Не попадитесь на накрученные каналы! Узнайте, не накручивает ли канал просмотры или
подписчиков
Проверить канал на накрутку
Телеграм канал «Belajar Tauhid»
Belajar Tauhid
1.1K
0
67
37
1.1K
Terima kasih telah bergabung dengan Chanel Belajar Tauhid dan semoga materi yang ada bermanfaat bagi kita semua. . Link e-Book & e-Paper Belajar Tauhid: http://bit.ly/ebook-gratis-belajartauhid . Salam 'alaikum
“Boleh jadi seorang hamba begitu menginginkan suatu urusan, dalam perdagangan, jabatan, atau kepemimpinan, hingga jalan menuju ke sana tampak semakin mudah. Namun Allah melihat keadaannya, lalu berfirman kepada para malaikat, ‘Jauhkanlah perkara itu darinya. Sebab, jika Aku memudahkannya untuk memperoleh hal tersebut, itu akan menjadi sebab ia masuk ke dalam neraka.’
Maka Allah pun memalingkan perkara itu darinya. Namun sang hamba justru merasa sial dan kecewa. Ia berkata, ‘Si fulan telah mendahuluiku. Si fulan telah menjegal dan merugikanku.’ Padahal, yang sebenarnya terjadi tidak lain adalah karunia Allah ‘Azza wa Jalla kepadanya.”
Takhrij: Diriwayatkan oleh al-Lalika’ī dalam Syarḥ Ushul al-I‘tiqad (1219), Hannad dalam az-Zuhd (404), dan al-Baihaqi dalam Syu‘ab al-Iman (9971), dengan sedikit perbedaan redaksi.
Ada pintu yang tertutup tepat ketika kita merasa sudah sangat dekat dengannya. Ada pekerjaan yang gagal diraih, usaha yang tidak jadi, jabatan yang lepas, atau kesempatan yang tiba-tiba berpindah kepada orang lain.
Kita kecewa. Bahkan kadang mulai mencari siapa yang harus disalahkan: “Dia mendahuluiku.” “Dia yang menjegalku.” “Kalau bukan karena orang itu, pasti aku berhasil.”
Padahal, kita hanya melihat apa yang hilang dari tangan. Allah mengetahui apa yang akan terjadi seandainya perkara itu benar-benar menjadi milik kita.
Boleh jadi sesuatu yang sangat kita inginkan justru akan merusak agama, menumbuhkan kesombongan, menyeret kepada dosa, atau membawa kita ke jalan yang buruk. Maka Allah menahannya, bukan karena Dia tidak memberi, tetapi karena Dia sedang menjaga.
Karena itu, tidak semua kegagalan adalah kerugian. Tidak semua pintu yang tertutup adalah musibah. Ada penolakan yang sesungguhnya merupakan perlindungan, dan ada kehilangan yang baru kelak kita pahami sebagai karunia.
Kita sering mengetahui apa yang kita inginkan. Tetapi Allah mengetahui apa yang akan dilakukan keinginan itu terhadap diri kita.
Maka ketika suatu perkara telah diusahakan dengan benar namun tetap tidak menjadi milik kita, jangan tergesa-gesa berburuk sangka kepada takdir.
Boleh jadi, di balik kalimat “tidak jadi”, tersembunyi kasih sayang Allah yang jauh lebih besar daripada sesuatu yang gagal kita dapatkan.
*Ketika Pertolongan Allah Datang dari Arah yang Tak Disangka*
Saat itu, seluruh tatanan alam berubah.
Langit mencurahkan air dengan deras. Bumi memancarkan mata-mata air. Gelombang menjulang setinggi gunung, menerjang apa saja yang ada di hadapannya.
Rumah-rumah, pepohonan, bahkan daratan yang selama ini terasa kokoh tak lagi mampu menjadi tempat berlindung.
Namun, di tengah kedahsyatan itu, ada sesuatu yang tetap bertahan: sebuah bahtera sederhana.
Allah menggambarkannya dengan firman-Nya,
ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ
“Bahtera yang terbuat dari papan-papan dan pasak-pasak.” [QS. Al-Qamar: 13]
Hanya papan dan pasak!
Jika diukur dengan kekuatan gelombang yang menjulang seperti gunung, apa arti beberapa lembar papan dan pasak itu?
Tetapi keselamatan tidak selalu ditentukan oleh kuatnya sebab. Ada saatnya sesuatu yang tampak rapuh justru menjadi tempat paling aman, karena Allah sendiri yang menjaganya.
تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا
“Bahtera itu berlayar dalam pengawasan Kami.” [QS.Al-Qamar: 14]
Bukan kayunya yang membuat bahtera itu tak tenggelam. Bukan pasaknya yang mampu menandingi gelombang. Ia selamat karena berada dalam penjagaan Allah.
Dan semua itu datang setelah Nabi Nuh ‘alaihissalam mengangkat sebuah pengaduan yang begitu singkat kepada Rabb-nya:
أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ
“Sesungguhnya aku telah dikalahkan, maka tolonglah aku.” [QS. Al-Qamar: 10]
Singkat sekali. Hanya beberapa kata.
Namun, doa tidak dinilai dari panjangnya kalimat. Ada doa pendek yang lahir dari hati yang telah benar-benar menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah, lalu mengguncang langit dengan kejujurannya.
Nuh ‘alaihissalam telah mengetahui ke mana harus membawa kelemahannya. Ketika kekuatan manusia telah sampai pada batasnya, beliau tidak kehilangan arah. Beliau menghadap kepada Dzat yang tidak memiliki batas kekuasaan.
Dan jawaban itu pun datang dengan cara yang melampaui semua perhitungan.
Allah berfirman:
وَلَقَدْ نَادَانَا نُوحٌ فَلَنِعْمَ الْمُجِيبُونَ
“Sungguh, Nuh telah menyeru Kami, maka sungguh Kamilah sebaik-baik yang memperkenankan doa." [QS. Ash-Shaffat: 75]
فَلَنِعْمَ الْمُجِيبُونَ
Betapa indah kalimat ini.
Ada saat dalam hidup ketika kita merasa telah kehabisan cara. Jalan seolah buntu, kemampuan tak lagi memadai, dan semua yang sebelumnya kita andalkan terasa rapuh.
Mungkin yang tersisa di tangan kita hanyalah “papan dan pasak”; ikhtiar kecil yang secara hitungan manusia tampaknya tidak cukup untuk menghadapi besarnya masalah.
Namun, jangan hanya melihat kecilnya sebab. Lihatlah siapa yang menjaganya.
Sebab, ketika Allah menjaga, papan dan pasak dapat berlayar di antara gelombang sebesar gunung. Dan ketika Allah menolong, sesuatu yang tampaknya mustahil dapat berubah menjadi jalan keselamatan.
Maka, ketika merasa tak berdaya, jangan salah arah dalam mengadu.
Bawalah kelemahan itu kepada Allah.
Karena Nuh ‘alaihissalam telah menyeru-Nya, lalu Allah mengabadikan jawaban-Nya:
فَلَنِعْمَ الْمُجِيبُونَ
“Sungguh, Kamilah sebaik-baik yang memperkenankan doa.”
*Mufti Bukan Hakim: Apakah Harus Mendengar Kedua Belah Pihak?*
Salah satu kekeliruan yang banyak tersebar di tengah masyarakat adalah anggapan bahwa seorang mufti atau penasihat yang dimintai pendapat tentang perselisihan antara dua orang wajib mendengarkan keterangan dari kedua belah pihak.
Padahal, anggapan tersebut tidak memiliki dasar yang tepat.
Orang yang wajib mendengar keterangan kedua belah pihak adalah hakim, karena putusannya bersifat mengikat dan menimbulkan akibat hukum bagi keduanya.
Adapun seorang mufti atau penasihat tidak berada pada kedudukan tersebut. Ia memberikan jawaban berdasarkan fakta yang disampaikan kepadanya, sedangkan tanggung jawab atas kejujuran dan ketepatan informasi berada pada pihak yang bertanya.
Tentu, apabila memungkinkan bagi orang yang dimintai pendapat untuk mendengarkan kedua belah pihak, hal itu lebih baik dan lebih mendekati ketelitian. Namun, apabila tidak memungkinkan, ia tidak berdosa hanya karena memberikan jawaban berdasarkan keterangan salah satu pihak.
Kitab-kitab fikih dan kumpulan fatwa, sejak masa para sahabat hingga para ulama setelah mereka, dipenuhi dengan jawaban-jawaban hukum yang diberikan setelah mendengarkan keterangan dari satu pihak saja. Hal ini dapat ditemukan dalam kitab-kitab atsar para sahabat, fatwa Imam an-Nawawi, Ibnu Taimiyah, as-Subki, al-Haitami, dan banyak lagi yang hampir tidak terhitung jumlahnya.
Di antara contohnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Abu Dawud, dan selain keduanya. Ibnu Mas‘ud radhiallahu ‘anhu pernah ditanya mengenai seorang laki-laki yang menikahi seorang perempuan, tetapi belum menentukan maharnya dan belum pula menggaulinya hingga laki-laki tersebut meninggal dunia.
“Perempuan itu berhak memperoleh mahar yang setara dengan mahar perempuan-perempuan dari kalangan keluarganya, tanpa dikurangi dan tanpa dilebihkan. Ia wajib menjalani masa idah dan berhak mendapatkan warisan.”
Kemudian Ma‘qil bin Sinan al-Asyja‘i berdiri dan berkata bahwa Rasulullah ﷺ pernah menetapkan keputusan yang sama dalam perkara Barwa‘ binti Wasyiq, seorang perempuan dari kaumnya. Mendengar hal itu, Ibnu Mas‘ud pun merasa sangat gembira.
Dalam peristiwa ini, Ibnu Mas‘ud memberikan fatwa kepada satu pihak saja, padahal jawabannya berkaitan dengan hak-hak penting seperti mahar dan warisan.
Bahkan, terdapat contoh yang lebih kuat dari itu. Rasulullah ﷺ pernah menjawab pengaduan Hindun binti ‘Utbah mengenai Abu Sufyan, suaminya, yang ia sebut sebagai laki-laki yang kikir. Rasulullah ﷺ mengizinkannya mengambil dari harta suaminya dalam kadar yang mencukupi kebutuhannya dan anak-anaknya secara patut, tanpa menghadirkan Abu Sufyan dan tanpa terlebih dahulu mendengarkan keterangannya.
Demikian pula, ketika seorang perempuan mengadukan persoalan suaminya, Aus bin ash-Shamit, Rasulullah ﷺ tidak menghadirkan sang suami terlebih dahulu untuk memeriksa kebenaran seluruh keterangannya sebelum merespons pengaduan tersebut.
Semua contoh ini menunjukkan bahwa seorang mufti atau penasihat boleh memberikan jawaban berdasarkan keterangan yang disampaikan oleh satu pihak. Jawaban tersebut berlaku sesuai dengan fakta yang diberikan kepadanya.
Apabila penanya berbohong, menyembunyikan bagian penting, atau memutarbalikkan keadaan, maka dosa dan tanggung jawabnya kembali kepada penanya.
Karena itu, harus dibedakan dengan jelas antara fatwa dan putusan pengadilan.
Fatwa menjelaskan hukum berdasarkan gambaran persoalan yang disampaikan, sedangkan hakim memeriksa sengketa dan menjatuhkan putusan yang mengikat para pihak.
Mendengarkan kedua belah pihak tentu lebih sempurna ketika memungkinkan. Namun, menjadikannya sebagai syarat mutlak bagi setiap mufti atau penasihat adalah anggapan yang tidak tepat.
“Kapankah hati ini akan menemukan ketenangan?
Yang tinggal berdekatan masih diselimuti kesedihan,
sedangkan yang telah pergi jauh terus ditemani kenangan.
Orang-orang bertanya, ‘Mengapa air matanya tak kunjung berhenti?’
Seakan sepanjang hari, tangis itu terus mengalir tanpa jeda.
Namun, yang jatuh dari kedua matanya bukanlah sekadar air mata.
Itulah jiwanya yang luluh oleh kesedihan,
lalu menetes perlahan melalui pelupuk matanya.”
Ada luka yang tidak sembuh hanya karena jarak telah dekat.
Ada pula rindu yang tidak reda meski hari-hari terus berlalu.
Yang berada di sisi kita belum tentu mampu mengusir kesedihan, sementara yang telah jauh tetap hidup dalam ingatan.
Saat perasaan terlalu dalam untuk diungkapkan, air mata mengambil alih bahasa.
Ia menyampaikan segala yang tak mampu dijelaskan oleh kata-kata: kehilangan, kerinduan, kesepian, dan hati yang diam-diam sedang rapuh.
Karena itu, jangan selalu menganggap tangisan sebagai kelemahan.
Terkadang, seseorang menangis bukan karena tidak mampu bertahan, tetapi karena terlalu lama menahan. Air mata itu seolah bagian dari jiwanya yang mencair oleh luka, kemudian jatuh setetes demi setetes.
Pada dasarnya, setiap ujian membawa manfaat bagi kita, meski manfaat itu sering kali baru terlihat setelah hati lebih tenang.
Ujian bermanfaat ketika kita menyambutnya dengan kesabaran. Sebab, kesabaran yang tulus tidak akan pernah sia-sia. Allah akan menyempurnakan balasannya pada hari Kiamat tanpa batas.
Ujian juga memaksa kita berhenti sejenak dan meninjau kembali cara kita memandang kehidupan, memahami agama, serta menjalankan berbagai upaya perbaikan. Boleh jadi, tanpa disadari, ada kekeliruan dalam pikiran, sikap, atau langkah kita yang ikut mengantarkan pada keadaan hari ini.
Melalui ujian, Allah mengingatkan bahwa kita tidak pernah benar-benar kuat dengan kemampuan sendiri. Tidak ada daya untuk menghindari keburukan dan tidak ada kekuatan untuk meraih kebaikan kecuali dengan pertolongan-Nya.
Ujian pun mengajak kita mengevaluasi kembali pengetahuan, kemampuan, cara kerja, dan ukuran-ukuran yang selama ini kita gunakan. Apa yang dahulu dianggap sudah benar dan cukup, mungkin ternyata masih perlu diluruskan dan disempurnakan.
Ketika ujian datang, manusia akan terlihat berada dalam dua golongan.
Golongan pertama membiarkan kesulitan menumbuhkan keraguan dan prasangka buruk kepada Allah. Tentang mereka, Allah berfirman:
“Ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit berkata, ‘Apa yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami hanyalah tipu daya belaka.’" [QS. al-Aḥzab: 12]
Adapun golongan kedua, ujian justru membuat mereka semakin teguh. Mereka mungkin terluka, tetapi tidak kehilangan keyakinan. Mereka mungkin lelah, tetapi tidak menyerah dan tidak merendahkan diri di hadapan kesulitan.
“Betapa banyak nabi yang berperang bersama sejumlah besar pengikut yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena penderitaan yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu, dan tidak pula menyerah. Allah mencintai orang-orang yang sabar.
Tidak ada ucapan mereka selain, ‘Wahai Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan sikap kami yang melampaui batas, teguhkanlah langkah kami, dan tolonglah kami menghadapi kaum yang kafir.’
Maka Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” [QS. Ali ‘Imran: 146–148]
Ujian memang menyakitkan, tetapi ia juga menyingkap siapa diri kita sebenarnya. Apakah kita semakin jauh dan tenggelam dalam keraguan, atau justru semakin dekat kepada Allah, mengakui kesalahan, memperbaiki diri, dan memohon agar langkah tetap diteguhkan?
Maka, pilihlah di golongan mana kita ingin berdiri. Sebab, pada akhirnya, tempat kembali dan perjumpaan kita adalah di hadapan Allah.
“Setiap sandaran yang sepenuhnya bertumpu kepada manusia hanyalah keruntuhan yang tertunda. Manusia bisa berubah, pergi, atau terpisah dari kita. Maka, jangan terlalu menggantungkan hati kepadanya. Hanya bersandar kepada Allah yang menjadi tali kukuh dan pegangan kuat yang tidak pernah terputus.”
Kita boleh mencintai manusia, memercayainya, dan merasa tenang dengan kehadirannya. Namun, jangan sampai seluruh harapan dan ketenteraman hati kita bergantung kepadanya.
Sebab, manusia memiliki batas. Hari ini ia dekat, esok mungkin berubah. Hari ini ia menguatkan, suatu saat mungkin justru membutuhkan penguatan. Bahkan orang yang paling kita cintai pun tidak akan selalu mampu tinggal bersama kita.
Karena itu, cintailah manusia sewajarnya, tetapi sandarkanlah hati sepenuhnya kepada Allah. Ketika semua yang kita andalkan melemah, menjauh, atau hilang, Allah tetap ada.
Dia tidak berubah, tidak meninggalkan, dan tidak pernah mengecewakan hati yang benar-benar berserah kepada-Nya.
Ibnu Al-Qayyim raḥimahullah menjelaskan bahwa firman Allah berikut menyimpan salah satu perbendaharaan makna yang sangat agung:
وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ
“Tidak ada sesuatu pun melainkan di sisi Kami-lah perbendaharaannya.” [QS. Al-Ḥijr: 21
Ayat ini mengajarkan bahwa apa pun yang kita perlukan, perbendaharaannya berada di sisi Allah dan seluruh kuncinya berada dalam genggaman-Nya. Karena itu, segala kebutuhan pada hakikatnya hanya layak dimohonkan kepada-Nya.
Meminta kepada selain Allah seakan meminta kepada pihak yang sebenarnya tidak memiliki apa yang diminta dan tidak pula mampu memberikannya, kecuali jika Allah mengizinkan dan menjadikannya sebagai perantara.
Allah juga berfirman:
وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى
“Sesungguhnya kepada Tuhan-mulah segala sesuatu berakhir.” [QS. An-Najm: 42]
Ayat ini mengandung perbendaharaan makna yang lain, bahwa segala keinginan yang tidak diarahkan kepada Allah dan tidak mengantarkan kita kepada-Nya pada akhirnya akan lenyap dan terputus.
Sebab, hanya Allah tujuan terakhir dari seluruh perjalanan. Segala sesuatu bermula dari penciptaan-Nya, berjalan dengan kehendak-Nya, diatur berdasarkan ilmu dan kebijaksanaan-Nya, lalu kembali kepada-Nya.
Dia adalah tujuan tertinggi dari setiap pencarian. Cinta yang tidak dibangun karena-Nya akan berubah menjadi keletihan. Amal yang tidak ditujukan kepada-Nya akan kehilangan nilainya. Hati yang tidak berjalan menuju-Nya akan tetap gelisah dan terhalang dari kebahagiaan yang sesungguhnya.
“Segala sesuatu yang kita harapkan dari-Nya telah terhimpun dalam firman-Nya, ‘Tidak ada sesuatu pun melainkan di sisi Kamilah perbendaharaannya.’ Sementara segala sesuatu yang seharusnya kita tuju karena-Nya telah terhimpun dalam firman-Nya, ‘Sesungguhnya kepada Tuhanmulah segala sesuatu berakhir.’ Tidak ada tujuan setelah Allah yang patut dicari, dan tidak ada tujuan selain-Nya yang layak menjadi tempat akhir perjalanan.”
Ayat pertama mengajarkan kepada siapa kita harus meminta. Ayat kedua mengajarkan untuk siapa kita hidup dan beramal.
Kita meminta segala sesuatu kepada Allah karena seluruh perbendaharaan berada di sisi-Nya. Kita juga menjadikan Allah sebagai tujuan akhir karena hanya kepada-Nya semua perjalanan bermuara.
▪️Hati Tidak Akan Tenang sebelum Kembali kepada Allah
Di sinilah tersimpan salah satu rahasia terbesar tauhid: hati tidak akan benar-benar tenteram, tenang, dan merasa cukup sampai ia kembali kepada Allah.
Kita boleh mencintai keluarga, sahabat, ilmu, pekerjaan, dan berbagai kenikmatan dunia. Namun, semua itu tidak boleh menjadi tujuan terakhir. Semuanya dicintai dalam ketaatan kepada Allah dan dijadikan jalan untuk mendekat kepada-Nya.
Hanya Allah yang layak menjadi puncak cinta, harapan, ketakutan, dan penghambaan kita.
Siapa yang menggantungkan seluruh cinta, keinginan, dan harapannya kepada selain Allah akan kehilangan sandaran itu tepat ketika ia paling membutuhkannya. Sebab, makhluk dapat berubah, menjauh, melemah, atau meninggal dunia.
Namun, siapa yang menjadikan Allah sebagai tujuan akhir dari cinta, harapan, rasa takut, dan permohonannya akan memperoleh ketenteraman yang tidak bergantung pada berubahnya keadaan. Ia menemukan kenikmatan, kebahagiaan, dan kedamaian yang terus menyertainya.
▪️Kita Hidup di antara Perintah dan Ketetapan Allah
“Seorang hamba senantiasa berada di antara hukum-hukum perintah dan berbagai ketetapan yang menimpanya. Karena itu, ia membutuhkan, bahkan sangat bergantung kepada pertolongan Allah ketika menjalankan perintah dan kelembutan-Nya ketika menghadapi ujian.”
Dalam menjalani hidup, kita selalu berada di antara dua keadaan.
Ada perintah Allah yang harus kita tunaikan. Untuk itu, kita membutuhkan pertolongan-Nya agar mampu taat dan istiqamah.
Ada pula ujian dan ketetapan yang datang tanpa kita pilih. Untuk menghadapinya, kita membutuhkan kelembutan Allah agar hati tetap teguh dan tidak hancur oleh kegelisahan.
Besarnya kelembutan yang kita rasakan saat ujian datang berkaitan erat dengan kesungguhan kita dalam menunaikan perintah-Nya. Ketika ketaatan dijalankan secara lahir dan batin, pertolongan Allah pun dapat dirasakan pada keadaan lahir maupun kedalaman hati.
Namun, apabila ibadah hanya dikerjakan sebagai gerakan lahir tanpa keikhlasan, penghayatan, dan ketundukan, mungkin kita memperoleh kemudahan secara lahir, tetapi hanya sedikit merasakan ketenteraman di dalam jiwa.
“Kelembutan batin adalah ketenangan dan ketenteraman yang diperoleh hati ketika musibah datang, serta hilangnya kegelisahan, kekacauan jiwa, dan kepanikan.”
Kelembutan batin tidak selalu berarti ujian langsung berakhir atau rasa sakit seketika menghilang. Ia adalah karunia ketika Allah membuat hati tetap tenang di tengah keadaan yang belum berubah.
Kita mungkin masih menangis, tetapi tidak kehilangan harapan. Kita mungkin masih merasakan sakit, tetapi tidak berburuk sangka kepada Allah. Kita mungkin belum memahami hikmahnya, tetapi hati tetap yakin bahwa pilihan Allah tidak pernah sia-sia.
Seorang hamba pun bersimpuh di hadapan Tuhan-nya dengan penuh kerendahan. Hatinya menghadap kepada Allah, sedangkan jiwa dan batinnya menemukan tempat untuk bersandar.
Kesadarannya terhadap kelembutan Allah membuatnya tidak terus-menerus tenggelam dalam beratnya penderitaan. Ia memahami bahwa Allah telah memilihkan suatu ketetapan berdasarkan ilmu dan kebijaksanaan-Nya.
Ia menyadari bahwa dirinya adalah seorang hamba, sedangkan Allah adalah Tuhan yang berhak menetapkan apa pun atas dirinya. Ketetapan Allah tetap berlaku, baik ia menerimanya maupun menolaknya.
Apabila ia ridha, ia akan memperoleh manisnya keridaan. Namun, apabila ia terus menolak dan memendam kemarahan, kepahitan itulah yang akan memenuhi hatinya.
Ketenangan seperti ini merupakan buah dari hubungan batin yang kuat dengan Allah. Semakin jujur ketaatan, tawakal, dan penyerahan diri kita kepada-Nya, semakin besar pula ketenteraman yang Allah tanamkan ketika ujian datang.
Maka, mintalah segala kebutuhan hanya kepada Allah, sebab seluruh perbendaharaan berada di sisi-Nya. Jadikan pula Allah sebagai tujuan dari setiap cinta dan amal, sebab hanya kepada-Nya semua perjalanan akan berakhir.