Temans, sekali-kali jangan memandang waktu-waktu yang mulia dan penuh berkah ini dengan cara berpikir _“kalau tidak bisa maksimal, tidak usah dilakukan!”_
Karena dengan cara itu setan akan menahanmu dari berusaha melakukan kebaikan yang masih bisa kamu lakukan, demi mengganti kebaikan yang mungkin sudah terlewat.
Beginilah dahulu orang-orang munafik membisikkan keraguan agar melemahkan semangat orang beriman dalam berbuat baik, yaitu dengan cara meremehkan amal mereka. Allah ta'ala berfirman,
اَلَّذِيْنَ يَلْمِزُوْنَ الْمُطَّوِّعِيْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ فِى الصَّدَقٰتِ وَالَّذِيْنَ لَا يَجِدُوْنَ اِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُوْنَ مِنْهُمْۗ سَخِرَ اللّٰهُ مِنْهُمْۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْم
_“Orang-orang yang mencela orang-orang beriman yang bersedekah dengan sukarela, dan mencela orang-orang beriman yang tidak mendapatkan sesuatu untuk disedekahkan kecuali sekadar kemampuan mereka, lalu mereka mengejeknya. Allah akan mengejek mereka dan bagi mereka azab yang pedih.”_ [QS. At-Taubah: 79]
Apa pun keadaan kita:
meskipun kita sangat sibuk,
meskipun banyak alasan yang mengelilingi kita,
meskipun kita tidak bisa khusyuk seperti orang lain,
meskipun kita tidak bisa menangis seperti mereka,
meskipun kita tidak bisa membaca Al-Qur’an, shalat, atau berdoa sebaik mereka,
meskipun yang kita miliki hanya sedikit, baik dari sisi jumlah maupun kualitas,
tetaplah berikan yang kita mampu, dan tunjukkan kepada Allah kejujuran dan niat baik kita.
Takutlah kepada neraka meskipun hanya dengan bersedekah setengah butir kurma, sebagaimana sabda Muhammad ﷺ.
Janganlah kita pelit dengan setengah kurma itu, hanya karena merasa tidak mampu memberi lebih.
Bertakwalah kepada Allah sesuai kemampuan kita.
Berikanlah semampu kita, dan Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya, lalu mengembangkannya hingga menjadi sebesar gunung bi idznillah.
Jika tubuh kita terhalang dan tidak mampu banyak beramal, maka biarkan hati kita berkelana di mihrab-mihrab ibadah.
Karena hati bisa melampaui fisik.
Kita tidak akan pernah kehabisan kemampuan untuk:
berdoa,
bermunajat kepada Allah,
berdzikir,
menengadahkan wajah ke langit,
merenung dan bertadabbur,
merasakan rindu kepada Allah,
mencintai-Nya,
berharap kepada-Nya,
dan takut kepada-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ اللهَ لا ينظرُ إلى أَجْسامِكُمْ، ولا إلى صُورِكُمْ، ولكنْ ينظرُ إلى قُلوبِكُمْ
_“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian.”_
Betapa banyak orang yang fisiknya bergerak cepat, tetapi hatinya justru lambat.
Dan betapa banyak pula orang yang fisiknya terbatas, tetapi hatinya melesat jauh.
Adakah kedudukan yang lebih mulia daripada kedudukan orang-orang yang disebut dalam Al-Qur’an karena keikhlasan hati mereka?
Allah berfirman,
وَّلَا عَلَى الَّذِيْنَ اِذَا مَآ اَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَآ اَجِدُ مَآ اَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِۖ تَوَلَّوْا وَّاَعْيُنُهُمْ تَفِيْضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا اَلَّا يَجِدُوْا مَا يُنْفِقُوْنَۗ
_“Dan tidak pula berdosa orang-orang yang ketika mereka datang kepadamu agar engkau memberi mereka kendaraan (untuk berjihad), engkau berkata: ‘Aku tidak mendapatkan kendaraan untuk membawa kalian.’ Lalu mereka kembali dengan mata bercucuran air mata karena sedih tidak mendapatkan sesuatu untuk mereka nafkahkan.”_
[QS. At-Taubah: 92]
Mereka tidak mampu berbuat secara lahir, meski demikian hati mereka penuh keinginan untuk berbuat kebaikan.
#nasihat