Каталог каналов Каналы в закладках Мои каналы Поиск постов Рекламные посты
Инструменты
Каталог TGAds beta Мониторинг Детальная статистика Анализ аудитории Бот аналитики
Полезная информация
Инструкция Telemetr Документация к API Чат Telemetr
Полезные сервисы

Не попадитесь на накрученные каналы! Узнайте, не накручивает ли канал просмотры или подписчиков Проверить канал на накрутку
Прикрепить Телеграм-аккаунт Прикрепить Телеграм-аккаунт

Телеграм канал «Belajar Tauhid»

Belajar Tauhid
791
0
32
16
904
Terima kasih telah bergabung dengan Chanel Belajar Tauhid dan semoga materi yang ada bermanfaat bagi kita semua.
.
Link e-Book & e-Paper Belajar Tauhid: http://bit.ly/ebook-gratis-belajartauhid
.
Salam 'alaikum
Подписчики
Всего
3 229
Сегодня
-5
Просмотров на пост
Всего
177
ER
Общий
5.32%
Суточный
3.4%
Динамика публикаций
Telemetr - сервис глубокой аналитики
телеграм-каналов
Получите подробную информацию о каждом канале
Отберите самые эффективные каналы для
рекламных размещений, по приросту подписчиков,
ER, количеству просмотров на пост и другим метрикам
Анализируйте рекламные посты
и креативы
Узнайте какие посты лучше сработали,
а какие хуже, даже если их давно удалили
Оценивайте эффективность тематики и контента
Узнайте, какую тематику лучше не рекламировать
на канале, а какая зайдет на ура
Попробовать бесплатно
Показано 7 из 791 поста
Смотреть все посты
Пост от 28.02.2026 02:57
92
0
4
Di antara keindahan tafsir Ibnu ‘Asyur adalah ketika menjelaskan firman Allah,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ

_“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda garau, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak.”_ [QS. Al-Hadid: 20]

Beliau menjelaskan tahapan perhatian manusia dalam perjalanan usia yang dapat disimpulkan dari ayat ini adalah:

وقد ذكر هنا من شئون الحياة ما هو الغالب على الناس وما لا يخلو من مفارقة تضييع الغايات الشريفة أو اقتحام مساو ذميمة، وهي أصول أحوال المجتمع في الحياة، وهي أيضا أصول أطوار آحاد الناس في تطور كل واحد منهم، فإن اللعب طور سن الطفولة والصبا، واللهو طور الشباب، والزينة طور الفتوة، والتفاخر طور الكهولة، والتكاثر طور الشيخوخة

“Dalam ayat ini disebutkan berbagai keadaan kehidupan yang umumnya mendominasi manusia; dan hampir tidak lepas dari kemungkinan menyia-nyiakan tujuan-tujuan mulia atau terjerumus pada keburukan yang tercela.

Itulah keadaan pokok dari masyarakat dalam kehidupan. Ia juga merupakan tahapan pokok yang dilalui setiap individu dalam proses perkembangannya.

Permainan adalah fase masa kanak-kanak dan awal remaja.

Senda gurau adalah fase masa muda.

Perhiasan adalah fase masa dewasa awal.

Saling berbangga adalah fase usia matang.

Dan berlomba-lomba (dalam harta dan anak) adalah fase usia tua.”

Beliau menerangkan bahwa ayat ini bukan sekadar menyebutkan sifat dunia, tetapi juga menggambarkan tahapan perhatian manusia sepanjang usianya.

Apa yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah hal-hal yang umumnya mendominasi kehidupan manusia dan hampir tak lepas dari potensi menyia-nyiakan tujuan mulia atau terjerumus pada sisi-sisi tercela.

Itulah gambaran besar kondisi masyarakat dalam kehidupan, sekaligus gambaran fase demi fase yang dilalui setiap individu dalam pertumbuhannya.

Seakan-akan ayat ini merangkum perjalanan hidup manusia dari kecil hingga tua, menggambarkan bagaimana orientasi duniawi berubah bentuk, namun hakikatnya tetap sama, yaitu kesibukan yang bisa melalaikan dari tujuan yang lebih tinggi, jika tidak diarahkan dengan benar.

Semoga Allah membimbing dan mengampuni kita semua.

#tafsir
#tadabbur
Пост от 27.02.2026 13:19
125
0
4
*Rapuh*

Kata الهلع disebutkan dalam Al-Qur’an satu kali, yaitu dalam firman Allah:

اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًاۙ

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat hala‘ (gelisah/rapuh).” [QS. Al-Ma'arij: 19]

Ketika merangkum pendapat para ulama salaf tentang makna al-hala', Ath-Thabari menjelaskan,

شدّة الجَزَع مع شدّة الحرص والضجر

"Al-Hala‘ adalah sangat mudah cemas (panik) disertai sikap sangat rakus dan mudah mengeluh."

Ibnu ‘Asyur menyebutkan bahwa kata al-hala termasuk kosa kata yang maknanya cukup rumit dalam bahasa Arab.

Dalam penjelasan yang panjang, beliau menyimpulkan,

والَّذِي اسْتَخْلَصْتُهُ مِن تَتَبُّعِ اسْتِعْمالاتِ كَلِمَةِ الهَلَعِ أنَّ الهَلَعَ قِلَّةُ إمْساكِ النَّفْسِ عِنْدَ اعْتِراءِ ما يُحْزِنُها أوْ ما يَسُرُّها أوْ عِنْدَ تَوَقُّعِ ذَلِكَ والإشْفاقِ مِنهُ. وأمّا الجَزَعُ فَمِن آثارِ الهَلَعِ، وقَدْ فَسَّرَ بَعْضُ أهْلِ اللُّغَةِ الهَلَعَ بِالشَّرَهِ، وبَعْضُهم بِالضَّجَرِ، وبَعْضُهم بِالشُّحِّ، وبَعْضُهم بِالجُوعِ، وبَعْضُهم بِالجُبْنِ عِنْدَ اللِّقاءِ. وما ذَكَرْناهُ في ضَبْطِهِ يَجْمَعُ هَذِهِ المَعانِيَ ويُرِيكَ أنَّها آثارٌ لِصِفَةِ الهَلَعِ

“Dari penelusuran terhadap berbagai penggunaan kata al-hala‘, yang dapat saya simpulkan adalah bahwa al-hala‘ berarti lemahnya kemampuan jiwa untuk menahan diri ketika tertimpa sesuatu yang menyedihkan, atau sesuatu yang menyenangkan, atau bahkan saat ia membayangkan dan mengkhawatirkannya.

Adapun al-jaza‘ (kepanikan/keluh kesah) adalah salah satu dampak dari al-hala‘.

Sebagian ahli bahasa menafsirkan al-hala‘ dengan kerakusan, sebagian yang lain dengan mudah mengeluh, sebagian yang lain dengan kikir, sebagian yang lain dengan rasa lapar, dan sebagian lagi dengan sifat pengecut ketika berhadapan dengan musuh. Namun, definisi yang kami sebutkan mencakup seluruh makna itu dan menunjukkan bahwa semua pemaknaan itu hanyalah dampak dari sifat al-hala‘.”

Dari penjelasan Ibnu ‘Asyur ini dapat dipahami bahwa al-hala‘ adalah kelemahan daya tahan jiwa manusia dalam menghadapi tekanan dan rasa sakit, serta kepekaan berlebihan yang membuatnya rapuh ketika sebab-sebab itu datang.

Hal ini merupakan cabang dari kelemahan dasar manusia dalam penciptaannya. Maka al-hala‘ adalah kerapuhan dalam hati, keteguhan batin yang runtuh, dan kekosongan ruh.

Allah pun menyebutkan sebab-sebab untuk mengobati al-hala‘. Obat yang paling agung dan utama adalah shalat dengan menjaganya secara terus-menerus, memelihara syarat, rukun, dan waktunya.

Di antara obatnya adalah bersedekah, mengingat akhirat, menjaga kehormatan diri, menunaikan amanah, dan menegakkan kesaksian dengan benar.

Setiap orang yang menyempurnakan hal-hal itu, niscaya akan sempurna pula kekuatannya, dan hilanglah sifat al-hala‘ dari dirinya bi idznillah.

#tafsir
#tadabbur
3
Пост от 24.02.2026 17:53
214
0
4
Temans, Allah niscaya akan membukakan pintu rezeki yang halal bagi seorang hamba setelah ia melewati tiga ujian:

*Pertama:* sempitnya rezeki meskipun ia sudah berusaha keras. Agar ia menyadari bahwa dirinya tidak memiliki kuasa apa pun atas urusan hidupnya.

*Kedua:* mengalami kekecewaan, bahkan merasa ditinggalkan atau tidak dibela, justru dari orang atau tempat yang selama ini paling ia andalkan, ia percayai, dan ia jadikan sebagai sandaran serta sumber rasa aman. Agar ia menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang memiliki kuasa sedikit pun selain Allah.

*Ketiga:* ia mampu menerima ketika Allah memberi rezeki kepada orang lain lebih banyak darinya, meskipun orang itu secara kemampuan terlihat lebih rendah darinya. Agar ia menyadari bahwa hilangnya nikmat orang lain tidak akan menambah apa pun bagi dirinya, dan bahwa jiwa perlu dididik untuk menerima hikmah Allah.

Apabila ia telah benar-benar memahami bahwa dirinya sendiri, bahkan atas diri dan anggota tubuhnya, tidak memiliki kuasa, dan bahwa orang lain pun tidak memiliki kuasa apa pun, maka niscaya Allah akan membukakan jalan baginya.

Allah Ta‘ala berfirman,

يَقُوْلُوْنَ هَلْ لَّنَا مِنَ الْاَمْرِ مِنْ شَيْءٍۗ قُلْ اِنَّ الْاَمْرَ كُلَّهٗ لِلّٰهِۗ

_“Mereka berkata: Apakah kami memiliki sedikit saja campur tangan dalam urusan ini? Katakanlah: Sesungguhnya seluruh urusan itu milik Allah.”_ [QS. Ali ‘Imran: 154]

#tadabbur
1
Пост от 24.02.2026 07:45
224
0
3
Ibnu Rajab Al-Hanbali menuturkan,

الجمع بين الصيام والصدقة أبلغ في تكفير الخطايا، واتقاء جهنم، والمباعدة عنها، وخصوصا إن ضم إلى ذلك قيام الليل

"Memadukan berpuasa dan bersedekah lebih kuat pengaruhnya dalam menghapus dosa, lebih efektif sebagai pelindung dari api neraka dan sebagai sebab untuk menjauh darinya. Terlebih lagi jika keduanya disertai dengan qiyamul lail (shalat malam).” [Latha’if Al-Ma’arif hlm. 312]

#nasihat
Пост от 23.02.2026 17:22
237
0
3
Dalam Shahih Muslim, dari Abdullah bin Syaqiq, ia berkata, "Aku bertanya kepada Aisyah,

هَلْ كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُصَلِّي وَهُوَ قَاعِدٌ؟

_“Apakah Nabi ﷺ pernah shalat sambil duduk?”_

Beliau menjawab,

نَعَمْ. بَعْدَ مَا حَطَمَهُ النَّاسُ

_“Ya, setelah manusia membuat beliau lelah.”_ [HR. Muslim]

Para ulama yang menjelaskan hadits ini berkata, "Dalam bahasa Arab dikatakan,

حطم فلانا أهلُه، إذا كبر فيهم كأنه لما حمله من أَثّقَالِهِمْ صيروه شيخًا محطومًا

“Keluarganya telah ‘menghancurkan fulan (hathamahu an-naasa ahluhu). Maksudnya ketika seseorang menjadi tua di tengah mereka, seakan-akan karena memikul beban-beban mereka, ia menjadi seorang yang telah “dihancurkan” oleh beratnya tanggungan."

Hal ini berarti manusia telah membuat Rasulullah ﷺ letih dengan memikul kegelisahan mereka, kesulitan mereka, masalah mereka, kebutuhan mereka, urusan mereka, sehingga beliau shalat dalam keadaan duduk karena kelemahan fisik.

'Aisyah tidak mengatakan bahwa yang membuat beliau lelah adalah shalat, padahal beliau ﷺ berdiri melakukan shalat malam hingga kedua telapak kakinya pecah-pecah.

'Aisyah juga tidak mengatakan bahwa yang melelahkan Rasulullah adalah banyaknya puasa, padahal beliau ﷺ berpuasa sampai dikatakan seakan-akan beliau tidak pernah berbuka.

'Aisyah pun tidak mengatakan bahwa yang membuat beliau letih adalah peperangan dan jihad, padahal panjang perjuangan beliau dalam kedua hal tersebut.

Namun, 'Aisyah berkata manusia yang membuat beliau lelah.

Temans, sebagian kita merasa heran ketika Allah menyebarkan pujian yang baik bagi orang-orang yang mengabdikan diri untuk berkhidmat pada manusia.

Mereka tidak menyadari penderitaan orang yang berdiri melayani kebutuhan dan urusan mereka, bagaimana tubuhnya menjadi letih, ruhnya terkuras, hatinya terbebani oleh keluhan manusia, desakan mereka, menjaga perasaan mereka, serta menghadapi perbedaan pemikiran, usia, dan kebutuhan mereka.

Temans, seseorang bisa “hancur” hanya oleh beban satu rumah tangga. Lalu bagaimana dengan orang yang memikul beban puluhan rumah kaum muslimin?

Maka, berbahagialah anda wahai orang yang bersabar, yang memperlakukan manusia dengan akhlak yang baik, dan mengharap dengan itu meperoleh nikmat menatap Wajah Allah kelak di surga.

#nasihat
Пост от 16.02.2026 17:41
191
0
1
Allah ta'ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." [QS. Al-Baqarah: 183]

Allah juga berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًاۗ عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يُّكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۙ

"Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai." [QS. At-Tahrim: 8]

Dalam firman Allah tentang puasa, “la‘allakum tattaqun” (QS. Al-Baqarah: 183), dan tentang taubat, “‘asa rabbukum an yukaffira ‘ankum sayyiatikum” (QS. At-Tahrim: 8), Allah menggunakan ungkapan yang bernuansa harapan, yaiti la‘alla dan ‘asa.

Secara bahasa, la‘alla bisa berarti “agar” sekaligus mengandung makna “semoga” atau “mudah-mudahan”.

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa dalam ayat puasa maknanya adalah puasa disyariatkan agar kalian bertakwa. Namun Allah tidak mengatakan, “kalian pasti bertakwa.”

Demikian pula dalam ayat taubat, Allah tidak langsung menyatakan kepastian, tetapi menggunakan kata yang menunjukkan harapan akan ampunan dan surga.

Di sini ada pesan tersirat bahwa amal shalih bukanlah jaminan otomatis. Puasa membuka jalan menuju takwa, taubat membuka jalan menuju ampunan, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam keputusan Allah. Bukan pada rasa puas kita, bukan pada lamanya ibadah kita, bukan pada penilaian manusia.

Itulah mengapa orang beriman hendaknya beramal dengan sungguh-sungguh, namun tetap bersikap rendah hati, berharap diterima dan takut amalnya ditolak.

Ia tidak merasa pasti selamat, karena semuanya tetap berada dalam satu ruang yang Allah ajarkan melalui kata-kata di atas, yaitu harapan yang menggantungkan diri sepenuhnya kepada-Nya.

#tadabbur
2
Пост от 13.02.2026 19:32
319
0
5
كلُّ نعمةٍ مزوَّجةٌ بمِحنةٍ، وكلُّ مِحنةٍ مزوَّجةٌ بنعمةٍ؛ لئلا يُسْكَن إلى نعمةٍ، ولا يُسْتَوْحَشْ من مِحنة

_“Setiap nikmat selalu berdampingan dengan ujian, dan setiap ujian pun selalu disertai nikmat; agar manusia tidak terlena oleh kenikmatan, dan tidak pula merasa putus asa atau kesepian saat tertimpa ujian.”_ [Abu Bakar al-Wasithi]

#petuahsalaf
2
Смотреть все посты