مقدم على التعديل المجمل*

Artinya:

👉 Kritik yang jelas dan terperinci
lebih didahulukan daripada pujian yang umum

Selama:

✓ disampaikan dengan ilmu
✓ dengan bukti
✓ dan dengan kejujuran

🔊 Penegasan

Ayyuhal ikhwah…

Agama ini tidak dijaga dengan perasaan,
tidak pula dengan fanatisme kepada individu.

Tetapi dijaga dengan:

📖 ilmu
📖 kejujuran
📖 dan keberanian untuk mengatakan kebenaran

⚠️ Peringatan

Jangan sampai kita termasuk orang yang:

▪️ Menolak kebenaran karena tidak sesuai dengan tokohnya
▪️ Membela kesalahan karena cinta kepada individu
▪️ Dan menutup mata dari penjelasan yang terang

‼️ Penutup

Ketahuilah…

👉 Bukan setiap yang dipuji itu benar
👉 Dan bukan setiap yang dikritik itu salah

Namun yang menjadi ukuran adalah:

📖 Dalil dan kebenaran

🤲 اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه، وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه

✍️ Abu Fuad Saiful
Makassar, 12 Syawwal 1447 H/1 April 2026 M
__
📲📡 Join • Save • Share ll
🔰 https://t.me/Salafy_Sulawesi

▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Пост от 01.04.2026 08:24
1
0
0
🔥 Ketika Jarh Mufassar Diabaikan, dan Ta‘dil Mubham Dikedepankan

Fenomena Pembelaan Kesalahan dengan Mengabaikan Kaidah Ilmiah

(Bagian Kedua)

⚠️ Belum lama ini, muncul sebuah kalimat yang tampak merendah,
namun hakikatnya berbahaya:

"Kita bukan ulama, tidak boleh menilai siapa pun."

Sekilas terdengar tawadhu’.
Namun jika ditelusuri, ini bisa menjadi pintu besar bagi tersebarnya kebatilan.

🔰 Hakikat yang Harus Dijelaskan

Jika ucapan ini diterapkan secara mutlak, maka:

▪️Tidak ada yang boleh memperingatkan dari kesalahan
▪️Tidak ada yang boleh meluruskan penyimpangan
▪️Bahkan ummat akan dibiarkan bingung tanpa arahan

Lalu...
Siapa yang akan menjaga agama di tengah derasnya syubhat?

💥 Realita yang Terjadi:

Hari ini kita menyaksikan:

➡️ Ada yang jelas menyampaikan pemikiran menyimpang,
lalu ketika diluruskan, dia berkata:
"Jangan menilai, kita bukan ulama."

➡️ Ada yang berbicara agama tanpa dasar ilmu,
lalu ketika dikritik, dia menjawab:
"Siapa kamu? Ulama saja bukan."

➡️ Ada yang mencampur dan berusaha menyatukan antara sunniy dengan hizbiy,
lalu ketika diperingatkan, dia berkata:
"Jangan saling menjatuhkan,
Jangan saling menuding."

Padahal hakikatnya:

👉 kesalahan ingin dibiarkan tanpa koreksi

🔊Penegasan

Kita katakan dengan tegas,
Benar, kita tidak boleh:

▪️Berbicara tanpa ilmu,
▪️Menghukumi dengan hawa nafsu,
▪️Menjatuhkan seseorang tanpa bukti.

❌ Namun salah besar jika ucapan ini dijadikan alasan untuk menutup pintu penjelasan kebenaran.

🧠 Poin Penting

Bukan syarat menyampaikan kebenaran harus menjadi ulama,
tetapi syaratnya adalah mengetahui bahwa itu kebenaran.

Dan bukan syarat memperingatkan dari kesalahan harus menjadi imam besar,
tetapi syaratnya adalah memiliki ilmu tentang kesalahan tersebut.

⛔ Waspadalah…

Jika syubhat ini diterima:
(Jangan menilai, kita bukan ulama.)

Maka akibatnya:

▪️Penyimpangan tidak bisa disentuh
▪️Ummat kehilangan filter dalam beragama

🚦Perlu Disadari

Kaidah di atas sama sekali bukan untuk menjaga adab,
justru akan membuka pintu kerusakan dan agar penyimpangan tidak terbongkar.

🎯 Hakikatnya

👉 Mereka melarang tahdzir bukan karena suka kepada adab,
tetapi karena takut kesalahan mereka terbongkar.

👉 Mereka ingin manusia diam bukan karena tawadhu’,
tetapi agar kebatilan mereka tidak disentuh.

⚖️ Manhaj yang Benar:

▪️Tidak berbicara tanpa ilmu
▪️Tidak diam dari kebenaran
▪️Tidak menzalimi manusia
▪️Tidak membiarkan kesalahan

⚠️ Renungan

Ayyuhal ikhwah…

Jika setiap orang berkata:

"Saya bukan ulama, saya diam saja…"

Maka Bersiaplah:

▪️Kebatilan akan berbicara tanpa tandingan
▪️Penyimpangan akan menyebar tanpa bantahan
▪️Kebenaran akan tenggelam dalam diam

‼️ Kesimpulan

Diam dari kebatilan bukanlah tawadhu’,
tetapi bisa menjadi bentuk pengkhianatan terhadap kebenaran.

🤲 Allahulmustaan

✍️ Abu Fuad Saiful
Makassar, 12 Syawwal 1447 H/1 April 2026 M
__
📲📡 Join • Save • Share ll
🔰 https://t.me/Salafy_Sulawesi

▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Пост от 01.04.2026 01:21
1
0
0
🔥 Ketika Jarh Mufassar Diabaikan, dan Ta‘dil Mubham Dikedepankan

Fenomena Pembelaan Kesalahan dengan Mengabaikan Kaidah Ilmiah

(Bagian Pertama)

⚠️ Di zaman ini, di munculkan kembali syubhat yang mengkhawatirkan:

➡️ Orang yang berbicara dengan dalil dituduh keras
➡️ Orang yang menjelaskan kesalahan dituduh memecah belah
➡️ Bahkan orang yang memperingatkan dari penyimpangan dituduh sebagai tukang ghibah

Sementara di sisi lain:

➡️ Kesalahan disebarkan
➡️ Syubhat dipoles dengan kata-kata indah
➡️ Penyimpangan dibungkus dengan nama dakwah

Ini bukan lagi sekadar kekeliruan,
tetapi sudah menjadi upaya membalikkan kebenaran menjadi kebatilan, dan kebatilan seakan-akan kebenaran.

🧠 Hakikat yang Harus Dipahami

📚 Ilmu jarh wa ta’dil bukan budaya keras,
bukan pula tradisi mencela.

Ia adalah warisan kenabian untuk menjaga agama.

Maka siapa yang mencelanya, hakikatnya ia sedang:

▪️Membuka pintu kebatilan

▪️Menutup pintu penjelasan

▪️Dan memberikan ruang bagi penyimpangan berkembang tanpa kontrol

💥 Realita Saat Ini

Hari ini kita melihat:

➡️ Ada yang berbicara tanpa ilmu, lalu ketika diluruskan ia berkata: "jangan saling menjatuhkan"

➡️ Ada yang menyebarkan pemikiran menyimpang, lalu ketika dibantah ia berkata: "ini hanya perbedaan pendapat"

➡️ Ada yang terang-terangan salah dalam manhaj, lalu ketika diperingatkan ia berkata: "jaga ukhuwah, jangan mencari-cari aib"

Padahal yang sedang terjadi adalah:

👉 Menjadikan slogan-slogan indah sebagai tameng untuk melindungi kebatilan

⚖️ Penting untuk Diketahui

Salaf dan Salafy tidak menimbang dengan:

▪️Logika
▪️Perasaan
▪️Jumlah pengikut
▪️Kepopuleran

Tetapi dengan:

📖 Dalil dan kebenaran

⛔ Bahaya Slogan-Slogan Palsu Zaman Ini

❌ "Jangan bicara kesalahan orang"

➡️ Jika ini diterapkan:

▪️Ahli bid’ah dan hizbiyyin bebas berbicara
▪️Penyimpangan tidak terbendung
▪️Ummat bingung tanpa bimbingan

❌ "Semua ini hanya memecah belah"

➡️ Justru yang memecah belah adalah:

▪️Kesesatan yang dibiarkan
▪️Kebatilan yang tidak diluruskan

❌"Ambil baiknya saja, tinggalkan yang buruk"

➡️ Ini adalah slogan yang sangat berbahaya
Karena:

⛔ Tidak setiap orang mampu memisahkan racun dari makanan
ketika keduanya telah tercampur.

👉 Dan Ini yang Mereka Inginkan

📍Mereka ingin kita diam,
agar kesalahan mereka tidak tersentuh.

📍Mereka ingin kita lembut,
tapi bukan kepada kebenaran, melainkan kepada kebatilan.

📍Mereka berbicara tentang ukhuwah,
tapi bukan untuk menyatukan di atas sunnah,
melainkan untuk melindungi penyimpangan.

🔰 Penegasan

▶️ Kami tidak akan diam dari kebatilan
▶️ Tidak zalim dalam membantah
▶️ Tidak membela kesalahan
▶️ Tidak menjatuhkan tanpa burhan

Sadarilah‼️

Ayyuhal ikhwah…

🔂 Agama ini tidaklah rusak karena musuh dari luar,
tetapi rusak ketika standar kebenaran dibalik dari dalam.

⚫ Ketika yang salah dilindungi,
dan yang benar diserang,
maka saat itulah fitnah menjadi gelap.

🔊 Nasehat Kami:

Katakan yang benar walau pahit,
dan bersikap adillah walau kepada yang tidak engkau sukai.

♾️ Camkanlah

Ketika orang-orang yang berada di atas kebenaran memilih diam,
maka orang-orang yang berada di atas kebatilan akan berbicara, lalu mencampuradukkan yang benar dengan yang salah hingga manusia sulit membedakannya.

🤲 Allahulmustaan

✍️ Abu Fuad Saiful
Makassar, 12 Syawwal 1447 H/1 April 2026 M
__
📲📡 Join • Save • Share ll
🔰 https://t.me/Salafy_Sulawesi

▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Пост от 30.03.2026 15:51
3
0
0
📢 HIMBAUAN TA’AWUN & DONASI DAKWAH MEDIA SOSIAL

🎞️ JEJAK SYI'AH 👣

📚 Allah ﷻ berfirman:

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ

"Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan." (Al-Maidah: 2)

📌 Pembimbing:
- Al Ustadz Luqman Ba’abduh
- Al Ustadz Ruwaifi’
- Al Ustadz Abu Muhammad Musa
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman
- Al Ustadz Abu Jundi
- Al Ustadz Abu Fuad Saiful
حفظهم الله
Пост от 30.03.2026 03:45
1
0
0
📢 INFO PENUTUPAN TA'AWUN

Alhamdulillah dengan Taufiq dari Allah ta'ala semata kemudian Ta'awun dari para ikhwah bahwa biaya untuk Abu Abduh sementara telah mencukupi, maka dengan ini kami infokan bahwa Ta'awun untuk beliau di TUTUP.

💦💦Jazakumullahu khairan kepada segenap ikhwah yang telah membantu meringankan beban beliau dan keluarga

Barakallahufikum

✏️ MENGETAHUI
Asatidzah Tanjungbalai
Пост от 28.03.2026 08:51
8
0
0
🍂 ﷽ 🍃
Dengan mengharap Ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala semata

📜 Hadirilah Kajian Islam Ilmiah Kota Sidoarjo

📝 Tematik

🎙 Pemateri:
Al-Ustadz Abu Habib Ibrahim Waliulu حفظه الله تعالى

🗓️ Hari Sabtu, 9 Syawal 1447 H / 28 Maret 2026 M

⏱ Ba'da Maghrib - Selesai

📌 Terbuka untuk Umum Muslim dan Muslimah

🕌 Bertempat di:
MASJID MA'HAD IMAM AL-MUZANI, WONOAYU - SIDOARJO

📞 wa.me/+6285258857783 (Ust. Abu Fian)

📡 Live Streaming di:
📱 Channel Telegram Salafy Sidoarjo: https://t.me/salafysidoarjo
--------------------------------------
🌐 Join Channel • Share • Save ||
📡 https://t.me/salafysidoarjo
🔰 Dakwah Hikmah Ahlus Sunnah Wal Jamaah
▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️
Изображение
Пост от 28.03.2026 08:50
7
0
0
💐📝 MENGAPA PUASA ENAM HARI SYAWAL SETARA BERPUASA SATU TAHUN PENUH? BERIKUT PENJELASANNYA!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa satu bulan Ramadhan penuh, kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia seakan berpuasa seperti satu tahun penuh.” (HR. Muslim No. 1164)

📚 Penjelasan Ulama

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan:

قَالَ الْعُلَمَاءُ: وَإِنَّمَا كَانَ ذَلِكَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ لِأَنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا فَرَمَضَانُ بِعَشْرَةِ أَشْهُرٍ وَالسِّتَّةُ بِشَهْرَيْنِ

Para ulama berkata: Sesungguhnya hal itu bisa seperti puasa sepanjang tahun karena satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Maka puasa Ramadhan sebanding dengan sepuluh bulan, dan enam hari di bulan Syawwal sebanding dengan dua bulan. (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim Ibn al-Hajjaj, 8/56)

🆘 Perhatian Penting!

Makna “setara puasa setahun” bukan pada lamanya berpuasa, tetapi pada besarnya pahala, sebagaimana penjelasan di atas. Dan juga hal ini dipertegas dengan penjelasan Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah:

فَرَمَضَانُ بِعَشْرَةِ أَشْهُرٍ، وَالسِّتُّ بِشَهْرَيْنِ، الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، فَكَأَنَّهُ صَامَ الدَّهْرَ كُلَّهُ، مَعَ أَنَّ اللَّهَ بِلُطْفِهِ – جَلَّ وَعَلَا – جَعَلَ رَمَضَانَ كَفَّارَةً لِمَا بَيْنَ الرَّمَضَانَيْنِ.

Puasa Ramadhan setara dengan puasa sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari di bulan Syawwal setara dengan puasa dua bulan. *Setiap kebaikan pahalanya dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat, jadi seolah-olah dia seperti puasa setahun penuh.* Bersamaan dengan itu, dengan kemurahan-Nya Allah ﷻ menjadikan puasa Ramadhan sebagai kafarah (penghapus dosa) antara dua Ramadhan. (Sumber Fatwa: http://www.binbaz.org.sa/noor/12117)

👉🏻 Terkait kaidah bahwa setiap kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kali lipat, terdapat firman Allah Ta’ala:

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ

“Barang siapa yang melakukan satu amal kebaikan, maka baginya pahala sepuluh kali lipat amalnya.” (Al-An’am: 160)

✍🏻 Penulis: Muhammad Kholis Ibrahim

💡💡📝📝💡💡
WA al I'tishom

Publikasi Channel Telegram Salafi Aceh https://t.me/salafi_aceh/2233
Смотреть все посты