Каталог каналов Каналы в закладках Мои каналы Поиск постов Рекламные посты
Инструменты
Каталог TGAds beta Мониторинг Детальная статистика Анализ аудитории Бот аналитики
Полезная информация
Инструкция Telemetr Документация к API Чат Telemetr
Полезные сервисы

Не попадитесь на накрученные каналы! Узнайте, не накручивает ли канал просмотры или подписчиков Проверить канал на накрутку
Прикрепить Телеграм-аккаунт Прикрепить Телеграм-аккаунт

Телеграм канал «Belajar Tauhid»

Belajar Tauhid
998
0
32
16
1.1K
Terima kasih telah bergabung dengan Chanel Belajar Tauhid dan semoga materi yang ada bermanfaat bagi kita semua.
.
Link e-Book & e-Paper Belajar Tauhid: http://bit.ly/ebook-gratis-belajartauhid
.
Salam 'alaikum
Подписчики
Всего
3 050
Сегодня
-2
Просмотров на пост
Всего
195
ER
Общий
4.51%
Суточный
3.2%
Динамика публикаций
Telemetr - сервис глубокой аналитики
телеграм-каналов
Получите подробную информацию о каждом канале
Отберите самые эффективные каналы для
рекламных размещений, по приросту подписчиков,
ER, количеству просмотров на пост и другим метрикам
Анализируйте рекламные посты
и креативы
Узнайте какие посты лучше сработали,
а какие хуже, даже если их давно удалили
Оценивайте эффективность тематики и контента
Узнайте, какую тематику лучше не рекламировать
на канале, а какая зайдет на ура
Попробовать бесплатно
Показано 7 из 998 постов
Смотреть все посты
Пост от 27.03.2026 14:19
6
0
0
Semakin dalam kita mengenal nama-nama Allah, semakin kita disadarkan untuk kembali bertauhid dengan tulus.

- Tidak ada satu pun pintu jalan keluar untuk kita yang bisa dibukakan oleh manusia, kecuali jika Allah lebih dulu membukanya!

- Tidak ada rezeki yang dapat mereka berikan, jika Allah menahannya dari kita!

- Tidak pula ada kebaikan yang mampu mereka limpahkan, kecuali yang telah Allah izinkan.

- Bahkan luka hati kita pun tak akan benar-benar pulih, kecuali jika Allah sendiri yang menghendaki kesembuhannya.

Pada akhirnya, semua kembali pada satu kesadaran bahwa apa pun yang kita cari, baik ketenangan hati atau penambal kekurangan dalam diri, tidak akan kita temukan hanya dengan bersandar kepada manusia.

Betapa sering kita datang kepada seseorang dengan hati yang penuh harap, lalu berkata: "Engkau telah melukai hatiku. Aku ingin engkau berubah agar hatiku kembali tenang."

Kita berharap keterbukaan akan melahirkan pemahaman, dan masalah pun selesai.

Namun, tak jarang yang terjadi justru sebaliknya, luka itu semakin menganga, dan hubungan yang diharapkan membaik malah kian retak.

Di sinilah kita perlu memahami satu hakikat agung bahwa dalam urusan memperbaiki hubungan, Allah-lah senagai penentu akhirnya.

Sebagaimana firman-Nya,

إِن يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا


“Jika keduanya menginginkan perdamaian, maka Allah akan (memberikan taufik sehingga) mendamaikan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal [segala sesuatu]." [QS. An-Nisa: 35]

Artinya, keinginan untuk memperbaiki hubungan dan berdamai memang harus tumbuh di dalam hati, namun keberhasilannya, sepenuhnya berada dalam kuasa Allah.

Maka, bahkan ketika kita telah berusaha untuk berdamai, tetaplah kita sadar bahwa yang menyatukan hati hanyalah Dia.

Apa yang terpenting bukan sekadar usaha lahir, melainkan ketulusan niat dalam hati untuk memperbaiki hubungan berdamai. Karena ketika hati benar-benar menginginkan kebaikan, niscaya Allah-lah yang akan membukakan jalan menuju perbaikan dan perdamaian itu.

#tauhid
#tadabbur
Пост от 25.03.2026 00:27
145
0
4
“Kegelisahan, ketakutan, keraguan diri, dan berbagai masalah harian yang kita rasakan, kebanyakan hanya singgah sebentar, lalu hilang begitu saja.

Apa yang benar-benar terpatri dalam perjalanan hidup seseorang justru adalah amal: apa yang telah ia lakukan, dan apa yang telah ia abaikan.

Karena itu, salah satu bentuk taufik Allah kepada seorang hamba adalah ketika ia diberi kemampuan untuk terus berkarya dan berbuat dalam berbagai keadaan hidupnya.

Mungkin tidak setiap saat ia mampu, tetapi setidaknya di sebagian besar hari, ia tetap bergerak dan melakukan kebaikan.

Sebab waktu akan terus berjalan. Tahun demi tahun berlalu, membawa serta benih-benih penyesalan, lalu melahirkannya menjadi rasa sesal yang nyata.

Pada saat itu, manusia sering kali hanya bisa menyesal, tanpa lagi sempat mengulang apa yang telah terlewat.

Hidup sejatinya adalah perjuangan dari hari ke hari. Berusaha melakukan yang terbaik semampu kita, memanfaatkan masa sehat sebelum datang masa sakit, dan menggunakan waktu luang sebelum tersita oleh kesibukan.

Kegelisahan akan pudar, tetapi kemalasan dan keengganan untuk bertindak akan meninggalkan penyesalan yang sulit dihapus.”

#nasihat
4
Пост от 24.03.2026 03:04
170
0
3
إن جراحنا تدفعنا إلى تجاوز ذواتنا، كل إنسان هو كائن مجروح، ولكنه نفس الإنسان هو من يدرك حقيقة جرحه، وبهذا الإدراك يتمكن من تحويله إلى مكمن قوة، بدلًا من الوقوع في أسر مهانة تُشعره بالصغار وتُرديه عاجزًا لا ينفع نفسه ولا ينتفع به العالم

“Sesungguhnya luka-luka yang kita alami justru mendorong kita untuk melampaui batas diri sendiri.

Setiap manusia adalah makhluk yang pernah terluka, namun manusialah yang mampu menyadari hakikat lukanya itu.

Dengan kesadaran tersebut, ia dapat mengubah lukanya menjadi sumber kekuatan, bukan terjebak dalam belenggu kehinaan yang membuatnya merasa kecil, lemah, dan tak berdaya, hingga akhirnya tak mampu memberi manfaat, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain di sekitarnya.”

#nasihat
Пост от 18.03.2026 16:39
264
0
5
Perasaan bukanlah amal hati, dan bukan pula perilaku hati.

Memahami perbedaan ini sangat penting. Jika tidak, seseorang bisa keliru dalam menjalani hidup, baik dalam hubungannya dengan diri sendiri, dengan Allah, maupun dengan orang lain.

Perasaan hati itu datang begitu saja. Spontan, tidak direncanakan, sifatnya sementara, dan seringkali muncul tanpa pertimbangan yang matang.

Sementara itu, amal hati adalah sesuatu yang kita bangun dan pupuk dengan sadar, kita pilih, kita arahkan, lalu kita jaga dan kuatkan. Ia dikendalikan oleh akal, pemahaman, perenungan, dan kebijaksanaan yang Allah tanamkan dalam diri manusia.

Contohnya, ketika kita disakiti lalu muncul rasa marah, itu wajar. Itu hanya reaksi spontan yang tidak kita pilih. Dalam situasi ini, kita harus menerima, memahami, dan jangan bersikap keras pada diri sendiri, karena memang begitulah manusia diciptakan: untuk diuji.

Namun, jika rasa marah itu kita pelihara, kita rawat, bahkan kita biarkan tumbuh, maka berubahlah ia menjadi amal hati.

Jika amarah tadi tidak sesuai dengan yang Allah ridhai, maka ia menjadi keburukan. Bahkan jika dibiarkan, ia bisa menguasaimu, bukan lagi kamu yang menguasainya.

Di sinilah makna sabda Nabi ﷺ: “Janganlah marah!” berfungsi.

Beliau bukan melarang munculnya rasa marah secara tiba-tiba, dan bukan pula melarang marah yang benar. Tapi yang dilarang adalah marah yang dipelihara hingga merusak.

Begitu juga saat kita mendengar tentang neraka lalu muncul rasa takut yang kuat. Itu hanyalah perasaan sesaat.

Jika kita tenggelam di dalamnya, hal itu bisa menyeret pada keputusasaan. Padahal, rasa takut yang dicintai Allah adalah yang lahir dari pemahaman tentang-Nya: bahwa Dia Maha Pengampun, Maha Adil, dan Maha Bijaksana.

Masalah muncul ketika seseorang menyerahkan kendali hidupnya pada perasaan yang tidak ia pahami.

Sebaliknya, menolak perasaan hati secara mentah-mentah juga keliru. Karena perasaan itu adalah awal dari proses, seperti bayi yang lahir dalam keadaan suci. Ia bisa menjadi baik atau buruk, tergantung bagaimana kita membimbingnya.

Seseorang juga bisa menzalimi dirinya jika ia lalai membangun amal hati, tidak mengarahkan, tidak mengendalikan, dan tidak melatihnya.

Bahkan hubungan dengan Allah bisa rusak jika:

- kepanikan disangka sebagai “takut kepada Allah”,

- emosi yang meledak-ledak dianggap “amarah karena Allah”,

- atau keinginan hawa nafsu disebut sebagai “harap kepada rahmat Allah”.

Perasaan itu seperti bayi yang baru lahir, lalu menangis keras. Janganlah ia dibenci lalu diabaikan, tapi juga jangan dituruti sampai ia menguasai hidup kita.

Sedangkan amal hati adalah “anak” yang kita besarkan. Kalau dididik dengan benar, sesuai yang Allah ridhai, ia akan tumbuh menjadi kebaikan.
Namun jika tidak, maka berhati-hatilah… karena ia bisa menjadi sumber kerusakan dalam hidup.

Disadur dari tulisan Dr. Ahmad Salim

#nasihat
#kejiwaan
1
Пост от 17.03.2026 02:16
198
0
1
Temans, sekali-kali jangan memandang waktu-waktu yang mulia dan penuh berkah ini dengan cara berpikir _“kalau tidak bisa maksimal, tidak usah dilakukan!”_

Karena dengan cara itu setan akan menahanmu dari berusaha melakukan kebaikan yang masih bisa kamu lakukan, demi mengganti kebaikan yang mungkin sudah terlewat.

Beginilah dahulu orang-orang munafik membisikkan keraguan agar melemahkan semangat orang beriman dalam berbuat baik, yaitu dengan cara meremehkan amal mereka. Allah ta'ala berfirman,

اَلَّذِيْنَ يَلْمِزُوْنَ الْمُطَّوِّعِيْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ فِى الصَّدَقٰتِ وَالَّذِيْنَ لَا يَجِدُوْنَ اِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُوْنَ مِنْهُمْۗ سَخِرَ اللّٰهُ مِنْهُمْۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْم

_“Orang-orang yang mencela orang-orang beriman yang bersedekah dengan sukarela, dan mencela orang-orang beriman yang tidak mendapatkan sesuatu untuk disedekahkan kecuali sekadar kemampuan mereka, lalu mereka mengejeknya. Allah akan mengejek mereka dan bagi mereka azab yang pedih.”_ [QS. At-Taubah: 79]

Apa pun keadaan kita:

meskipun kita sangat sibuk,

meskipun banyak alasan yang mengelilingi kita,

meskipun kita tidak bisa khusyuk seperti orang lain,

meskipun kita tidak bisa menangis seperti mereka,

meskipun kita tidak bisa membaca Al-Qur’an, shalat, atau berdoa sebaik mereka,

meskipun yang kita miliki hanya sedikit, baik dari sisi jumlah maupun kualitas,

tetaplah berikan yang kita mampu, dan tunjukkan kepada Allah kejujuran dan niat baik kita.

Takutlah kepada neraka meskipun hanya dengan bersedekah setengah butir kurma, sebagaimana sabda Muhammad ﷺ.

Janganlah kita pelit dengan setengah kurma itu, hanya karena merasa tidak mampu memberi lebih.

Bertakwalah kepada Allah sesuai kemampuan kita.

Berikanlah semampu kita, dan Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya, lalu mengembangkannya hingga menjadi sebesar gunung bi idznillah.

Jika tubuh kita terhalang dan tidak mampu banyak beramal, maka biarkan hati kita berkelana di mihrab-mihrab ibadah.

Karena hati bisa melampaui fisik.

Kita tidak akan pernah kehabisan kemampuan untuk:

berdoa,

bermunajat kepada Allah,

berdzikir,

menengadahkan wajah ke langit,

merenung dan bertadabbur,

merasakan rindu kepada Allah,

mencintai-Nya,

berharap kepada-Nya,

dan takut kepada-Nya.

Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ اللهَ لا ينظرُ إلى أَجْسامِكُمْ، ولا إلى صُورِكُمْ، ولكنْ ينظرُ إلى قُلوبِكُمْ

_“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian.”_

Betapa banyak orang yang fisiknya bergerak cepat, tetapi hatinya justru lambat.

Dan betapa banyak pula orang yang fisiknya terbatas, tetapi hatinya melesat jauh.

Adakah kedudukan yang lebih mulia daripada kedudukan orang-orang yang disebut dalam Al-Qur’an karena keikhlasan hati mereka?

Allah berfirman,

وَّلَا عَلَى الَّذِيْنَ اِذَا مَآ اَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَآ اَجِدُ مَآ اَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِۖ تَوَلَّوْا وَّاَعْيُنُهُمْ تَفِيْضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا اَلَّا يَجِدُوْا مَا يُنْفِقُوْنَۗ

_“Dan tidak pula berdosa orang-orang yang ketika mereka datang kepadamu agar engkau memberi mereka kendaraan (untuk berjihad), engkau berkata: ‘Aku tidak mendapatkan kendaraan untuk membawa kalian.’ Lalu mereka kembali dengan mata bercucuran air mata karena sedih tidak mendapatkan sesuatu untuk mereka nafkahkan.”_
[QS. At-Taubah: 92]

Mereka tidak mampu berbuat secara lahir, meski demikian hati mereka penuh keinginan untuk berbuat kebaikan.

#nasihat
1
Пост от 14.03.2026 11:08
261
0
2
Kita sering menyakiti orang yang kita cintai. Hal itu tampaknya merupakan salah satu kenyataan dalam sifat manusia yang sulit dihindari.

Berbagai bentuk kebodohan, kelalaian, dan salah menilai keadaan berkumpul seakan dalam satu pesta yang riuh, hingga membuat kita mengulang kesalahan yang sama.

Lalu kita meminta maaf kepada mereka, dan mereka memaafkan kita.

Namun keadaan ini tidak akan berlangsung selamanya. Akan tiba suatu saat ketika orang yang mencintai itu merasa cukup dengan luka yang ia terima, lalu ia memilih mencari keselamatan bagi dirinya, meskipun keselamatan itu harus dibayar dengan rasa sakit karena perpisahan.

#kejiwaan
#nasihat
Пост от 13.03.2026 17:47
282
0
4
Kita sering menuntut standar kesempurnaan yang paling tinggi dari orang-orang di sekitar: dari pasangan, anak, dan teman-teman. Padahal kita sendiri, dengan standar yang sama, juga tidak sedemikian sempurna.

Solusi bagi hal ini mungkin adalah mampu membedakan berbagai jenis kekurangan dan cacat, lalu menimbangnya dengan tabiat kita sendiri dan kemampuan kita untuk menoleransi sebagian kekurangan.

Juga perlu menimbang mana yang masih bisa diperbaiki dan mana yang hampir tidak mungkin diperbaiki, serta menimbang antara kebaikan seseorang dan keburukannya.

Jika ternyata kita memilih untuk tetap bersama (menjalin hubungan), maka jalinlah hubungan itu dengan kebaikan.

Belajarlah mengurangi celaan dan teguran, belajarlah berbelas kasih, memaafkan, mengampuni, dan bersikap lapang dengan tidak memperbesar kesalahan.

Karena siapa sebenarnya manusia yang sepenuhnya berakhlak sempurna?

Siapakah yang tidak pernah berbuat salah sama sekali dan hanya memiliki kebaikan saja?

Namun, jika suatu saat perpisahan memang tidak dapat dihindari, maka berpisahlah dengan cara yang baik, perpisahan yang indah tanpa menyakiti dan tanpa menyindir atau merendahkan.

Sampaikanlah keluhan dan jelaskan bahwa kita perlu mengurangi tingkat kedekatan hubungan itu.

Mungkin ia akan bersedih karena kita menegurnya, kita menjauh darinya dan meninggalkannya. Tetapi kesedihannya akan lebih besar jika kita menjadikan perpisahan itu penuh luka dan balas dendam.

Mungkin juga karena selama ini kita terlalu banyak diam dan menoleransi, ia mengira bahwa sikap menjauh itu tanpa alasan yang jelas. Namun itu tetap lebih baik.

Percayalah, dia menjauh darimu agar bisa menjaga cinta yang masih ada di hati untukmu tetap seperti semula. Karena kamu terus menyakitinya, dan setiap luka itu sedikit demi sedikit mengurangi cintanya kepadamu.

Jika dia memaksakan diri tetap bersamamu, mungkin suatu saat kamu akan membalas luka dengan luka, dan cinta itu akan semakin berkurang.

Percayalah, ini lebih baik,
untuknya, untukmu, dan untuk semua kenanga yang pernah ada di antara kalian.

#kejiwaan
#nasihat
1
Смотреть все посты