*Hati Orang yang Tulus*
Hati seorang yang benar-benar jujur di hadapan Allah tidak dipenuhi oleh rasa “aku pantas mendapat ini dan itu”.
Ia tidak berdiri di tengah hamparan nikmat dengan perasaan berhak, tetapi berdiri sebagai hamba yang kosong dari kebanggaan diri; berpuasa dari klaim dan pengakuan.
Lihatlah bagaimana kerendahan hati Nabi Musa 'alaihi as-salam ketika Allah berbicara langsung kepadanya.
Beliau berkata,
قَالَ رَبِّ اِنِّىۡ قَتَلۡتُ مِنۡهُمۡ نَفۡسًا فَاَخَافُ اَنۡ يَّقۡتُلُوۡنِ. وَاَخِىۡ هٰرُوۡنُ هُوَ اَفۡصَحُ مِنِّىۡ لِسَانًا فَاَرۡسِلۡهُ مَعِىَ رِدۡاً يُّصَدِّقُنِىۡٓ اِنِّىۡۤ اَخَافُ اَنۡ يُّكَذِّبُوۡنِ
_"Dia (Musa) berkata, "Ya Tuhanku, sungguh aku telah membunuh seorang dari golongan mereka, sehingga aku takut mereka akan membunuhku. Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripada aku,1 maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku; sungguh, aku takut mereka akan mendustakanku."_ [Al-Qashash: 33-34]
Beliau mengemukakan berbagai alasan, berharap diberi keringanan dari beratnya tugas dakwah dan kerasnya ujian, karena ia tahu kenabian penuh dengan kesulitan. Namun ia tidak mendapatkan dispensasi atau pembebasan dari amanah yang telah dibebankan kepadanya.
Saat Musa menyadari kefakirannya dan lari dari kelemahannya, Allah pun menaunginya, menguatkannya dengan saudaranya, menolongnya dengan kebersamaan-Nya, pertolongan-Nya, petunjuk-Nya, dan peneguhan-Nya.
Teladan paling agung dalam hal ini ada pada Nabi kita ﷺ.
Beliau pulang dengan hati bergetar, penuh rasa takut, lalu berkata kepada Khadijah radhiallahu 'anha,
لقد خشيت على نفسي!
_"Sungguh saya mengkhawatirkan diriku!"_
Semboyan beliau dalam sepi dan ramai adalah
إنما أنا عبد!
_"Saya hanyalah seorang hamba!"_
Beliau melihat kefakirannya dan lari dari kelemahannya, maka Allah melindunginya dan meninggikan kedudukannya pada maqam mahmud di tengah umat terdahulu dan umat yang datang kemudian, karena sempurnanya penghambaan beliau dan dalamnya ketergantungan beliau kepada Allah, Rabb alam semesta.
Lihat pula Ummu Al-Mukminin ‘Aisyah 'anha dalam peristiwa Hadits Al-Ifk. Beliau berkata,
والله ما كنت أظن أن الله منزلٌ في شأني وحيًا يُتلى … ولكن كنت أرجو أن يرى رسول الله ﷺ في النوم رؤيا يُبرئني الله بها!
_“Demi Allah, aku tidak menyangka bahwa Allah akan menurunkan wahyu tentang diriku yang dibaca sampai hari Kiamat._
_Kedudukanku di dalam diriku terasa terlalu kecil untuk Allah bicarakan dalam wahyu yang dibaca._
_Aku hanya berharap Rasulullah ﷺ bermimpi, lalu Allah membebaskanku melalui mimpi itu.”_
Beliau merasa dirinya terlalu kecil untuk dibicarakan dalam wahyu yang dibaca hingga hari Kiamat.
Ketika ia menyadari kefakirannya dan lari dari kelemahannya, Allah pun menampungnya dengan kemurahan dan rahmat-Nya, serta memuliakannya dengan wahyu sebagai pembebasan dirinya; sebuah kehormatan yang tak akan pernah pudar.
Maka pahamilah prinsip besar ini yaitu:
Kosongkan diri kita dari keinginan tampil!
Bersihkan hati kita dari rasa “merasa pantas”!
Niscaya kita akan mengenakan pakaian kemuliaan, meraih kehormatan kebersamaan dengan Allah, serta mendapatkan pertolongan dan dukungan Rabbani.
#nasihat