Perasaan bukanlah amal hati, dan bukan pula perilaku hati.
Memahami perbedaan ini sangat penting. Jika tidak, seseorang bisa keliru dalam menjalani hidup, baik dalam hubungannya dengan diri sendiri, dengan Allah, maupun dengan orang lain.
Perasaan hati itu datang begitu saja. Spontan, tidak direncanakan, sifatnya sementara, dan seringkali muncul tanpa pertimbangan yang matang.
Sementara itu, amal hati adalah sesuatu yang kita bangun dan pupuk dengan sadar, kita pilih, kita arahkan, lalu kita jaga dan kuatkan. Ia dikendalikan oleh akal, pemahaman, perenungan, dan kebijaksanaan yang Allah tanamkan dalam diri manusia.
Contohnya, ketika kita disakiti lalu muncul rasa marah, itu wajar. Itu hanya reaksi spontan yang tidak kita pilih. Dalam situasi ini, kita harus menerima, memahami, dan jangan bersikap keras pada diri sendiri, karena memang begitulah manusia diciptakan: untuk diuji.
Namun, jika rasa marah itu kita pelihara, kita rawat, bahkan kita biarkan tumbuh, maka berubahlah ia menjadi amal hati.
Jika amarah tadi tidak sesuai dengan yang Allah ridhai, maka ia menjadi keburukan. Bahkan jika dibiarkan, ia bisa menguasaimu, bukan lagi kamu yang menguasainya.
Di sinilah makna sabda Nabi ﷺ: “Janganlah marah!” berfungsi.
Beliau bukan melarang munculnya rasa marah secara tiba-tiba, dan bukan pula melarang marah yang benar. Tapi yang dilarang adalah marah yang dipelihara hingga merusak.
Begitu juga saat kita mendengar tentang neraka lalu muncul rasa takut yang kuat. Itu hanyalah perasaan sesaat.
Jika kita tenggelam di dalamnya, hal itu bisa menyeret pada keputusasaan. Padahal, rasa takut yang dicintai Allah adalah yang lahir dari pemahaman tentang-Nya: bahwa Dia Maha Pengampun, Maha Adil, dan Maha Bijaksana.
Masalah muncul ketika seseorang menyerahkan kendali hidupnya pada perasaan yang tidak ia pahami.
Sebaliknya, menolak perasaan hati secara mentah-mentah juga keliru. Karena perasaan itu adalah awal dari proses, seperti bayi yang lahir dalam keadaan suci. Ia bisa menjadi baik atau buruk, tergantung bagaimana kita membimbingnya.
Seseorang juga bisa menzalimi dirinya jika ia lalai membangun amal hati, tidak mengarahkan, tidak mengendalikan, dan tidak melatihnya.
Bahkan hubungan dengan Allah bisa rusak jika:
- kepanikan disangka sebagai “takut kepada Allah”,
- emosi yang meledak-ledak dianggap “amarah karena Allah”,
- atau keinginan hawa nafsu disebut sebagai “harap kepada rahmat Allah”.
Perasaan itu seperti bayi yang baru lahir, lalu menangis keras. Janganlah ia dibenci lalu diabaikan, tapi juga jangan dituruti sampai ia menguasai hidup kita.
Sedangkan amal hati adalah “anak” yang kita besarkan. Kalau dididik dengan benar, sesuai yang Allah ridhai, ia akan tumbuh menjadi kebaikan.
Namun jika tidak, maka berhati-hatilah… karena ia bisa menjadi sumber kerusakan dalam hidup.
Disadur dari tulisan Dr. Ahmad Salim
#nasihat
#kejiwaan