Temans, keimanan bukan sekadar kata yang diucapkan, bukan pula klaim yang diumumkan, dan bukan hanya perasaan tenang yang hadir saat hidup sedang lapang.
Keimanan adalah kenyataan yang hidup, yang maknanya tidak akan benar-benar terbukti kecuali ketika ia diletakkan di timbangan ujian.
Boleh jadi kita pernah berkata, “Aku beriman” dan merasa telah mencapai hakikat keimanan itu , sampai Allah mengizinkan datangnya ujian.
Saat itulah, bumi seakan berguncang di bawah kakinya, jalan-jalan terasa menyempit, dan niat-niat pun tersingkap.
Di sanalah, di persimpangan antara rasa sakit dan ujian, hakikat keimanan tampak jelas: apakah ia keteguhan atau justru kemunduran, tawakkal atau kepanikan, keridhaan atau keluh kesah, kenyataan atau sekadar pengakuan.
Musibah tidak menciptakan keimanan, tetapi menyingkapkannya.
Ujian tidak melahirkan keyakinan, namun memisahkannya dari klaim yang kosong.
Dalam cobaan, hati-hati disaring: yang tulus tetap tulus, yang ragu akan mengenal batas dirinya, dan yang terlalu percaya pada dirinya sendiri kembali ke pintu Rabb-nya dengan hati yang hancur dan tunduk.
Maka jika kita sedang ditimpa cobaan, ketahuilah: bisa jadi kita sedang berada dalam pandangan Allah, bukan semata-mata dalam hukuman.
Mungkin Allah ingin memperlihatkan kepada kita apa yang sebenarnya ada di hati, atau ingin mengangkat kita ke derajat orang-orang yang sabar, atau membersihkan kita dari ilusi yang selama ini kita kira sebagai keimanan.
Allah ta'ala berfirman,
اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ
"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?" [QS. Al-‘Ankabut: 2]
#tadabbur