Dalam Shahih Muslim, dari Abdullah bin Syaqiq, ia berkata, "Aku bertanya kepada Aisyah,
هَلْ كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُصَلِّي وَهُوَ قَاعِدٌ؟
_“Apakah Nabi ﷺ pernah shalat sambil duduk?”_
Beliau menjawab,
نَعَمْ. بَعْدَ مَا حَطَمَهُ النَّاسُ
_“Ya, setelah manusia membuat beliau lelah.”_ [HR. Muslim]
Para ulama yang menjelaskan hadits ini berkata, "Dalam bahasa Arab dikatakan,
حطم فلانا أهلُه، إذا كبر فيهم كأنه لما حمله من أَثّقَالِهِمْ صيروه شيخًا محطومًا
“Keluarganya telah ‘menghancurkan fulan (hathamahu an-naasa ahluhu). Maksudnya ketika seseorang menjadi tua di tengah mereka, seakan-akan karena memikul beban-beban mereka, ia menjadi seorang yang telah “dihancurkan” oleh beratnya tanggungan."
Hal ini berarti manusia telah membuat Rasulullah ﷺ letih dengan memikul kegelisahan mereka, kesulitan mereka, masalah mereka, kebutuhan mereka, urusan mereka, sehingga beliau shalat dalam keadaan duduk karena kelemahan fisik.
'Aisyah tidak mengatakan bahwa yang membuat beliau lelah adalah shalat, padahal beliau ﷺ berdiri melakukan shalat malam hingga kedua telapak kakinya pecah-pecah.
'Aisyah juga tidak mengatakan bahwa yang melelahkan Rasulullah adalah banyaknya puasa, padahal beliau ﷺ berpuasa sampai dikatakan seakan-akan beliau tidak pernah berbuka.
'Aisyah pun tidak mengatakan bahwa yang membuat beliau letih adalah peperangan dan jihad, padahal panjang perjuangan beliau dalam kedua hal tersebut.
Namun, 'Aisyah berkata manusia yang membuat beliau lelah.
Temans, sebagian kita merasa heran ketika Allah menyebarkan pujian yang baik bagi orang-orang yang mengabdikan diri untuk berkhidmat pada manusia.
Mereka tidak menyadari penderitaan orang yang berdiri melayani kebutuhan dan urusan mereka, bagaimana tubuhnya menjadi letih, ruhnya terkuras, hatinya terbebani oleh keluhan manusia, desakan mereka, menjaga perasaan mereka, serta menghadapi perbedaan pemikiran, usia, dan kebutuhan mereka.
Temans, seseorang bisa “hancur” hanya oleh beban satu rumah tangga. Lalu bagaimana dengan orang yang memikul beban puluhan rumah kaum muslimin?
Maka, berbahagialah anda wahai orang yang bersabar, yang memperlakukan manusia dengan akhlak yang baik, dan mengharap dengan itu meperoleh nikmat menatap Wajah Allah kelak di surga.
#nasihat