Musibah itu ada dua macam. Dan pada masing-masing musibah iti, terdapat ujian tersendiri tentang bagaimana manusia bersabar menghadapinya.
Adapun yang pertama ialah musibah yang datang lalu berlalu, terputus dalam satu kejadian. Seperti kematian orang tercinta, hilangnya anggota tubuh, atau lenyapnya harta.
Ujian kesabaran dalam musibah jenis ini sesungguhnya terletak pada saat hentakan pertama. Maka siapa yang diberi taufik untuk bersabar sejak detik awal ia mengetahui datangnya musibah, sungguh ia telah menunaikan kewajiban dan lulus dari ujian itu.
Tidak tersisa baginya kecuali mengelola kenangan, serta menahan bisikan-bisikan keluh kesah yang tak pernah lelah ditiupkan oleh setan.
Adapun yang kedua ialah musibah yang awalnya telah menimpa, namun akhirnya belum juga tiba. Dan inilah jenis musibah yang paling banyak menimpa manusia, baik pada diri mereka sendiri maupun orang-orang yang mereka cintai. Di antaranya adalah sakit yang berkepanjangan, kezaliman, penjara, dan kesempitan hidup.
Ujian pada jenis ini jauh lebih berat dan lebih sukar. Sebab kita diuji untuk bersabar di awalnya, lalu diperintahkan untuk terus-menerus menjaga kesabaran itu.
Kemudian datanglah ujian yang lebih besar lagi yaitu kita terus berharap akan datangnya pertolongan dari Allah. Maka di sinilah penderitaan paling berat muncul dari dalam musibah itu sendiri, ketika pertolongan itu tertunda, atau ketika segala sebab duniawi yang mengantarkan kepadanya terasa terputus, hingga kita dan musibah itu seakan menetap dalam keyakinan bahwa tak akan ada jalan keluar.
Waktu pun berlalu panjang. Bahkan terkadang termasuk dalam takdir Allah, yang telah Dia tetapkan dan putuskan, bahwa cobaan itu tetap menyertaimu, tanpa kelegaan di dunia.
Di titik inilah letak ujian keimanan, dan di sinilah derajat para wali Allah yang shalih diuji.
Betapa sering kita melihat orang-orang biasa lagi sederhana, yang tak terkenal mampu melampaui ujian ini, sementara sebagian yang dahulu kita sangka sebagai ahli ibadah dan agama justru tergelincir.
Jika kita merenung panjang dan menghayati tentang apa yang dapat menolong manusia melewati ujian yang agung ini. Maka bisa kita dapati, setelah pertolongan, kekuatan, dan karunia Allah kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, bahwa semuanya kembali kepada satu pintu yaitu: memandang dunia ini dengan pandangan yang benar; bahwa ia, bersama segala luka dan deritanya, adalah fana dan akan terputus; dan bahwa satu celupan saja di dalam surga kelak, akan melupakan seluruh kepedihan yang pernah dirasakan.
Kesadaran dan keyakinan itulah yang semoga akan membantu dan menghibur segala penderitaan dan kesulitan yang kita hadapi di dunia ini.
Jangan lupa untuk berdo'a kepada rekan² dan saudara² kita yang tengah mengalami kesulitan hidup, menderita penyakit di sela² dan momen² peribadatan yang kita lakukan. Do'a sesama saudara beriman tanpa sepengetahuan mereka termasuk do'a yang mudah diijabah.
Semoga bermanfaat.
#nasihat