Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, dengan pertolongan Allah Ta’ala kemudian kepedulian dan ta’awun dari kaum muslimin, kebutuhan biaya pengobatan dan operasi ananda Ahsan Qois telah mencukupi.
Oleh karena itu, penggalangan bantuan/ta’awun kami nyatakan DITUTUP.
Kami mengucapkan _jazakumullahu khairan katsiran_ kepada seluruh ikhwan dan akhwat yang telah membantu, berdonasi, mendoakan, menyebarkan informasi, serta memberikan dukungan kepada keluarga.
Semoga Allah Ta’ala membalas seluruh kebaikan dengan pahala yang berlipat ganda, melapangkan rezeki, menjaga keluarga kita semua, dan menjadikannya sebagai amal shalih yang diterima di sisi-Nya.
Kami juga memohon doa agar proses pemulihan ananda Ahsan Qois berjalan dengan baik serta Allah memberikan kesembuhan yang sempurna.
📺📻 Simak secara live di Channel Telegram
💻Link Channel Telegram
https://t.me/SalafyBandung
📡 Live juga di
Radio Manhajul Anbiya - Radio Salafy Bandung
Web : http://manhajulanbiya.com
Aplikasi http://manhajulanbiya.com/radio
📱Website
www.SalafyBandung.com
Keterangan
Link audio Kajian Bagian-1 bisa download di:
https://t.me/ahlussunnah_cilacap/3961
✍🏼 Fadhilatusy Syaikh DR. Arafat bin Hasan al-Muhammadi hafizhahullah,
السؤال:
وهذا السؤال الثالث عشر يقول: هل يجوز أخذ العلم عن طالب المبتدئ وإن ثبت كذبه؟
أجاب عنه الشيخ عرفات المحمدي حفظه الله تعالى:
لا يجوز الأخذ عن من كذب، الكاذب عليه أن يتوب وليس أهلا للتدريس، ولا يؤخذ العلم عن الكذاب ولا عن السفيه، ولا عن أهل البدع،
ولهذا لما سألوا الإمام أحمد عن رجل كذب كذبة واحدة -واحدة- قال الإمام أحمد: "هذا لا يكون في موضع العدالة"، فإن الكذب شديد،
فلا يجوز أبدا أن يتولى هؤلاء التدريس، يذهب يصلح نفسه أولاً ويحتاج أن يطلب العلم كثيراً حتى يتربى ويتأدب.
📎 https://t.me/ahlalhadith3/14554
📑 Pertanyaan:
Dan ini pertanyaan ketiga belas, ia bertanya: "Apakah diperbolehkan mengambil ilmu dari seorang penuntut ilmu pemula, meskipun telah terbukti ia berdusta?"
🎙️ Jawaban:
Tidak diperbolehkan mengambil ilmu dari orang yang berdusta. Orang yang berdusta harus bertaubat dan ia tidak layak untuk mengajar. Ilmu tidak boleh diambil dari seorang pendusta, orang yang bodoh (safih), maupun dari ahli bid'ah.
Oleh karena itu, ketika mereka bertanya kepada Imam Ahmad tentang seseorang yang pernah berdusta satu kali saja—hanya satu kali—Imam Ahmad menjawab: "Orang ini tidak lagi berada di posisi yang adil (kredibel)," karena perkara dusta itu sangatlah berat.
Maka, tidak boleh sama sekali orang-orang seperti ini memegang urusan mengajar. Hendaknya ia pergi memperbaiki dirinya terlebih dahulu dan perlu menuntut ilmu yang banyak sampai ia terdidik dan memiliki adab.
📝 Penerjemah:
Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
➖➖➖
📲 Join • Save • Share ll
https://t.me/kajiansalafypalopo