Temans, kebersihan hati bukan sekadar perasaan, bukan pula penilaian manusia. Ia adalah konsep dalam agama, yang ukurannya jelas: keimanan.
Hati yang paling bersih adalah hati yang paling tinggi imannya. Dan iman dalam ajaran Ahlu as-Sunnah bukan hanya ucapan, tapi juga amal, amal hati, lisan, dan perbuatan.
Shalat, puasa, berbakti kepada orang tua, dan seluruh amal kebaikan, semuanya berawal dari hati, yaitu hati yang membenarkan, mencintai, lalu menggerakkan tubuh untuk melaksanakannya.
Maka jangan salah paham…orang yang tidak shalat, meskipun terlihat lembut, baik, dan tidak iri, bukan berarti hatinya bersih.
Sebab, ukuran kebersihan hati bukan sekadar akhlak lahiriah, tapi ketaatan kepada Allah.
Semakin kuat seseorang menjalankan rukun Islam dan iman, menjauhi dosa besar dan kecil, maka semakin bersih, terang, dan baik hatinya, dan semakin dekat ia kepada kebahagiaan surga.
Sebaliknya, setiap dosa akan mengotori hati. Semakin besar dosanya, semakin gelap hatinya.
Dan yang paling menghitamkan hati adalah syirik, kekufuran, serta meninggalkan kewajiban-kewajiban besar seperti shalat, zakat, puasa, dan haji, disusul dosa-dosa besar lainnya.
Pada akhirnya, yang selamat adalah mereka yang kebaikannya lebih berat daripada dosanya, yang cahaya hatinya mengalahkan kegelapannya.
Temans, maka jangan tertipu oleh standar manusia…karena ukuran kebersihan hati bukan menurut perasaan, tapi menurut keimanan dan ketaatan.
Wallahu a'lam.
#nasihat
#tauhid