Каталог каналов Каналы в закладках Мои каналы Поиск постов Рекламные посты
Инструменты
Каталог TGAds beta Мониторинг Детальная статистика Анализ аудитории Бот аналитики
Полезная информация
Инструкция Telemetr Документация к API Чат Telemetr
Полезные сервисы

Не попадитесь на накрученные каналы! Узнайте, не накручивает ли канал просмотры или подписчиков Проверить канал на накрутку
Прикрепить Телеграм-аккаунт Прикрепить Телеграм-аккаунт

Телеграм канал «Belajar Tauhid»

Belajar Tauhid
782
0
32
16
904
Terima kasih telah bergabung dengan Chanel Belajar Tauhid dan semoga materi yang ada bermanfaat bagi kita semua.
.
Link e-Book & e-Paper Belajar Tauhid: http://bit.ly/ebook-gratis-belajartauhid
.
Salam 'alaikum
Подписчики
Всего
3 250
Сегодня
-1
Просмотров на пост
Всего
116
ER
Общий
3.57%
Суточный
2.8%
Динамика публикаций
Telemetr - сервис глубокой аналитики
телеграм-каналов
Получите подробную информацию о каждом канале
Отберите самые эффективные каналы для
рекламных размещений, по приросту подписчиков,
ER, количеству просмотров на пост и другим метрикам
Анализируйте рекламные посты
и креативы
Узнайте какие посты лучше сработали,
а какие хуже, даже если их давно удалили
Оценивайте эффективность тематики и контента
Узнайте, какую тематику лучше не рекламировать
на канале, а какая зайдет на ура
Попробовать бесплатно
Показано 7 из 782 постов
Смотреть все посты
Пост от 09.02.2026 06:33
45
0
1
‏الأرض أرضه، والأمرُ أمره ونحنُ عباده، وهو بنا أحنُّ وأرحم.

_"Bumi ini milik-Nya, segala urusan berada dalam ketetapan-Nya, dan kita hanyalah hamba-hamba-Nya. Dialah yang paling tahu keadaan kita, dan kasih sayang-Nya kepada kita jauh melampaui kasih siapa pun."_

#nasihat
Пост от 08.02.2026 02:45
1
0
0
*Sebab Kesesatan Manusia*

Salah satu penyebab terbesar manusia jatuh ke dalam kesalahan dan keburukan adalah karena ia tidak memahami nilai dan kedudukan sesuatu dengan benar.

Ketika seseorang tidak mengenal hakikat dirinya, tidak memahami makhluk lain, dan kehilangan kebijaksanaan dalam menilai, ia akan melihat segala sesuatu secara keliru.

Ada juga orang yang mengenal dirinya, tetapi salah memahami yang lain, ini pun menimbulkan kekeliruan. Sebaliknya, orang yang memahami hakikat sesuatu akan mampu bersikap adil terhadapnya. Siapa yang tidak tahu nilai suatu barang, ia akan melepasnya dengan harga yang sangat rendah.

Akar keburukan pada manusia adalah ketika mereka berpaling dari penjelasan Allah tentang hakikat ciptaan dan posisi setiap makhluk. Akibatnya, mereka terjatuh dalam berbagai bentuk kesyirikan, baik dalam rasa takut, cinta, ketaatan, ibadah, harapan, dan bentuk ketergantungan lainnya.

Karena itulah Allah mengingatkan manusia dalam firman-Nya,

كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللّٰهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَاتًا فَاَحْيَاكُمْۚ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ. هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوٰٓى اِلَى السَّمَاۤءِ فَسَوّٰىهُنَّ سَبْعَ سَمٰوٰتٍۗ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌࣖ

“Bagaimana kalian bisa kufur kepada Allah, padahal kalian tadinya mati lalu Dia menghidupkan kalian, kemudian Dia mematikan kalian, lalu Dia menghidupkan kalian kembali, kemudian kepada-Nyalah kalian dikembalikan. Dialah yang menciptakan untuk kalian segala yang ada di bumi.” [QS. Al-Baqarah: 28–29].

Melalui ayat ini, Allah mengajak manusia kembali mengingat asal-usul dirinya dan asal makhluk lain, agar mereka memahami hakikat segala sesuatu secara benar.

Jika para malaikat saja diperintahkan bersujud kepada Adam, maka sungguh aneh bila keturunan Adam justru bersujud kepada makhluk seperti batu, pohon, hewan, manusia, dan yang lain!

#tadabbur
Пост от 08.02.2026 02:16
1
0
0
Dalam berinteraksi dengan orang lain, ingatlah bahwa setiap orang membawa beban hidupnya masing-masing.

Ada keluarga yang ia tanggung, orang sakit yang ia rawat, dan anak-anak kecil yang menggantungkan harapan kepadanya setelah Allah.

Jangan menyakiti atau merendahkannya, karena betapa pedih rasanya pulang ke rumah dengan hati yang luka, sementara orang-orang di rumah menunggu senyum dan ketenangannya.

Di balik setiap rumah ada cerita tentang kehilangan, kesulitan, dan kelelahan yang hanya Allah yang benar-benar mengetahuinya.

Maka janganlah kita menambah berat hidup orang lain dengan sikap kasar dan kata-kata yang melukai.

#nasihat
Пост от 05.02.2026 02:22
68
0
3
Allah ta'ala berfirman,

قَالَ هَلْ عَلِمْتُمْ مَّا فَعَلْتُمْ بِيُوْسُفَ وَاَخِيْهِ اِذْ اَنْتُمْ جٰهِلُوْنَ

Dia (Yusuf) berkata, “Tahukah kamu (kejelekan) apa yang telah kamu perbuat terhadap Yusuf dan saudaranya karena kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu?” [QS. Yusuf: 89]

Orang beriman terkadang mampu menyembunyikan luka dan penderitaan pribadinya, namun ia akan berbicara ketika yang terluka adalah orang-orang yang ia cintai.

Nabi Yusuf 'alaihi as-salam mampu menahan dan menyimpan perasaannya ketika para saudaranya menyakitinya dengan tuduhan pencurian, karena itu adalah penderitaan yang menimpa dirinya sendiri.

Namun, ia membuka rahasia itu ketika para saudara datang dan mengadukan kesusahan hidup; ia pun merasa iba kepada kedua orang tuanya serta kepada mereka, melihat keadaan yang telah menimpa mereka.

Ath-Thabari meriwayatkan dari Ibnu Ishaq, ia berkata,

ذكر لي أنهم لما كلموه بهذا الكلام غلبته نفسه، فارفضَّ دمعه باكيًا، ثم باح لهم بالذي يكتم منهم، فقال: ﴿هل علمتم ما فعلتم بيوسف وأخيه إذ أنتم جاهلون﴾ ؟

"Telah disebutkan kepadaku bahwa ketika mereka berbicara kepadanya dengan perkataan tersebut, Yusuf tidak mampu lagi menahan dirinya; air matanya pun mengalir dan ia menangis.

Setelah itu, ia mengungkapkan kepada mereka apa yang selama ini ia sembunyikan, lalu berkata, “Apakah kalian mengetahui apa yang telah kalian perbuat terhadap Yusuf dan saudaranya, ketika kalian dahulu bertindak karena kebodohan?”" [Tafsir Ath-Thabari]

Ayat di atas disebutkan di akhir kisah dalam surat Yusuf, ketika ia sudah berkuasa dan saudara-saudaranya datang dalam keadaan lemah dan terhimpit, tanpa mengenalinya.

Yusuf 'alaihi as-salam selama ini mampu menahan sakit dan kezaliman yang menimpanya, namun ketika mendengar keluhan tentang penderitaan keluarga dan ayahnya, hatinya luluh.

Ia pun membuka jati diri bukan untuk membalas atau mencela, melainkan untuk menyadarkan, membuka pintu pengakuan dan taubat, serta menutup kisah panjang itu dengan ampunan dan kasih sayang, bukan dendam.

#tadabbur
Пост от 01.02.2026 02:22
1
0
0
5) Implikasi etis dan keilmuan
Teks ini mengandung pelajaran besar bagi etika beragama dan berilmu bahwa kebenaran harus diterima karena ia benar, bukan karena siapa yang menyampaikannya. Fanatisme golongan adalah penghalang utama keadilan ilmiah dan keikhlasan beragama. Kejujuran sejati diuji bukan saat kita berbicara, tetapi saat kita mendengar dan menilai. Dengan demikian, pesan Ibnu Taimiyah bukan sekadar kritik personal, melainkan peringatan metodologis bahwa agama rusak bukan hanya oleh kebohongan yang dibuat-buat, tetapi juga oleh kebenaran yang ditolak karena hawa nafsu.

Kurator: MNIM

#manhaj
Пост от 01.02.2026 02:22
75
0
1
Ibnu Taimiyah rahimahullah menuturkan,

وأنت تجد كثيرًا من المنتسبين إلى علم ودين لا يكذبون فيما يقولونه، بل لا يقولون إلا الصدق، لكن لا يقبلون ما يخبر به غيرهم من الصدق، بل يحملهم الهوى والجهل على تكذيب غيرهم، وإن كان صادقًا، إما تكذيب نظيره، وإما تكذيب من ليس من طائفته، ونفس تكذيب الصادق هو من الكذب؛ ولهذا قرنه الله بالكاذب على الله، فقال: فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَبَ عَلَى اللَّهِ وَكَذَّبَ بِالصِّدْقِ إِذْ جَاءَهُ [الزمر:32] فكلاهما كاذب، هذا كاذب فيما يخبر به عن الله، وهذا كاذب فيما يخبر به عن المخبر عن الله -تبارك وتعالى

“Engkau akan mendapati banyak orang yang menisbatkan diri kepada ilmu dan agama; mereka tidak berdusta dalam apa yang mereka ucapkan, bahkan tidak mengatakan kecuali kebenaran. Akan tetapi, mereka tidak mau menerima kebenaran yang disampaikan oleh orang lain. Hawa nafsu dan kebodohan mendorong mereka untuk mendustakan orang lain, meskipun orang itu benar. Ada kalanya mereka mendustakan orang yang setara dengan mereka, dan ada kalanya mereka mendustakan orang yang bukan dari golongan mereka. Padahal, mendustakan orang yang benar itu sendiri termasuk perbuatan dusta. Karena itulah Allah menyandingkannya dengan orang yang berdusta atas nama Allah, sebagaimana firman-Nya,


فَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَبَ عَلَى اللّٰهِ وَكَذَّبَ بِالصِّدْقِ اِذْ جَاۤءَهٗۗ اَلَيْسَ فِيْ جَهَنَّمَ مَثْوًى لِّلْكٰفِرِيْنَ

“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika kebenaran itu datang kepadanya?” [QS. az-Zumar: 32]

Maka keduanya sama-sama pendusta: yang satu berdusta dalam apa yang ia nisbatkan kepada Allah, sedangkan yang lain berdusta dalam mendustakan orang yang menyampaikan kebenaran tentang Allah, Mahasuci dan Mahatinggi Dia.” [Minhaj As-Sunnah 7/192]

*Penjelasan*
Teks di atas memberikan sejumlah faidah kepada kita.

1) Kebenaran yang diucapkan tidaklah sama dengan sikap yang benar terhadap kebenaran
Ibnu Taimiyah membuka dengan observasi tajam. Banyak orang yang jujur dalam ucapan, mereka menyampaikan hal-hal yang benar, namun gagal bersikap jujur terhadap kebenaran ketika datang dari pihak lain. Ini membedakan dua level penting, yaitu ṣidq al-khabar (benarnya isi pernyataan) dan ṣidq al-mauqif (kejujuran sikap terhadap kebenaran). Seseorang bisa benar dalam berbicara, tetapi tetap tercela karena menolak kebenaran yang tidak datang dari dirinya atau kelompoknya.

2) Akar masalah: hawa nafsu dan kebodohan, bukan kurang dalil
Penolakan terhadap kebenaran, menurut Ibnu Taimiyah, bukan terutama karena kurangnya bukti, melainkan karena hawa nafsu (al-hawā) dan kebodohan (al-jahl). Hawa nafsu melahirkan sikap defensif dan fanatisme; kebodohan menutup kemampuan membedakan antara siapa yang benar dan siapa yang keliru. Akibatnya, seseorang mendustakan yang benar, baik karena rivalitas dengan yang setara, maupun karena sekat golongan dan identitas.

3) Mendustakan orang yang benar adalah bentuk kebohongan
Poin kunci teks ini adalah tesis moral yang tegas bahwa mendustakan orang yang benar termasuk perbuatan dusta. Kebohongan tidak hanya terjadi saat seseorang mengada-adakan berita palsu, tetapi juga ketika ia menolak kebenaran yang nyata. Karena itu, Al-Qur’an menyandingkan dua jenis kebohongan, yaitu berdusta atas nama Allah dan mendustakan kebenaran ketika ia datang. Keduanya sama-sama tercela, meski objek kebohongannya berbeda.

4) Dua wajah kebohongan agama
Ibnu Taimiyah menutup dengan klasifikasi yang tajam bahwa terdapat dua pendusta. Pendusta pertama: berdusta tentang Allah, mengatasnamakan-Nya dengan ajaran atau klaim yang tidak benar. Pendusta kedua: mendustakan orang yang menyampaikan kebenaran tentang Allah. Pendusta yang pertama merusak agama dari sisi isi, yang kedua merusaknya dari sisi penerimaan. Keduanya sama-sama menghalangi sampainya hidayah dan menutup jalan kebenaran bagi diri sendiri dan orang lain.
Пост от 31.01.2026 19:12
79
0
1
Ibnu Taimiyah rahimahullah menuturkan,

وصاحب الهوى يعميه الهوى ويصمُّه، فلا يستحضر ما لله ورسوله في ذلك ولا يطلبه، ولا يرضى لرضا الله ورسوله صلى الله عليه وسلم، ولا يغضب إذا حصل ما يغضب له بهواه، ويكون مع ذلك معه شبهة دين: أنَّ الذي يرضى له ويغضب له أنَّه السُّنَّة، وأنَّه الحق، وهو الدين، فإذا قُدِّر أنَّ الذي معه الحق المحض دين الإسلام، ولم يكن قصده أن يكون الدين كله لله، وأن تكون كلمة الله هي العليا، بل قصد الحميَّة لنفسه وطائفته، أو الرياء، ليُعظَّم هو ويُثنى عليه، أو فعل ذلك شجاعة وطبعاً، أو لغرض من الدنيا: لم يكن لله، ولم يكن مجاهداً في سبيل الله، فكيف إذا كان الذي يدَّعي الحق والسُّنَّة هو كنظيره معه حق وباطل، وسنَّة وبدعة، ومع خصمه حق وباطل، وسنة وبدعة؟!"

“Orang yang dikuasai oleh hawa nafsu akan dibutakan dan ditulikan olehnya. Ia tidak menghadirkan dalam dirinya apa yang menjadi hak Allah dan Rasul-Nya dalam perkara tersebut, dan tidak pula mencarinya. Ia tidak ridha karena keridaan Allah dan Rasul-Nya ﷺ, dan tidak marah (karena Allah dan Rasul-Nya); sebaliknya, ia justru marah ketika terjadi sesuatu yang bertentangan dengan hawa nafsunya. Bersamaan dengan itu, ia memiliki syubhat keagamaan, yaitu anggapan bahwa apa yang ia ridhai dan ia marahi itulah sunnah, itulah kebenaran, dan itulah agama.

Maka sekalipun seseorang berada di atas kebenaran murni, yaitu agama Islam, namun tujuan utamanya bukan agar agama ini seluruhnya ditujukan hanya kepada Allah dan agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, melainkan ia bertujuan membela fanatisme diri dan kelompoknya, atau karena riya’ agar dirinya diagungkan dan dipuji, atau melakukannya semata karena keberanian dan tabiatnya, atau demi kepentingan duniawi, maka (amal itu) tidaklah tulus dilakukan karena Allah dan ia bukanlah seorang mujahid di jalan Allah.

Lalu bagaimana lagi keadaannya jika orang yang mengaku berada di atas kebenaran dan sunnah itu justru seperti lawannya, yang pada dirinya terdapat kebenaran dan kebatilan, sunnah dan bid‘ah; sementara pada pihak lawannya pun terdapat kebenaran dan kebatilan, sunnah dan bid‘ah?!” [Minhaj As-Sunnah 5/256]

*Penjelasan*
Kebenaran isi suatu sikap tidak otomatis menjadikannya bernilai ibadah. Sekalipun berada di atas Islam yang benar, amal menjadi tidak bernilai jika tidak diniatkan untuk Allah, semisal didorong fanatisme, riya’, watak pribadi, keberanian semata, atau kepentingan dunia. Ukurannya bukan kerasnya pembelaan, tetapi orientasinya apakah demi Allah atau demi diri dan kelompok. Ikhlash menuntut agar ridha dan marah mengikuti ridha dan murka Allah, bukan selera pribadi. Agar mudah diterima, pembelaan terhadap sesuatu yang dianggap benar terkadang dibalut alasan keagamaan seperti Ibnu Taimiyah sampaikan; karena jika dilandaskan atas ketidaksukaan personal, keburukan hati akan terpampang jelas.

Dalam banyak perbedaan keagamaan, kebenaran dan kesalahan kerap bercampur pada kedua pihak, ada sunnah dan bid‘ah, ada hak dan batil. Manhaj yang lurus menolak logika hitam-putih dalam kasus seperti ini, ia menuntut penilaian yang proporsional berbasis dalil, menerima kebenaran di mana pun ia berada dan menolak kesalahan tanpa menafikan kebaikan. Di sinilah keilmuan dan keadilan diuji, terutama saat dalil tidak menguntungkan kelompok sendiri.

Teks Ibnu Taimiyah ini juga mengkritik pembenaran hawa nafsu dengan label “sunnah” dan “agama”. Etika perbedaan menuntut kejujuran intelektual dan kelapangan dada sehingga tidak memonopoli kebenaran, tidak menuduh secara serampangan, dan tidak memvonis niat. Mengakui adanya kebenaran pada pihak lain adalah tanda kematangan akhlak, dengan tujuan utama mendekatkan diri pada kebenaran dan menjaga persatuan umat di atas prinsip yang benar.

Kurator: MNIM

#manhaj
Смотреть все посты