Каталог каналов Каналы в закладках Мои каналы Поиск постов Рекламные посты
Инструменты
Каталог TGAds beta Мониторинг Детальная статистика Анализ аудитории Бот аналитики
Полезная информация
Инструкция Telemetr Документация к API Чат Telemetr
Полезные сервисы

Не попадитесь на накрученные каналы! Узнайте, не накручивает ли канал просмотры или подписчиков Проверить канал на накрутку
Прикрепить Телеграм-аккаунт Прикрепить Телеграм-аккаунт

Телеграм канал «Belajar Tauhid»

Belajar Tauhid
778
0
32
16
1.1K
Terima kasih telah bergabung dengan Chanel Belajar Tauhid dan semoga materi yang ada bermanfaat bagi kita semua.
.
Link e-Book & e-Paper Belajar Tauhid: http://bit.ly/ebook-gratis-belajartauhid
.
Salam 'alaikum
Подписчики
Всего
3 251
Сегодня
-2
Просмотров на пост
Всего
131
ER
Общий
2.31%
Суточный
4.6%
Динамика публикаций
Telemetr - сервис глубокой аналитики
телеграм-каналов
Получите подробную информацию о каждом канале
Отберите самые эффективные каналы для
рекламных размещений, по приросту подписчиков,
ER, количеству просмотров на пост и другим метрикам
Анализируйте рекламные посты
и креативы
Узнайте какие посты лучше сработали,
а какие хуже, даже если их давно удалили
Оценивайте эффективность тематики и контента
Узнайте, какую тематику лучше не рекламировать
на канале, а какая зайдет на ура
Попробовать бесплатно
Показано 7 из 778 постов
Смотреть все посты
Пост от 01.02.2026 02:22
1
0
0
5) Implikasi etis dan keilmuan
Teks ini mengandung pelajaran besar bagi etika beragama dan berilmu bahwa kebenaran harus diterima karena ia benar, bukan karena siapa yang menyampaikannya. Fanatisme golongan adalah penghalang utama keadilan ilmiah dan keikhlasan beragama. Kejujuran sejati diuji bukan saat kita berbicara, tetapi saat kita mendengar dan menilai. Dengan demikian, pesan Ibnu Taimiyah bukan sekadar kritik personal, melainkan peringatan metodologis bahwa agama rusak bukan hanya oleh kebohongan yang dibuat-buat, tetapi juga oleh kebenaran yang ditolak karena hawa nafsu.

Kurator: MNIM

#manhaj
Пост от 01.02.2026 02:22
75
0
1
Ibnu Taimiyah rahimahullah menuturkan,

وأنت تجد كثيرًا من المنتسبين إلى علم ودين لا يكذبون فيما يقولونه، بل لا يقولون إلا الصدق، لكن لا يقبلون ما يخبر به غيرهم من الصدق، بل يحملهم الهوى والجهل على تكذيب غيرهم، وإن كان صادقًا، إما تكذيب نظيره، وإما تكذيب من ليس من طائفته، ونفس تكذيب الصادق هو من الكذب؛ ولهذا قرنه الله بالكاذب على الله، فقال: فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَبَ عَلَى اللَّهِ وَكَذَّبَ بِالصِّدْقِ إِذْ جَاءَهُ [الزمر:32] فكلاهما كاذب، هذا كاذب فيما يخبر به عن الله، وهذا كاذب فيما يخبر به عن المخبر عن الله -تبارك وتعالى

“Engkau akan mendapati banyak orang yang menisbatkan diri kepada ilmu dan agama; mereka tidak berdusta dalam apa yang mereka ucapkan, bahkan tidak mengatakan kecuali kebenaran. Akan tetapi, mereka tidak mau menerima kebenaran yang disampaikan oleh orang lain. Hawa nafsu dan kebodohan mendorong mereka untuk mendustakan orang lain, meskipun orang itu benar. Ada kalanya mereka mendustakan orang yang setara dengan mereka, dan ada kalanya mereka mendustakan orang yang bukan dari golongan mereka. Padahal, mendustakan orang yang benar itu sendiri termasuk perbuatan dusta. Karena itulah Allah menyandingkannya dengan orang yang berdusta atas nama Allah, sebagaimana firman-Nya,


فَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَبَ عَلَى اللّٰهِ وَكَذَّبَ بِالصِّدْقِ اِذْ جَاۤءَهٗۗ اَلَيْسَ فِيْ جَهَنَّمَ مَثْوًى لِّلْكٰفِرِيْنَ

“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika kebenaran itu datang kepadanya?” [QS. az-Zumar: 32]

Maka keduanya sama-sama pendusta: yang satu berdusta dalam apa yang ia nisbatkan kepada Allah, sedangkan yang lain berdusta dalam mendustakan orang yang menyampaikan kebenaran tentang Allah, Mahasuci dan Mahatinggi Dia.” [Minhaj As-Sunnah 7/192]

*Penjelasan*
Teks di atas memberikan sejumlah faidah kepada kita.

1) Kebenaran yang diucapkan tidaklah sama dengan sikap yang benar terhadap kebenaran
Ibnu Taimiyah membuka dengan observasi tajam. Banyak orang yang jujur dalam ucapan, mereka menyampaikan hal-hal yang benar, namun gagal bersikap jujur terhadap kebenaran ketika datang dari pihak lain. Ini membedakan dua level penting, yaitu ṣidq al-khabar (benarnya isi pernyataan) dan ṣidq al-mauqif (kejujuran sikap terhadap kebenaran). Seseorang bisa benar dalam berbicara, tetapi tetap tercela karena menolak kebenaran yang tidak datang dari dirinya atau kelompoknya.

2) Akar masalah: hawa nafsu dan kebodohan, bukan kurang dalil
Penolakan terhadap kebenaran, menurut Ibnu Taimiyah, bukan terutama karena kurangnya bukti, melainkan karena hawa nafsu (al-hawā) dan kebodohan (al-jahl). Hawa nafsu melahirkan sikap defensif dan fanatisme; kebodohan menutup kemampuan membedakan antara siapa yang benar dan siapa yang keliru. Akibatnya, seseorang mendustakan yang benar, baik karena rivalitas dengan yang setara, maupun karena sekat golongan dan identitas.

3) Mendustakan orang yang benar adalah bentuk kebohongan
Poin kunci teks ini adalah tesis moral yang tegas bahwa mendustakan orang yang benar termasuk perbuatan dusta. Kebohongan tidak hanya terjadi saat seseorang mengada-adakan berita palsu, tetapi juga ketika ia menolak kebenaran yang nyata. Karena itu, Al-Qur’an menyandingkan dua jenis kebohongan, yaitu berdusta atas nama Allah dan mendustakan kebenaran ketika ia datang. Keduanya sama-sama tercela, meski objek kebohongannya berbeda.

4) Dua wajah kebohongan agama
Ibnu Taimiyah menutup dengan klasifikasi yang tajam bahwa terdapat dua pendusta. Pendusta pertama: berdusta tentang Allah, mengatasnamakan-Nya dengan ajaran atau klaim yang tidak benar. Pendusta kedua: mendustakan orang yang menyampaikan kebenaran tentang Allah. Pendusta yang pertama merusak agama dari sisi isi, yang kedua merusaknya dari sisi penerimaan. Keduanya sama-sama menghalangi sampainya hidayah dan menutup jalan kebenaran bagi diri sendiri dan orang lain.
Пост от 31.01.2026 19:12
79
0
1
Ibnu Taimiyah rahimahullah menuturkan,

وصاحب الهوى يعميه الهوى ويصمُّه، فلا يستحضر ما لله ورسوله في ذلك ولا يطلبه، ولا يرضى لرضا الله ورسوله صلى الله عليه وسلم، ولا يغضب إذا حصل ما يغضب له بهواه، ويكون مع ذلك معه شبهة دين: أنَّ الذي يرضى له ويغضب له أنَّه السُّنَّة، وأنَّه الحق، وهو الدين، فإذا قُدِّر أنَّ الذي معه الحق المحض دين الإسلام، ولم يكن قصده أن يكون الدين كله لله، وأن تكون كلمة الله هي العليا، بل قصد الحميَّة لنفسه وطائفته، أو الرياء، ليُعظَّم هو ويُثنى عليه، أو فعل ذلك شجاعة وطبعاً، أو لغرض من الدنيا: لم يكن لله، ولم يكن مجاهداً في سبيل الله، فكيف إذا كان الذي يدَّعي الحق والسُّنَّة هو كنظيره معه حق وباطل، وسنَّة وبدعة، ومع خصمه حق وباطل، وسنة وبدعة؟!"

“Orang yang dikuasai oleh hawa nafsu akan dibutakan dan ditulikan olehnya. Ia tidak menghadirkan dalam dirinya apa yang menjadi hak Allah dan Rasul-Nya dalam perkara tersebut, dan tidak pula mencarinya. Ia tidak ridha karena keridaan Allah dan Rasul-Nya ﷺ, dan tidak marah (karena Allah dan Rasul-Nya); sebaliknya, ia justru marah ketika terjadi sesuatu yang bertentangan dengan hawa nafsunya. Bersamaan dengan itu, ia memiliki syubhat keagamaan, yaitu anggapan bahwa apa yang ia ridhai dan ia marahi itulah sunnah, itulah kebenaran, dan itulah agama.

Maka sekalipun seseorang berada di atas kebenaran murni, yaitu agama Islam, namun tujuan utamanya bukan agar agama ini seluruhnya ditujukan hanya kepada Allah dan agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, melainkan ia bertujuan membela fanatisme diri dan kelompoknya, atau karena riya’ agar dirinya diagungkan dan dipuji, atau melakukannya semata karena keberanian dan tabiatnya, atau demi kepentingan duniawi, maka (amal itu) tidaklah tulus dilakukan karena Allah dan ia bukanlah seorang mujahid di jalan Allah.

Lalu bagaimana lagi keadaannya jika orang yang mengaku berada di atas kebenaran dan sunnah itu justru seperti lawannya, yang pada dirinya terdapat kebenaran dan kebatilan, sunnah dan bid‘ah; sementara pada pihak lawannya pun terdapat kebenaran dan kebatilan, sunnah dan bid‘ah?!” [Minhaj As-Sunnah 5/256]

*Penjelasan*
Kebenaran isi suatu sikap tidak otomatis menjadikannya bernilai ibadah. Sekalipun berada di atas Islam yang benar, amal menjadi tidak bernilai jika tidak diniatkan untuk Allah, semisal didorong fanatisme, riya’, watak pribadi, keberanian semata, atau kepentingan dunia. Ukurannya bukan kerasnya pembelaan, tetapi orientasinya apakah demi Allah atau demi diri dan kelompok. Ikhlash menuntut agar ridha dan marah mengikuti ridha dan murka Allah, bukan selera pribadi. Agar mudah diterima, pembelaan terhadap sesuatu yang dianggap benar terkadang dibalut alasan keagamaan seperti Ibnu Taimiyah sampaikan; karena jika dilandaskan atas ketidaksukaan personal, keburukan hati akan terpampang jelas.

Dalam banyak perbedaan keagamaan, kebenaran dan kesalahan kerap bercampur pada kedua pihak, ada sunnah dan bid‘ah, ada hak dan batil. Manhaj yang lurus menolak logika hitam-putih dalam kasus seperti ini, ia menuntut penilaian yang proporsional berbasis dalil, menerima kebenaran di mana pun ia berada dan menolak kesalahan tanpa menafikan kebaikan. Di sinilah keilmuan dan keadilan diuji, terutama saat dalil tidak menguntungkan kelompok sendiri.

Teks Ibnu Taimiyah ini juga mengkritik pembenaran hawa nafsu dengan label “sunnah” dan “agama”. Etika perbedaan menuntut kejujuran intelektual dan kelapangan dada sehingga tidak memonopoli kebenaran, tidak menuduh secara serampangan, dan tidak memvonis niat. Mengakui adanya kebenaran pada pihak lain adalah tanda kematangan akhlak, dengan tujuan utama mendekatkan diri pada kebenaran dan menjaga persatuan umat di atas prinsip yang benar.

Kurator: MNIM

#manhaj
Пост от 31.01.2026 04:19
120
0
2
Temans, kita yakin bahwa rahmat Allah lebih luas daripada dosa-dosa para hamba.

Ketika Fir‘aun, di puncak keangkuhan dan kezalimannya, berkata,

أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلْأَعْلَىٰ

_“Akulah tuhanmu yang paling tinggi.”_ [QS. An-Nazi'at: 24]

Ucapan itu bukan sekadar kesalahan sesaat, melainkan pernyataan kekufuran dan kesombongan yang mencapai batas tertinggi.

Namun demikian, tetap datang perintah Allah Ta‘ala kepada Musa dan Harun ‘alaihima as-salam,

اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ • فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

_“Pergilah kalian berdua kepada Fir‘aun; sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.”_ [QS. Thaha: 43-44]

Inilah rahmat Allah yang mendahului murka-Nya Rahmat yang mengarahkan ucapan lembut bahkan kepada makhluk yang paling durhaka, agar pintu kembali tetap terbuka.

Temans, jika demikian luasnya kesantunan dan kelembutan Allah kepada Fir‘aun yang berkata, _“Akulah tuhanmu yang paling tinggi”_, maka bagaimana pula kedekatan-Nya dengan seorang hamba yang masih mau bersujud seraya berkata,

سبحان ربي الأعلى

_“Mahasuci Tuhan-ku Yang Mahatinggi.”_

#tadabbur
Пост от 30.01.2026 02:53
99
0
2
العلم يشرح الصدر، ويوسِّعُه حتى يكونَ أوسعَ من الدنيا، والجهلُ يورثه الضيقَ والحَصَر والحبس، فكلما اتسع علمُ العبد انشرح صدره واتسع، وليس هذا لكلّ علم، بل للعلم الموروث عن الرسول صلى الله عليه وسلم، وهو العلم النافع، فأهله أشرح الناس صدورا، وأوسعهم قلوبا، وأحسنهم أخلاقا، وأطيبهم عيشا

“Ilmu itu melapangkan dada dan meluaskan dada hingga membuatnya lebih luas daripada dunia. Sedangkan kebodohan mewariskan kesempitan, rasa terhimpit, dan keterkungkungan.

Maka setiap kali ilmu seorang hamba bertambah luas, dadanya pun semakin lapang dan terbuka.

Namun, ini bukan berlaku untuk setiap jenis ilmu, melainkan hanya berlaku untuk ilmu yang diwariskan dari Rasulullah ﷺ, yaitu ilmu yang bermanfaat.

Orang-orang yang memiliki ilmu ini adalah manusia yang paling lapang dadanya, paling luas hatinya, paling baik akhlaknya, dan paling nikmat kehidupannya.”

Ibnu Al-Qayyim rahimahullah

#nasihat
Пост от 27.01.2026 18:15
118
0
4
Kita bersujud untuk memohon, lalu Allah memberi kita apa yang bahkan tidak kita minta.

Temans, berdoa di saat sujud bukanlah sekadar menyampaikan permintaan, tetapi merupakan momen kepasrahan dan kerendahan hati kita di hadapan Allah ta'ala.

Pada saat itulah pintu-pintu langit dibukakan. Setiap sujud bisa menjadi akhir dari sebuah kesedihan dan awal dari kelapangan.

Ada doa-doa yang tidak terangkat kecuali dari kedalaman sujud dan kita tidak akan pernah rugi ketika mengetuk pintu Allah dalam keadaan bersujud.

Rasulullah ﷺ bersabda,

أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد، فأكثروا الدعاء

“Keadaan terdekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia bersujud, maka perbanyaklah do'a.”

Ketika kita meletakkan dahi di tanah, Allah melihat kita pada posisi yang tak pernah dilihat siapa pun.

Kita mengadu kepada-Nya dengan segala kelemahan, lalu Dia menguatkan kita; kita menangis karena luka dan sakit, lalu Dia memulihkan kita.

Membiasakan berdo'a dalam sujud mampu mengubah alur hari-hari kita dan mengganti takdir dengan kelembutan yang hanya dapat dirasakan oleh mereka yang pernah merasakan dampaknya.

Tak ada seorang pun yang mendengar rintihan kita selain Allah, dan itu sudah lebih dari cukup!

#tauhid
Пост от 23.01.2026 07:05
70
0
2
Allah ta'ala berfirman,

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

“Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi; tetapi Dia menurunkannya menurut ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat keadaan hamba-hamba-Nya.” [QS. Asy-Syu'ara: 27]

Allah ﷻ Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya.

Seandainya rezeki dilapangkan tanpa batas, banyak manusia justru akan melampaui batas dan lupa kepada-Nya.

Karena itu Allah menurunkan rezeki dengan ukuran yang paling sesuai, bukan karena kekurangan, tetapi karena kasih sayang, ilmu, dan kebijaksanaan-Nya terhadap hamba-Nya.

Sedikit yang menenangkan dan mendekatkan kepada Allah lebih baik daripada banyak tapi melalaikan.

#tadabbur
5
Смотреть все посты