Каталог каналов Каналы в закладках Мои каналы Поиск постов Рекламные посты
Инструменты
Каталог TGAds beta Мониторинг Детальная статистика Анализ аудитории Бот аналитики
Полезная информация
Инструкция Telemetr Документация к API Чат Telemetr
Полезные сервисы

Не попадитесь на накрученные каналы! Узнайте, не накручивает ли канал просмотры или подписчиков Проверить канал на накрутку
Прикрепить Телеграм-аккаунт Прикрепить Телеграм-аккаунт

Телеграм канал «Belajar Tauhid»

Belajar Tauhid
1.0K
0
32
16
1.1K
Terima kasih telah bergabung dengan Chanel Belajar Tauhid dan semoga materi yang ada bermanfaat bagi kita semua.
.
Link e-Book & e-Paper Belajar Tauhid: http://bit.ly/ebook-gratis-belajartauhid
.
Salam 'alaikum
Подписчики
Всего
3 045
Сегодня
-2
Просмотров на пост
Всего
217
ER
Общий
5.57%
Суточный
3.3%
Динамика публикаций
Telemetr - сервис глубокой аналитики
телеграм-каналов
Получите подробную информацию о каждом канале
Отберите самые эффективные каналы для
рекламных размещений, по приросту подписчиков,
ER, количеству просмотров на пост и другим метрикам
Анализируйте рекламные посты
и креативы
Узнайте какие посты лучше сработали,
а какие хуже, даже если их давно удалили
Оценивайте эффективность тематики и контента
Узнайте, какую тематику лучше не рекламировать
на канале, а какая зайдет на ура
Попробовать бесплатно
Показано 7 из 1 001 поста
Смотреть все посты
Пост от 31.03.2026 09:03
71
0
0
Musibah itu ada dua macam. Dan pada masing-masing musibah iti, terdapat ujian tersendiri tentang bagaimana manusia bersabar menghadapinya.

Adapun yang pertama ialah musibah yang datang lalu berlalu, terputus dalam satu kejadian. Seperti kematian orang tercinta, hilangnya anggota tubuh, atau lenyapnya harta.

Ujian kesabaran dalam musibah jenis ini sesungguhnya terletak pada saat hentakan pertama. Maka siapa yang diberi taufik untuk bersabar sejak detik awal ia mengetahui datangnya musibah, sungguh ia telah menunaikan kewajiban dan lulus dari ujian itu.

Tidak tersisa baginya kecuali mengelola kenangan, serta menahan bisikan-bisikan keluh kesah yang tak pernah lelah ditiupkan oleh setan.

Adapun yang kedua ialah musibah yang awalnya telah menimpa, namun akhirnya belum juga tiba. Dan inilah jenis musibah yang paling banyak menimpa manusia, baik pada diri mereka sendiri maupun orang-orang yang mereka cintai. Di antaranya adalah sakit yang berkepanjangan, kezaliman, penjara, dan kesempitan hidup.

Ujian pada jenis ini jauh lebih berat dan lebih sukar. Sebab kita diuji untuk bersabar di awalnya, lalu diperintahkan untuk terus-menerus menjaga kesabaran itu.

Kemudian datanglah ujian yang lebih besar lagi yaitu kita terus berharap akan datangnya pertolongan dari Allah. Maka di sinilah penderitaan paling berat muncul dari dalam musibah itu sendiri, ketika pertolongan itu tertunda, atau ketika segala sebab duniawi yang mengantarkan kepadanya terasa terputus, hingga kita dan musibah itu seakan menetap dalam keyakinan bahwa tak akan ada jalan keluar.

Waktu pun berlalu panjang. Bahkan terkadang termasuk dalam takdir Allah, yang telah Dia tetapkan dan putuskan, bahwa cobaan itu tetap menyertaimu, tanpa kelegaan di dunia.

Di titik inilah letak ujian keimanan, dan di sinilah derajat para wali Allah yang shalih diuji.

Betapa sering kita melihat orang-orang biasa lagi sederhana, yang tak terkenal mampu melampaui ujian ini, sementara sebagian yang dahulu kita sangka sebagai ahli ibadah dan agama justru tergelincir.

Jika kita merenung panjang dan menghayati tentang apa yang dapat menolong manusia melewati ujian yang agung ini. Maka bisa kita dapati, setelah pertolongan, kekuatan, dan karunia Allah kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, bahwa semuanya kembali kepada satu pintu yaitu: memandang dunia ini dengan pandangan yang benar; bahwa ia, bersama segala luka dan deritanya, adalah fana dan akan terputus; dan bahwa satu celupan saja di dalam surga kelak, akan melupakan seluruh kepedihan yang pernah dirasakan.

Kesadaran dan keyakinan itulah yang semoga akan membantu dan menghibur segala penderitaan dan kesulitan yang kita hadapi di dunia ini.

Jangan lupa untuk berdo'a kepada rekan² dan saudara² kita yang tengah mengalami kesulitan hidup, menderita penyakit di sela² dan momen² peribadatan yang kita lakukan. Do'a sesama saudara beriman tanpa sepengetahuan mereka termasuk do'a yang mudah diijabah.

Semoga bermanfaat.

#nasihat
4
Пост от 30.03.2026 16:52
107
0
1
Dalam Al-Qur'an, kisah Nabi Yusuf disebut sebagai Ahsan al-Qashash, kisah terbaik.

Bukan sekadar karena dramanya yang menyentuh, tapi karena di dalamnya tersembunyi presisi ilmu yang jauh melampaui zamannya.

Allah berfirman dalam Surah Yusuf ayat 47,

فَمَا حَصَدْتُّمْ فَذَرُوْهُ فِيْ سُنْۢبُلِهٖٓ اِلَّا قَلِيْلًا مِّمَّا تَأْكُلُوْنَ

_"...maka apa yang kamu panen hendaklah kamu biarkan di tangkainya, kecuali sedikit untuk kamu makan.”_ [QS. Yusuf: 47]

Instruksi ini singkat, tapi dampaknya luar biasa.

Tiga kata kunci: “biarkan di tangkainya!”

Bayangkan! Hari ini saja, beras yang kita simpan 6 bulan sering sudah diserang kutu. Tapi dalam kisah ini, stok pangan disiapkan untuk 7 tahun masa subur + 7 tahun paceklik; dan tetap bertahan!

Ternyata, apa yang diperintahkan Nabi Yusuf bukanlaj sekadar strategi, tapi juga prinsip ilmiah.

Sekam (kulit/tangkai) bertindak sebagai pelindung alami dari serangga; menjaga kelembaban secara stabil, akan mencegah jamur; mengurangi oksidasi dan gesekan antar biji; dan memperpanjang umur simpan secara signifikan.

Penelitian modern baru mengonfirmasi hal ini jauh kemudian. Salah satu studi dalam bidang penyimpanan pangan menyebutkan:

_“Grain stored in intact husk or protective outer layers shows significantly improved resistance to insect infestation and moisture fluctuation compared to threshed grain.”_ [Food Storage and Stability Journal, 20th century studies on grain preservation]

Bahkan arkeologi memperkuatnya. Di Mesir kuno, ditemukan sistem penyimpanan berupa silo berbentuk silinder atau sarang lebah dengan karakteristik:

- Dinding tebal menjaga suhu tetap stabil

- Lantai ditinggikan untuk menghindari lembab tanah

- Ventilasi pasif menjaga udara tetap kering

Hasilnya? Lingkungan penyimpanan dengan kelembaban rendah dan minim serangga, ideal untuk penyimpanan jangka panjang.

Namun kehebatan kisah ini tidak berhenti di teknologi pangan.

Nabi Yusuf merancang sistem logistik nasional:

- Produksi masa subur dikumpulkan terpusat

- Distribusi dikontrol agar merata

- Tidak ada penimbunan liar

- Ketahanan pangan dijaga lintas wilayah

Saat krisis datang, Mesir bukan hanya bertahan, tetapi menjadi pusat bantuan bagi negeri lain.

Di satu kisah, terkumpul:

- Ilmu pangan

- Arsitektur penyimpanan

- Manajemen krisis

- Kebijakan ekonomi makro

Semua terjalin rapi dalam satu narasi.

Maka ketika Al-Qur’an menyebutnya sebagai Ahsan al-Qashash, itu bukan sekadar ungkapan puitis.

Ia adalah pengakuan atas sebuah sistem yang presisi, komprehensif, dan visioner, bahkan sebelum ilmu modern memahaminya.

#tadabbur
1
Пост от 28.03.2026 01:59
204
0
2
Bayangkanlah… kesedihan yang kita rasakan begitu dalam, hingga air mata tak lagi sekadar mengalir, tetapi seolah menghapus cahaya dari kedua mata. Sampai-sampai yang tersisa hanyalah kepedihan yang membisu.

Betapa getirnya duka itu. Persis sebagaimana digambarkan dalam firman-Nya,

وَابۡيَـضَّتۡ عَيۡنٰهُ مِنَ الۡحُـزۡنِ

_"Dan kedua matanya memutih karena diliputi kesedihan."_ [QS. Yusuf: 84

Namun, di balik kelamnya derita, Allah menenun takdir dengan kelembutan-Nya. Datanglah kabar yang menghidupkan harapan,

فَلَمَّآ اَنْ جَاۤءَ الْبَشِيْرُ اَلْقٰىهُ عَلٰى وَجْهِهٖ فَارْتَدَّ بَصِيْرًاۗ

_"Ketika telah tiba pembawa kabar gembira itu, diusapkannya (baju itu) ke wajahnya (Ya‘qub), lalu dia dapat melihat kembali."_ [QS. Yusuf: 96]

Maka, seberapa pun dalam luka yang bersemayam di hati kita hari ini, yakinlah… Allah tengah menyiapkan kabar bahagia, meski ia datang setelah penantian yang panjang.

#tadabbur
Пост от 27.03.2026 14:19
215
0
1
Semakin dalam kita mengenal nama-nama Allah, semakin kita disadarkan untuk kembali bertauhid dengan tulus.

- Tidak ada satu pun pintu jalan keluar untuk kita yang bisa dibukakan oleh manusia, kecuali jika Allah lebih dulu membukanya!

- Tidak ada rezeki yang dapat mereka berikan, jika Allah menahannya dari kita!

- Tidak pula ada kebaikan yang mampu mereka limpahkan, kecuali yang telah Allah izinkan.

- Bahkan luka hati kita pun tak akan benar-benar pulih, kecuali jika Allah sendiri yang menghendaki kesembuhannya.

Pada akhirnya, semua kembali pada satu kesadaran bahwa apa pun yang kita cari, baik ketenangan hati atau penambal kekurangan dalam diri, tidak akan kita temukan hanya dengan bersandar kepada manusia.

Betapa sering kita datang kepada seseorang dengan hati yang penuh harap, lalu berkata: "Engkau telah melukai hatiku. Aku ingin engkau berubah agar hatiku kembali tenang."

Kita berharap keterbukaan akan melahirkan pemahaman, dan masalah pun selesai.

Namun, tak jarang yang terjadi justru sebaliknya, luka itu semakin menganga, dan hubungan yang diharapkan membaik malah kian retak.

Di sinilah kita perlu memahami satu hakikat agung bahwa dalam urusan memperbaiki hubungan, Allah-lah senagai penentu akhirnya.

Sebagaimana firman-Nya,

إِن يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا


“Jika keduanya menginginkan perdamaian, maka Allah akan (memberikan taufik sehingga) mendamaikan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal [segala sesuatu]." [QS. An-Nisa: 35]

Artinya, keinginan untuk memperbaiki hubungan dan berdamai memang harus tumbuh di dalam hati, namun keberhasilannya, sepenuhnya berada dalam kuasa Allah.

Maka, bahkan ketika kita telah berusaha untuk berdamai, tetaplah kita sadar bahwa yang menyatukan hati hanyalah Dia.

Apa yang terpenting bukan sekadar usaha lahir, melainkan ketulusan niat dalam hati untuk memperbaiki hubungan berdamai. Karena ketika hati benar-benar menginginkan kebaikan, niscaya Allah-lah yang akan membukakan jalan menuju perbaikan dan perdamaian itu.

#tauhid
#tadabbur
Пост от 25.03.2026 00:27
294
0
4
“Kegelisahan, ketakutan, keraguan diri, dan berbagai masalah harian yang kita rasakan, kebanyakan hanya singgah sebentar, lalu hilang begitu saja.

Apa yang benar-benar terpatri dalam perjalanan hidup seseorang justru adalah amal: apa yang telah ia lakukan, dan apa yang telah ia abaikan.

Karena itu, salah satu bentuk taufik Allah kepada seorang hamba adalah ketika ia diberi kemampuan untuk terus berkarya dan berbuat dalam berbagai keadaan hidupnya.

Mungkin tidak setiap saat ia mampu, tetapi setidaknya di sebagian besar hari, ia tetap bergerak dan melakukan kebaikan.

Sebab waktu akan terus berjalan. Tahun demi tahun berlalu, membawa serta benih-benih penyesalan, lalu melahirkannya menjadi rasa sesal yang nyata.

Pada saat itu, manusia sering kali hanya bisa menyesal, tanpa lagi sempat mengulang apa yang telah terlewat.

Hidup sejatinya adalah perjuangan dari hari ke hari. Berusaha melakukan yang terbaik semampu kita, memanfaatkan masa sehat sebelum datang masa sakit, dan menggunakan waktu luang sebelum tersita oleh kesibukan.

Kegelisahan akan pudar, tetapi kemalasan dan keengganan untuk bertindak akan meninggalkan penyesalan yang sulit dihapus.”

#nasihat
4
Пост от 24.03.2026 03:04
267
0
3
إن جراحنا تدفعنا إلى تجاوز ذواتنا، كل إنسان هو كائن مجروح، ولكنه نفس الإنسان هو من يدرك حقيقة جرحه، وبهذا الإدراك يتمكن من تحويله إلى مكمن قوة، بدلًا من الوقوع في أسر مهانة تُشعره بالصغار وتُرديه عاجزًا لا ينفع نفسه ولا ينتفع به العالم

“Sesungguhnya luka-luka yang kita alami justru mendorong kita untuk melampaui batas diri sendiri.

Setiap manusia adalah makhluk yang pernah terluka, namun manusialah yang mampu menyadari hakikat lukanya itu.

Dengan kesadaran tersebut, ia dapat mengubah lukanya menjadi sumber kekuatan, bukan terjebak dalam belenggu kehinaan yang membuatnya merasa kecil, lemah, dan tak berdaya, hingga akhirnya tak mampu memberi manfaat, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain di sekitarnya.”

#nasihat
Пост от 18.03.2026 16:39
264
0
5
Perasaan bukanlah amal hati, dan bukan pula perilaku hati.

Memahami perbedaan ini sangat penting. Jika tidak, seseorang bisa keliru dalam menjalani hidup, baik dalam hubungannya dengan diri sendiri, dengan Allah, maupun dengan orang lain.

Perasaan hati itu datang begitu saja. Spontan, tidak direncanakan, sifatnya sementara, dan seringkali muncul tanpa pertimbangan yang matang.

Sementara itu, amal hati adalah sesuatu yang kita bangun dan pupuk dengan sadar, kita pilih, kita arahkan, lalu kita jaga dan kuatkan. Ia dikendalikan oleh akal, pemahaman, perenungan, dan kebijaksanaan yang Allah tanamkan dalam diri manusia.

Contohnya, ketika kita disakiti lalu muncul rasa marah, itu wajar. Itu hanya reaksi spontan yang tidak kita pilih. Dalam situasi ini, kita harus menerima, memahami, dan jangan bersikap keras pada diri sendiri, karena memang begitulah manusia diciptakan: untuk diuji.

Namun, jika rasa marah itu kita pelihara, kita rawat, bahkan kita biarkan tumbuh, maka berubahlah ia menjadi amal hati.

Jika amarah tadi tidak sesuai dengan yang Allah ridhai, maka ia menjadi keburukan. Bahkan jika dibiarkan, ia bisa menguasaimu, bukan lagi kamu yang menguasainya.

Di sinilah makna sabda Nabi ﷺ: “Janganlah marah!” berfungsi.

Beliau bukan melarang munculnya rasa marah secara tiba-tiba, dan bukan pula melarang marah yang benar. Tapi yang dilarang adalah marah yang dipelihara hingga merusak.

Begitu juga saat kita mendengar tentang neraka lalu muncul rasa takut yang kuat. Itu hanyalah perasaan sesaat.

Jika kita tenggelam di dalamnya, hal itu bisa menyeret pada keputusasaan. Padahal, rasa takut yang dicintai Allah adalah yang lahir dari pemahaman tentang-Nya: bahwa Dia Maha Pengampun, Maha Adil, dan Maha Bijaksana.

Masalah muncul ketika seseorang menyerahkan kendali hidupnya pada perasaan yang tidak ia pahami.

Sebaliknya, menolak perasaan hati secara mentah-mentah juga keliru. Karena perasaan itu adalah awal dari proses, seperti bayi yang lahir dalam keadaan suci. Ia bisa menjadi baik atau buruk, tergantung bagaimana kita membimbingnya.

Seseorang juga bisa menzalimi dirinya jika ia lalai membangun amal hati, tidak mengarahkan, tidak mengendalikan, dan tidak melatihnya.

Bahkan hubungan dengan Allah bisa rusak jika:

- kepanikan disangka sebagai “takut kepada Allah”,

- emosi yang meledak-ledak dianggap “amarah karena Allah”,

- atau keinginan hawa nafsu disebut sebagai “harap kepada rahmat Allah”.

Perasaan itu seperti bayi yang baru lahir, lalu menangis keras. Janganlah ia dibenci lalu diabaikan, tapi juga jangan dituruti sampai ia menguasai hidup kita.

Sedangkan amal hati adalah “anak” yang kita besarkan. Kalau dididik dengan benar, sesuai yang Allah ridhai, ia akan tumbuh menjadi kebaikan.
Namun jika tidak, maka berhati-hatilah… karena ia bisa menjadi sumber kerusakan dalam hidup.

Disadur dari tulisan Dr. Ahmad Salim

#nasihat
#kejiwaan
1
Смотреть все посты