Каталог каналов Каналы в закладках Новинка Мои каналы Поиск постов Рекламные посты
Инструменты
Каталог TGAds Мониторинг Детальная статистика Анализ аудитории Бот аналитики
Полезная информация
Инструкция Telemetr Документация к API Чат Telemetr
Полезные сервисы

Не попадитесь на накрученные каналы! Узнайте, не накручивает ли канал просмотры или подписчиков Проверить канал на накрутку
Прикрепить Телеграм-аккаунт Прикрепить Телеграм-аккаунт

Телеграм канал «Belajar Tauhid»

Belajar Tauhid
1.0K
0
32
16
1.1K
Terima kasih telah bergabung dengan Chanel Belajar Tauhid dan semoga materi yang ada bermanfaat bagi kita semua.
.
Link e-Book & e-Paper Belajar Tauhid: http://bit.ly/ebook-gratis-belajartauhid
.
Salam 'alaikum
Подписчики
Всего
3 032
Сегодня
0
Просмотров на пост
Всего
192
ER
Общий
4.44%
Суточный
3.4%
Динамика публикаций
Telemetr - сервис глубокой аналитики
телеграм-каналов
Получите подробную информацию о каждом канале
Отберите самые эффективные каналы для
рекламных размещений, по приросту подписчиков,
ER, количеству просмотров на пост и другим метрикам
Анализируйте рекламные посты
и креативы
Узнайте какие посты лучше сработали,
а какие хуже, даже если их давно удалили
Оценивайте эффективность тематики и контента
Узнайте, какую тематику лучше не рекламировать
на канале, а какая зайдет на ура
Попробовать бесплатно
Показано 7 из 1 008 постов
Смотреть все посты
Пост от 12.04.2026 18:15
77
0
0
*Adab kepada para guru adalah perhiasan penuntut ilmu!*

Syaikh Ahmad ibn Muhammad Baqis menuturkan,

"Saat membaca kitab Tahdzib at-Tahdzib (11/477) karya Al-Hafizh Ibnu Hajar, aku menemukan biografi seorang perawi bernama Muhammad ibn Khalid Al-Wasithi. Dalam biografinya, Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Imam Ibnu Abi Hatim pernah bertanya kepada ayahnya tentang orang tersebut, lalu ayahnya menjawab:

هو على يْدَي عدْل!

“Dia berada di atas dua tangan ‘adl (keadilan)!”

Ibnu Hajar menjelaskan,

معناه قرُبَ من الهلاك، وهذا مثلٌ للعرب

“Maksud ucapan itu adalah ia sudah dekat dengan kebinasaan. Ini adalah ungkapan (peribahasa) orang Arab.”

Lalu Ibnu Hajar menambahkan,

وظنَّ بعضهم أنها من ألفاظ التوثيق فلم يُصبْ!

“Ada sebagian orang yang mengira bahwa ini termasuk ungkapan pujian (tautsiq), namun itu keliru.”

Kalimat Ibnu Hajar ini mungkin akan berlalu begitu saja tanpa kita sadari betapa dalamnya adab dan penghormatan kepada guru yang terkandung di dalamnya.

Sebab yang dimaksud Ibnu Hajar dengan “sebagian orang” di sini adalah gurunya sendiri, seorang ulama besar ahli hadits, yaitu Zainuddin Abu Al-Fadhl Al-‘Iraqi.

Namun Ibnu Hajar tidak menyebut namanya secara langsung, cukup dengan menyatakan bahwa pendapat itu keliru.

As-Sakhawi menukil dari gurunya, Ibnu Hajar, dalam Fath al-Mughits (2/299), bahwa itu memang pendapat Al-‘Iraqi. Ia berkata,

أفاد شيخنا - أي ابن حجر - أن شيخه الشارح - أي الحافظ العراقي - كان يقول في قول أبي حاتم: هو علي يدي عدلٍ = أنها من ألفاظ التوثيق

“Guru kami (Ibnu Hajar) menjelaskan bahwa gurunya, sang pensyarah (yaitu Al-Hafizh Al-‘Iraqi), berpendapat bahwa ucapan Abu Hatim: ‘dia di atas dua tangan ‘adl’ termasuk ungkapan pujian.”

Semoga Allah merahmati Ibnu Hajar. Lihatlah bagaimana beliau menjaga amanah ilmiah sekaligus tetap memelihara adab kepada gurunya.

Sikap seperti ini juga tampak dalam hubungannya dengan guru yang lain, yaitu Al-Hafizh Al-Haitami. As-Sakhawi berkata dalam Al-Jawahir wa ad-Durar [2/1014],

وأما بِرَّه بشيوخه فوراء العقل، حتى أنّه همَّ بتتبع شيخه الحافظ الهيتمي في كتابه " مجمع الزوائد " فبلغه أنََّ الشيخ تأثرَ من ذلك فرجع مراعاة لخاطره

“Adapun kebaikan beliau kepada para gurunya, itu melampaui batas nalar.

Sampai-sampai beliau pernah berniat menelusuri dan mengkritisi karya gurunya, Al-Hafizh Al-Haitami dalam kitab Majma’ az-Zawaid.

Namun ketika sampai kepadanya bahwa sang guru merasa tidak nyaman dengan hal itu, ia pun mengurungkan niatnya demi menjaga perasaan gurunya.”

Namun tidak semua murid seperti itu!

Terkadang Allah menguji seorang ulama dengan murid-murid yang buruk, ketika telah merasa memiliki ilmu yang kuat, mereka justru berani merendahkan gurunya.

Al-Hafizh As-Suyuthi menyebutkan dalam biografi Abu Bakar ibn Ad-Dahhan An-Nahwi [w. 612 H] dalam Bughyat al-Wu’ah (2/274), bahwa sebagian muridnya justru mencelanya. Maka As-Suyuthi pun berkata dengan nada heran dan mengingkari,

هكذا تكون التلمذة؟ يتخرّجون بأشياخهم ثم يهجونهم لا قوة إلا بالله!

“Seperti inikah adab seorang murid? Mereka belajar dari para guru, lalu setelah itu mencela mereka! Laa quwwata illa billah!”

Di antara wasiat para ulama adalah ucapan Al-‘Allamah Abu Muhammad At-Tamimi kepada murid-muridnya,

يقبحُ بكم أن تستفيدوا منا، ثم تذكرونا فلا تترحموا علينا!

“Sungguh buruk bagi kalian, jika kalian mengambil manfaat dari kami, lalu ketika menyebut kami, kalian tidak bersikap welas asih kepada kami.” [Dzail ath-Thabaqat 2/171]

Semoga kita termasuk penuntut ilmu yang menghiasi diri dengan adab."

#nasihat
Пост от 12.04.2026 04:00
114
0
2
Syaikh Abdurrahman ibn Nashir as-Sa'di rahimahullah menuturkan,

"وينبغي لمن دعا ربه في حصول مطلوب ، أو دفع مرهوب، أن لا يقتصر في قصده ونيته في حصول مطلوبه الذي دعا لأجله ، بل يقصد بدعائه التقرب إلى الله بالدعاء وعبادته التي هي أعلى الغايات، فيكون على يقين من نفع دعائه ، وأن الدعاء مخ العبادة وخلاصتها، فإنه يجذب القلب إلى الله ، وتلجئه حاجته للخضوع والتضرع الله الذي هو المقصود الأعظم في العبادة ، ومن كان قصده في دعائه التقرب إلى الله بالدعاء ، وحصول مطلوبه ، فهو أكمل بكثير ممن لا يقصد إلا حصول مطلوبه فقط ، كحال أكثر الناس ، فإن هذا نقص وحرمان لهذا الفضل العظيم ، ولمثل هذا فليتنافس المتنافسون.

وهذا من ثمرات العلم النافع ، فإن الجهل منع الخلق الكثير من مقاصد جليلة ووسائل جميلة لو عرفوها لقصدوها ، ولو شعروا بها لتوسلوا إليها . والله الموفق

"Ketika seseorang berdo'a, memohon sesuatu atau ingin terhindar dari keburukan, jangan sampai niatnya hanya berhenti pada apa yang ia minta.

Lebih dari itu, hendaknya ia menjadikan do'a sebagai jalan untuk mendekat kepada Allah. Karena do'a itu sendiri adalah ibadah yang sangat agung, bahkan inti dari ibadah.

Saat seseorang berdo'a dengan kesadaran ini, hatinya akan tertarik kepada Allah, merasa butuh, tunduk, dan berserah kepada-Nya. Di situlah letak tujuan terbesar dari ibadah.

Orang yang dalam do'anya menggabungkan dua hal: mendekat kepada Allah dan mengharap terkabulnya hajat, itu jauh lebih sempurna dibandingkan orang yang hanya fokus pada keinginannya saja.

Sayangnya, kebanyakan manusia hanya berhenti pada permintaan, sehingga tidak merasakan kelezatan dan keutamaan besar dalam do'a.

Padahal, inilah ladang perlombaan yang sesungguhnya.

Semua ini adalah buah dari ilmu, karena ketidaktahuan sering membuat manusia kehilangan tujuan-tujuan mulia, yang seandainya mereka tahu, pasti akan mereka kejar dengan sepenuh hati.

Semoga Allah memberi kita taufik." [Al-Fatawa As-Sa'diyah hal. 15]

#nasihat
#doa
2
Пост от 11.04.2026 17:50
126
0
2
Temans, kebersihan hati bukan sekadar perasaan, bukan pula penilaian manusia. Ia adalah konsep dalam agama, yang ukurannya jelas: keimanan.

Hati yang paling bersih adalah hati yang paling tinggi imannya. Dan iman dalam ajaran Ahlu as-Sunnah bukan hanya ucapan, tapi juga amal, amal hati, lisan, dan perbuatan.

Shalat, puasa, berbakti kepada orang tua, dan seluruh amal kebaikan, semuanya berawal dari hati, yaitu hati yang membenarkan, mencintai, lalu menggerakkan tubuh untuk melaksanakannya.

Maka jangan salah paham…orang yang tidak shalat, meskipun terlihat lembut, baik, dan tidak iri, bukan berarti hatinya bersih.

Sebab, ukuran kebersihan hati bukan sekadar akhlak lahiriah, tapi ketaatan kepada Allah.

Semakin kuat seseorang menjalankan rukun Islam dan iman, menjauhi dosa besar dan kecil, maka semakin bersih, terang, dan baik hatinya, dan semakin dekat ia kepada kebahagiaan surga.

Sebaliknya, setiap dosa akan mengotori hati. Semakin besar dosanya, semakin gelap hatinya.

Dan yang paling menghitamkan hati adalah syirik, kekufuran, serta meninggalkan kewajiban-kewajiban besar seperti shalat, zakat, puasa, dan haji, disusul dosa-dosa besar lainnya.

Pada akhirnya, yang selamat adalah mereka yang kebaikannya lebih berat daripada dosanya, yang cahaya hatinya mengalahkan kegelapannya.

Temans, maka jangan tertipu oleh standar manusia…karena ukuran kebersihan hati bukan menurut perasaan, tapi menurut keimanan dan ketaatan.

Wallahu a'lam.

#nasihat
#tauhid
😢 1
Пост от 11.04.2026 17:32
125
0
3
Temans, terkadang kita melihat seseorang diuji dalam keluarganya, lalu buru-buru menyebutnya lemah. Padahal, bisa jadi di hadapan Allah ia sedang berdiri teguh dan bersabar seperti Nabi Nuh alaihi as-salam, tetap berlayar dalam ketaatan meski rumahnya diterpa badai penolakan.

Kadang pula, ketika seseorang dijauhi orang lain, kita mudah menilainya sebagai orang yang tersisih. Padahal, mungkin justru dialah yang melihat kebenaran, seperti Nabi Ibrahim 'alaihi as-salam yang tetap teguh seorang diri di tengah kaumnya.

Jangan tertipu oleh apa yang tampak di permukaan!

Nabi Yusuf 'alaihi as-salam pernah mendekam di penjara karena kezaliman manusia, namun Allah mengangkatnya dengan kemuliaan. Ia sudah mulia sejak dalam sempitnya penjara, sebelum duduk di singgasana.

Ingatlah…ucapan manusia bukanlah wahyu, dan penilaian mereka bukanlah takdir. Bahkan Nabi Muhammad ﷺ, manusia paling suci, tetap menjadi sasaran celaan.

Maka temans jagalah dan tahanlah diri kita…

Jangan biarkan mata kita merendahkan orang lain,

Jangan biarkan lisan kita sibuk mengunyah kesalahan mereka,

Jangan biarkan jari kita sibuk menyerang mereka...

Tutuplah pintu ejekan dan bukalah jendela kasih sayang.

Sebab suatu hari nanti, semua akan dibalik dan yang tersisa hanyalah mereka yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.

Ingatlah hari ketika segala yang tersembunyi akan tersingkap!

Allah ta'ala berfirman,

يَوْمَ تُبْلَى ٱلسَّرَآئِرُ

"Pada hari itu dinampakkan segala rahasia..." [QS. Ath-Thariq: 9]

#nasihat
#tadabbur
😢 1
Пост от 09.04.2026 12:00
211
0
3
E-Book Gratis dari Belajar Tauhid:
https://bit.ly/Fikih_Usia_Senja
Изображение
Пост от 06.04.2026 11:53
314
0
2
Temans, syirik tidak hanya berbentuk meyakini adanya pencipta selain Allah. Kaum musyrik dahulu pun mengakui Allah sebagai Pencipta dan Pengatur, tetapi mereka tetap disebut musyrik karena memalingkan doa, nazar, sembelihan, dan bentuk ibadah lainnya kepada selain-Nya. Karena itu, tauhid yang benar bukan hanya mengesakan Allah dalam rububiyah, tetapi juga memurnikan seluruh ibadah hanya untuk Allah semata.

Temans, menjadikan orang mati, wali, kubur, pohon, atau benda tertentu sebagai perantara untuk mencari berkah, pertolongan, atau kedekatan kepada Allah juga merupakan jalan yang sangat mirip dengan praktik jahiliah. Nabi ﷺ bahkan telah memperingatkan umatnya agar tidak meniru sarana-sarana yang dapat menyeret kepada syirik, meskipun pada awalnya hanya tampak sebagai bentuk penghormatan atau tabarruk.

Temans, bahaya terbesar terletak pada berpalingnya hati dari Allah kepada makhluk, lalu membenarkannya dengan alasan “sekadar wasilah”. Padahal ajaran para rasul seluruhnya dibangun di atas satu dasar: mengesakan Allah dalam ibadah dan menolak segala bentuk penghambaan kepada selain-Nya.

Semoga Allah menjaga kita di atas tauhid yang murni dan menjauhkan kita dari segala jalan yang mengantarkan kepada syirik.

#tauhid
#nasihat
Пост от 04.04.2026 09:08
264
0
2
Di antara adab indah dalam berdebat, terutama ketika lawan bicara telah jatuh pada sikap keras kepala dan kesombongan, adalah apa yang disampaikan oleh Ibnu al-Qayyim,

وقد تكون الحجة بمعنى المخاصمة، ومنه قوله تعالى: {..لا حجة بيننا وبينكم} أي: قد وضح الحق واستبان وظهر، فلا خصومة بيننا بعد ظهوره ولا مجادلة؛ فإن الجدال شريعة موضوعة للتعاون على إظهار الحق، فإذا ظهر الحق ولم يبق به خفاء فلا فائدة في الخصومة والجدال على بصيرة، فإن مخاصمة المتكبر ومجادلته عناء لا غناء فيه

“Kadang ‘hujjah’ (argumen) juga bermakna perdebatan dan perselisihan. Makna ini ditunjukkan di antaranya dalam firman Allah Ta‘ala:

لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ

"…tidak ada lagi hujjah (perdebatan) antara kami dan kalian..."

Artinya adalah kebenaran telah jelas, telah nyata, dan telah tampak. Maka tidak ada lagi perselisihan dan tidak ada lagi perdebatan setelah kebenaran itu tersingkap.

Sesungguhnya perdebatan itu disyari'atkan sebagai sarana untuk saling bekerja sama dalam menampakkan kebenaran.

Maka apabila kebenaran telah nyata dan tidak tersisa lagi keraguan padanya, tidak ada lagi faedah dalam pertengkaran dan perdebatan, meski dengan dalil yang jelas. Sebab mendebat dan membantah orang yang sombong hanyalah keletihan yang tidak membuahkan hasil.”

#tadabbur
#tafsir
Смотреть все посты